Gelombang Kesadaraan Umat Mematikan Hegomoni Barat

Sejatinya, ketika masyarakat melakukan kritik terhadap penguasa, bukan berarti mereka telah melakukan makar. Masyarakat hanya ingin agar negeri ini berjalan sesuai dengan koridor syar'i. Masyarakat hanya ingin menjalankan agama secara utuh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT. Karena itu, tak patut jika dikatakan radikal.

Oleh: Rina Yulistina

NarasiPost.Com-Tindakan main hakim sendiri hingga merenggut nyawa rakyat terulang kembali. Kali ini, enam anggota Laskar FPI menjadi korban. Sontak rakyat menjadi geram.

Pernyataan kepolisian terkait kasus ini pun sangat tidak bisa diterima oleh akal. Pihak kepolisian mengaku bahwa pihak FPI telah menyerang duluan sehingga polisi menembak mereka dengan dalih melindungi diri. Namun, sayangnya sikap ngeles polisi ini tidak didukung bukti karena CCTV di lokasi kejadian rusak.

Selain itu, pihak kepolisian mengklaim bahwa terjadi bangku tembak dari mobil polisi. Pernyataan tersebut sangat tak masuk akal. Foto-foto jenazah korban menunjukan bahwa peluru menyasar pada titik-titik mematikan di tubuh korban, yaitu terdapat lubang bekas tembakan di dada sebelah kiri dekat jantung. Jika benar terjadi bangku tembak, sangat tidak mungkin jika peluru menembus korban persis di titik yang membuat nyawa mudah melayang.

Gelombang ketidakpercayaan mayarakat terhadap polisi, BIN maupun rezim tumpah ruah. Masyarakat menuntut keadilan. Masyarakat mendesak adanya tim pencari fakta independent.

Namun, sangat disayangkan, di tengah isu nasional yang sangat memanas ini, masih ada pihak-pihak yang mencoba membuat narasi untuk menggiring opini bahwa ada bahaya mengintai NKRI. Isu kelompok radikal dan terorisme dihembuskan di tengah-tengah masyarakat. Tujuannya adalah untuk menciptakan ketakutan bagi masyarakat dan membentuk opini umum agar mereka percaya atas apa yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Mereka bukan main hakim sendiri, namun, untuk menjaga NKRI.

Sangat disayangkan, hal itu dilakukan dengan cara mendekati tokoh-tokoh agama di daerah. Salah satunya terjadi di daerah Ponorogo. Seperti diberitakan di laman kanalponorogo.com, jarrakposjatim.com, dan portal-islam.id

Padahal, kita sebagai masyarakat bisa melihat kasus ini dengan mata terbuka. Apakah benar, penembakan tersebut atas dasar radikalisme terorisme? Tak ada bukti yang kuat untuk mengokohkan argumen tersebut. Lantas, kenapa rakyat digiring ke arah isu terorisme dan menuduh kelompok tertentu sebagai kelompok radikal? Ada apa dibalik semua itu? Jika rakyat curiga bahwa ada kepentingan di balik semua itu, maka mereka tidak bisa disalahkan.

Jika benar NKRI dalam ancaman disebabkan oleh kelompok radikal, maka radikal yang seperti apa yang dimaksud? Jika tuduhan radikal adalah yang berseberangan dengan rezim, maka tuduhan tersebut penuh dengan tendensi.

Hal ini mirip dengan trik perpolitikan luar negeri yang diterapkan oleh AS. Kita masih ingat, George W Bush telah mengajak para kepala negara di dunia untuk bergandengan tangan melawan terorisme setelah tragedi WTC.

"Semua bangsa mempunyai pilihan sendiri. Apakah mau bergabung bersama kami atau ingin bersatu dengan teroris," tegas Bush.

Politik semacam itulah yang terus dimainkan oleh penguasa. Siapa yang bergandengan dengan rezim, maka akan diberi wortel atau carrot, sedangkan yang berseberangan akan diberi tongkat atau stick.

Bukankah gaya perpolitikan seperti ini adalah gaya penjajah yang ingin memecah belah umat? Inikah yang diinginkan penguasa untuk menjaga NKRI?

Sejatinya, ketika masyarakat melakukan kritik terhadap penguasa, bukan berarti mereka telah melakukan makar. Masyarakat hanya ingin agar negeri ini berjalan sesuai dengan koridor syar'i. Masyarakat hanya ingin menjalankan agama secara utuh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT. Karena itu, tak patut jika dikatakan radikal.

Setiap masyarakat memiliki hak dan kewajiban untuk mengontrol roda pemerintahan. Jika kontrol tersebut dianggap sebagai makar dan tindakan radikal, lantas bagaimana dengan para koruptor yang merugikan negara triliunan rupiah? Haruskah mereka disebut sebagai pahlawan?

Apalabila aparat negara dengan mudahnya membantai rakyat sipil atas tuduhan teroris, kenapa begitu alot menghukum mati para koruptor? Dari sini kita faham, bahwa tuduhan radikalisme sebagai pengancam NKRI, hanya topeng belaka. Jika rezim memang berniat untuk menjaga NKRI, mestinya sudah mengirim pasukan ke Papua untuk mencegah kemerdekaan yang dilakukan oleh OPM.

Dari sini, kita sebagai umat Islam harus berhati-hati dengan penggiringan opini yang sengaja menyudutkan Islam dengan memberikan stigma negatif. Saat ini, kita sedang diadu domba untuk saling menuding dengan sesama saudara seakidah. Jika tidak jeli, maka kita akan ikut arus untuk membenci Islam, menuduh saudara sendiri dengam sebutan radikal dan elergi terhadap syariat Islam.

Inilah strategi Barat yang terus dihembuskan melalui tangan-tangan para rezim di negeri kaum muslimin. Tujuannya jelas, supaya Islam terpecah belah, tidak bisa bersatu. Dengan begitu, cengkraman hegomoni barat berupa Demokrasi Kapitalis akan semakin kokoh.

Namun, janji Allah adalah sebuah keniscayaan. Akan ada masa dimana Islam akan kembali berjaya seperti zaman Rasulullah dan para sahabat. Gelombang ke arah tersebut semakin hari semakin terlihat nyata. Kesadaraan umat terhadap agamanya semakin terlihat. Persatuan umat semakin terasa. Hal-hal seperti inilah yang membuat Barat menggigil ketakutam. Berbagai cara dilakukan untuk mematahkan. Yang menjadi pertanyaan, siapakah yang akan sanggup mematahkan cahaya Islam, jika Allah telah berkehendak memancarkannya?

"Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw. diam.”_ (HR Ahmad; Shahih).[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Rina Yulistina Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Perlindungan Fisik dan Psikis Bagi Ibu dan Anak
Next
Ibu
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram