Mengelola Potensi Bonus Demografi dengan Sistem Ilahi

Dari sini, tampak bahwa sistem kapitalis-sekularis tidak akan pernah bisa mengelola potensi bonus demografi. Sistem yang telah nyata rusak dan merusak sejak awal terbentuknya ini, begitu banyak memandulkan potensi pemuda.


Oleh: Rindoe Arrayah

NarasiPost.Com — Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030-2035, dengan puncaknya di tahun 2030. Pada tahun 2030, diperkirakan bahwa 64% total populasi Indonesia merupakan penduduk usia produktif. Angka 64% dari 200 juta penduduk bukanlah angka yang kecil.

Dilansir dari liputan6.com (28/11/2020), Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah dalam diskusi virtual menyampaikan bahwa satu dekade ke depan akan menjadi penentu untuk bisa memanfaatkan peluang besar terkait dengan bonus demografi. Bonus demografi ialah kenaikan jumlah populasi produktif di suatu wilayah. Penduduk usia produktif berada di rentang usia 15-64 tahun. Sebuah kondisi yang sangat bagus tentunya.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan hingga saat ini adalah apakah negara bisa mengelola bonus demografi ini dengan sebaik-baiknya? Ataukah justru sebaliknya?

Fakta kondisi para pemuda di negeri ini yang mengkhawatirkan, bisa saja menjadi bencana demografi. Sebab, pemuda itu aset bangsa. Jika salah kelola, akan menjadi malapetaka. Dan mereka akan menjadi sampah peradaban.

Kapitalisme-sekularisme yang dijadikan sebagai sistem kehidupan di hampir seluruh negara di dunia, khususnya Indonesia telah merusak peran pemuda sebagai agent of change (agen perubah). Potensi mereka seolah dikebiri dengan mengalihkannya pada banyaknya aktifitas yang sia-sia. Berbagai potret buram senantiasa menghiasi kehidupan mereka. Sangat disayangkan, negara tampak abai dengan segala problematika yang menghinggapi kehidupan para pemudanya.

Pergaulan bebas sudah menjadi hal yang biasa. Belum lagi, gaya hidup yang melenakan semakin mewujudkan ketidakberdayaan mereka. Tidak cukup sampai di situ saja, peran pemuda pun hanya diukur berdasarkan sisi ekonomi semata.

Pemuda yang sukses adalah sosok yang menghasilkan banyak uang tanpa dilihat kejelasan halal dan haramnya aktifitas yang dilakukan. Kerusakan moral yang kian hari kian menyesakkan dada, seolah semakin menyempurnakan suramnya masa depan mereka. Fakta seperti inilah yang seharusnya dikhawatirkan. Bagaimanapun juga, pemuda adalah penerus keberlangsungan suatu bangsa.

Dari sini, tampak bahwa sistem kapitalis-sekularis tidak akan pernah bisa mengelola potensi bonus demografi. Sistem yang telah nyata rusak dan merusak sejak awal terbentuknya ini, begitu banyak memandulkan potensi pemuda.

Suatu hal yang berbeda pernah disajikan oleh risalah Islam sebagai sistem Ilahi. Pernah menghadirkan peradaban tertinggi di muka bumi. Terbukti, kejayaan Islam selama tiga belas abad lamanya dipelopori pemuda-pemuda tangguh. Kehidupan Rasulullah SAW juga dikelilingi para pemuda yang teguh dalam memegang keimanan, serta tangguh dalam mendakwahkan Islam.

Dalam rentang waktu yang cukup lama di masa jayanya, peradaban Islam telah melahirkan dan mencetak pemuda dengan berbagai potensi yang dimiliki. Tanpa harus meminggirkan keimanan sebagai pondasi dalam mengarungi kehidupan ini. Mengapa bisa demikian?

Kurikululum sistem pendidikan yang diterapkan oleh sistem Islam adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang bersyakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam). Sehingga, tak ayal jika mereka terselimuti dengan suasana Islami. Jika melihat ke belakang, akan ditemui deretan nama pemuda yang sangat masyhur dengan berbagai prestasi tak tertandingi. Semisal, Muhammad Al-Fatih, Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, serta masih banyak lagi para pemuda yang tak terukur ketangguhannya berperan demi kejayaan Islam.

Telah nyata adanya, sistem kapitalis-sekularis selamanya tidak akan pernah bisa mengantarkan pemuda menjadi sosok yang pilih tanding. Hanya sistem Ilahi yang bisa mengelola potensi bonus demografi tanpa mengebiri peran pemuda sama sekali.

Saatnya untuk tetap istiqomah dalam garis perjuangan, agar syariat Islam segera terterapkan dalam naungan kekhilafahan. Sehingga, segala problematika yang ada bisa terpecahkan secara sempurna, tak terkecuali dalam mengelola potensi bonus demografi. Mari selamatkan generasi dengan sistem Ilahi. Wallahu a’alam bishshowab []

Pictures by google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Ekspor Rawan Suap
Next
Tak Sebanding Jiwa
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram