Permusuhan Dunia Barat Terhadap Islam Politik

Islam dan politik adalah bagian yang tak terpisahkan. Kalau Islam tidak mengajarkan politik, niscaya Islam dan umat Islam tidak pernah memimpin dunia. Selama empat belas abad lamanya.



Oleh : Adibah NF (Penulis Bela Islam AMK)

NarasiPost.Com — Beberapa waktu lalu presiden Prancis, Emmanuel Macron mengundang perwakilan tokoh Islam Prancis. Dia memberikan ultimatum kepada para pemimpin muslim tersebut. Dalam waktu 15 hari agar segera menerima "piagam nilai-nilai republik". Sebagai bagian dari tindakan keras terhadap Islam radikal.


Ada tiga serangan dalam beberapa bulan terakhir. Sehingga, dia merasa perlu mengeluarkan piagam itu. Macron sangat membela sekularisme Prancis setelah serangan itu, termasuk pemenggalan terhadap seorang guru yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad selama kelas kebebasan berekspresi bulan lalu.


Piagam inipun berisi penegasan tentang nilai-nilai Prancis yang wajib dipatuhi kalangan muslim di Prancis. Dan menyatakan Islam adalah agama bukan gerakan politik. Hal ini menunjukkan bagaimana permusuhan Prancis mereprentasikan permusuhan dunia barat terhadap Islam.


Macron berhasil menimbulkan kontroversi dan kecaman dari umat muslim di seluruh dunia. Kecaman itu tak membuatnya diam atau minta maaf. Justru, semakin menggebu menjalankan kampanyenya untuk melawan apa yang disebut dengan Islamisme dan ekstremisme di Prancis. Sehingga perlu adanya gerakan sensasional demi mendapatkan simpati rakyat. Mengingat, pada musim semi tahun 2022 mendatang, macron harus mampu meningkatkan elektabilitas jelang pemilihan presiden. Karena pamornya semakin jatuh, bahkan menjadi penyebab frustasi dan kebencian para kelas pekerja dan kelas menengah Prancis.


Macron di awal tahun ini, menggambarkan Islam sebagai agama dalam krisis. Membela hak majalah satire Prancis, Charlie Hebdo dengan penggambaran yang melukai umat Islam. Dia pun mengumumkan langkah-langkah baru untuk mengatasi apa yang disebutnya "separatisme Islam" di Prancis. Langkah tersebut termasuk RUU yang berupaya mencegah radikalisasi.


Sejumlah langkah pencegahan radikalisasi di antaranya, pembatasan sekolah di rumah, hukuman lebih keras bagi mereka yang mengintimidasi pejabat publik atas dasar agama, dan memberi anak nomor identifikasi berdasarkan undang-undang yang akan digunakan untuk memastikan mereka bersekolah. Orang tua yang melanggar bisa menghadapi hukuman enam bulan penjara serta denda besar.


Semua yang Macron lakukan dengan berbagai tindakan represif tidak lain untuk meniadakan Islam politik dalam kehidupan muslim. Karena menyadari bahwa Islam politik yang mereka serang adalah Islam hakiki, bukan Islam moderat yang sejalan dengan kepentingan imperialisme barat.

Sebenarnya, Seperti Apakah Kedudukan Islam dan Politik?


Menurut Bernard Lewis, guru besar di Universitas Princeton, Amerika Serikat, ditulisnya dalam buku Islam: "The Religion and the People (New Jersey: Pearson, 2009) bahwa salah satu ciri yang membedakan agama Islam dengan agama Yahudi adalah perhatian besar dan keterlibatan langsung yang ditunjukkannya terhadap tata kelola negara dan pemerintahan, hukum, dan perundangan.


Artinya, Islam satu-satunya yang sangat peduli pada politik. Namun bukan politik sebagai tujuan, melainkan politik sebagai sarana mencapai tujuan yang lebih tinggi, lebih agung, dan lebih mulia, yaitu kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.


Perlu dipahami bahwa, politik dalam Islam adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh negara dan umat/rakyat. Karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat/rakyat mengawasi negara dalam menjalankan aturan tersebut.


Islam dan politik adalah bagian yang tak terpisahkan. Kalau Islam tidak mengajarkan politik, niscaya Islam dan umat Islam tidak pernah memimpin dunia. Selama empat belas abad lamanya.


Namun, saat Islam di-sekularisasi oleh musuh-musuhnya, Islam menjadi lemah hingga berakhir pada keruntuhan Khilafah Utsmaniyah.


Sejak itulah, kaum muslimin tidak memiliki perisai. Hingga untuk sekedar mengusir Duta Besar Prancis dari negeri-negeri kaum muslimin pun tak mampu umat muslim lakukan.


Saat ini, harus segera melakukan pemboikotan pemikiran demokrasi kapitalisme sekuler yang menjadi sumber islamophobia Macron. Yang dibutuhkan umat Islam adalah dengan terwujudnya Khilafah yang mampu hentikan serangan Barat secara umum terhadap Islam dan para pengembannya.


Untuk itu, umat Islam harus kembali kepada jati dirinya sebagai seorang muslim yang menjalankan Islam kaffah. Identitas Islam yang tercermin dari ideologinya yang akan menjadikan masalah politik sebagai bagian terpenting untuk mengembalikan kemuliaan Islam.


Hanya melalui politik, Islam akan mampu menjadi kekuatan yang membangkitkan seluruh umat untuk mewujudkan kembali supremasi Khilafah Islamiyah.Wallahu a'lam bishshawab [ANF]

Pictures by google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
New Normal Tetap Abnormal
Next
Atasi Prostitusi Sampai ke Akarnya
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback
4 months ago

[…] https://narasipost.com/opini/11/2020/permusuhan-dunia-barat-terhadap-islam-politik/Berbagai aturan kontroversial terhadap kaum muslim bukan pertama kali diterapkan di Prancis. Sebelumnya, anggota parlemen Prancis dari partai sayap kanan, Les Republicains mendukung larangan menggunakan simbol agama yang mencolok, seperti kerudung dalam kompetisi olahraga. Selain itu, sejak 2004 silam, Menteri Pendidikan Prancis Gabriel Attal menegaskan bahwa dirinya telah mencoba menekan simbol keagamaan di lembaga pendidikan. […]

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram