Resolusi 2021: Menuju Perubahan Hakiki

Pergantian tahun dan pemimpin tidak membawa perubahan yang berarti bagi negeri ini. Selama sistem yang dianut oleh negeri ini masih berasaskan sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, maka kerusakan akan terus terjadi. Bukan hanya kerusakan dalam tatanan masyarakat saja, tapi juga dalam tatanan negara


Oleh. Rosmita
(Aktivis Dakwah dan Member AMK)

NarasiPost.Com-Memasuki penghujung tahun 2020, saatnya kita intropeksi diri akankah pergantian tahun ini membawa kita menuju perubahan hakiki. Perubahan yang menyeluruh tidak hanya bersifat individual saja, tapi juga meliputi seluruh umat.

Rangkaian peristiwa yang terjadi pada tahun 2020 seharusnya membuka mata dan hati kita untuk melihat bagaimana kerusakan demi kerusakan terjadi akibat ulah perbuatan manusia.

Sebagaimana firman Allah Swt.:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(TQS. Ar-Ruum: 41)

Bencana alam bertubi-tubi menimpa negeri ini selama tahun 2020. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 2.677 bencana alam terjadi sejak awal tahun hingga November 2020. Bencana tersebut berupa banjir, puting beliung, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, gelombang pasang dan abrasi, dan erupsi gunung api. (katadata.co.id, 3/12/2020)

Ditambah lagi dengan wabah virus corona yang melanda negeri ini telah banyak menelan korban jiwa. Sejak muncul kasus pertama awal Maret 2020 lalu hingga akhir Desember terus meningkat hingga 650.000 kasus. Selain berdampak pada kesehatan, pandemi juga memberikan dampak negatif terhadap perekonomian di negeri ini. Ribuan perusahaan tutup, jutaan orang kehilangan pekerjaan hingga negara pun mengalami resesi ekonomi.

Akibatnya jumlah pengangguran semakin bertambah, sehingga banyak orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Keadaan ini semakin diperparah dengan adanya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat, seperti kenaikan iuran BPJS kesehatan, kenaikan tarif dasar listrik, Pengesahan UU Omnibus law dan lain-lain.

Selain itu kerusakan moral masyarakat juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas dan pergaulan bebas. Generasi yang diharapkan menjadi agen perubahan justru banyak melakukan kerusakan. Lalu mau jadi apa negeri ini nantinya?

Pergantian tahun dan pemimpin tidak membawa perubahan yang berarti bagi negeri ini. Selama sistem yang dianut oleh negeri ini masih berasaskan sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, maka kerusakan akan terus terjadi. Bukan hanya kerusakan dalam tatanan masyarakat saja, tapi juga dalam tatanan negara.

Seperti korupsi yang terus menggurita di negeri ini, sumber daya alam yang terus dikuasai oleh asing, hingga utang negara yang terus meningkat. Semua ini membuat negara semakin terpuruk dan sulit untuk bangkit.

Kemudian sistem ini pula yang menyebabkan hilangnya keadilan di negeri ini. Hukum menjadi tajam ke bawah tumpul ke atas atau tajam ke lawan tumpul ke kawan. Seperti kita ketahui bagaimana kriminalisasi yang dilakukan rezim terhadap para ulama dan aktivis dakwah yang kritis terhadap pemerintah. Sementara terhadap orang-orang yang pro terhadap pemerintah, mereka bersikap lunak.

Masih banyak lagi kerusakan di negeri ini, umat pasti dapat menginderanya, bahwa kerusakan sudah parah di semua lini kehidupan. Akan semakin parah apabila sistem ini terus dipertahankan.

Solusi satu-satunya untuk menyelamatkan negeri dan generasi dari kehancuran adalah dengan menerapkan sistem Islam. Sistem yang diturunkan oleh Sang Pencipta sudah pasti akan membawa kemaslahatan untuk manusia.

Islam sebagai agama yang paripurna tidak hanya mengatur urusan ibadah saja, tetapi juga mengatur seluruh urusan manusia. Dari mulai muamalah, ekonomi, politik dan sebagainya. Apabila aturan Islam diterapkan secara keseluruhan akan membawa kemaslahatan dan keberkahan.

Terbukti lebih dari 13 abad lamanya, Islam berjaya memimpin 2/3 dunia dengan aturannya. Seluruh umat Islam maupun non-Islam yang hidup di bawah naungannya hidup sejahtera. Maka tidak ada jalan lain menuju perubahan hakiki, selain dengan menerapkan syariat Islam secara kafah dalam naungan khilafah.
Wallahu a'lam bishshawwab[]


Photo : Google Scourse
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Digital Event Nasional Refleksi Akhir Tahun (RATU) diikuti oleh Ribuan Muslimah Seindonesia.
Next
Genderang Kematian Demokrasi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram