Paradoks Kebebasan Berekspresi

Sistem Islam mampu memberi keadilan dan keberkahan kepada semua kaum baik Muslim maupun nonmuslim. Keberadaanya pun mampu membasmi paradoks dalam kebebasan berekspresi.


Oleh: Dewi Fitratul Hasanah (Pemerhati Sosial dan Pendidik Generasi)

NarasiPost.com -- Seakan tak kunjung usai prahara yang melanda dunia. Seakan tak pernah jenuh bergaduh. Aneksasi Palestina oleh Israel, diskriminasi muslim di beberapa negara juga masalah pandemi Covid-19 ini misalnya, kesemuanya belumlah tersentuh secara benar, tepat dan menyeluruh, namun justru penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw kembali tersuguh.

Bermula dari tindakan seorang guru sekolah di Prancis, Samuel Paty yang menggunakan kartun Nabi Muhammad Saw terbitan Charlie Hebdo tahun 2015 saat mengajar. Tindakannya menuai protes dari sebuah komunitas dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal.

Mengetahui kejadian tersebut, Presiden Prancis, Macron berang bukan kepalang. Marcon memerintahkan agar kartun Nabi Muhammad Saw dipajang di gedung-gedung, perkantoran dan tempat-tempat umum di sepanjang kota, sembari menyiarkan bahwa kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo adalah konfigurasi dari kebebasan berpendapat atau berekspresi. Macron juga kemudian menyudutkan Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi Muslim makin sulit.

Stigmatisasi dan sikap Macron itulah yang mengundang gelombang protes, kecaman, embargo produk, hingga balasan menjadi kian bergenderang.

Sebagaimana diberitakan oleh wartakota.com 5 Oktober 2020, Presiden Brazil, Jair Bolsonaro disebut-sebut sebagai pihak yang membalas sikap intoleran Macron terhadap umat Muslim dengan
menyandingkan potret istri Macron, yakni Brigitte Macron dengan potret monyet hingga viral di media sosial. Meskipun kemudian Jair Bolsonaro membantah melakukannya, namun secara Jair Bolsonaro menegaskan bahwa penyandingan foto itu adalah salah satu bagian dari kebebasan berekspresi.

Jikalau Macron memang benar-benar menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, lantas mengapa ia meradang mendapati foto istrinya disandingkan dengan foto binatang? Bukankah ini sebuah pandangan yang diskriminatif?

Sengguh pernyataan Macron yang mengatakan kartun tersebut sebagai kebebasan berekspresi dimana kebebasan berekspresi harus dijunjung tinggi adalah kecacatan paradigma dalam memilah fakta dan kondisi. Nyatanya ini semua adalah sebuah paradoks kebebasan berekspresi. Hati umat Islam mana yang tak bergemeretuk karenanya. Hati siapa yang tak geram menyaksikan kediskriminatifan dan penistaan berpiranti kekuasaan.

Dalam kaca mata Islam, tentu saja segala bentuk kekerasaan dan kejahatan baik itu kejahatan fisik maupun verbal adalah tindakan tidak terpuji yang tidak dapat dibenarkan. Menggambar Nabi Muhammad Saw lewat kartun dan penilaian buruk lainnya merupakan suatu bentuk kekerasan, penghinaan terhadap simbol Islam. Dan pembunuhan terhadap Paty pun tidak dapat dibenarkan. Karena, jikapun sanksi atas penghinaan terhadap Nabi tersebut harus dihukum mati, tapi hukuman mati tersebut haruslah dilakukan secara bernegara bukan secara individu ataupun kelompok.

Ketidakidealan hukum dan minimnya ketegasan berprsepsi sejatinya senantiasa terpajang dalam galeri demokrasi. Nyaris tak ada keadilan yang hakiki. Keadilan dan kedamaian bagaikan oase di tengah padang tandus nan gersang. Sungguh, kezaliman dan kegaduhan bagaikan nasi dan lauk yang menjadi makanan pokok sehari-hari yang harus dikonsumsi.

Selama demokrasi sekularisme masih dijunjung tinggi, selama itu pula ketidakadilan, kegaduhan terus terjadi. Sekularisme adalah sistem cacat yang bersumber dari akal manusia yang terbatas. Standar ganda di dalamnya menggenalisir pendapat pada komuntas tertentu saja. Tak pelak, penistaan adalah aksesori yang lazim terjadi dalam sistem ini.

Kita tak lagi hidup dalam keadilan di bawah sistem yang adil, damai dan berstandar pakem yakni berhukum dengan hukum Allah SWT, Tuhan pencipta kehidupan. Sejak Kekhilafahan Ustmaniyah diruntuhkan oleh Mustafa Kemal 97 tahun silam, ketidakrukunan, keterpecahan antar umat beragama dan segala macam bentuk diskriminasi rentan berulang kali terjadi, tak pernah menemukan titik henti.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang pernah hadir dalam sebuah institusi negara. Islam mampu menjadi ideologi, pandangan hidup, arah dan tujuan hidup bermasyarakat dan bernegara. Islam dengan seperangkat fikrah dan thariqah (ide, peraturan dan tata cara pelaksanaannya) telah memberikan pengaturan yang jelas tentang masalah hubungan antar umat beragama. Islam tidak mencampuradukkan yang betul dan yang batil.

Allah SWT berfirman, "Untukmu agamamu dan untukku agamaku" (TQS. Al-kafiruun: 6). 

Dalam kaitan dengan masalah akidah, mereka dibiarkan untuk menganut keyakinan mereka dan menjalankan kegiatan ibadah mereka. Mereka tidak dipaksa masuk ke dalam agama Islam.

Islam menghendaki kehidupan rukun, adil, nyaman dan saling menghargai antar umat beragama dan tidak ada sikap arogan dan sewenang-wenang apalagi penghinaan terhadap simbol agama. Dengan sistem Islam, keadilan antar umat beragama dalam kehidupan bernegara terwujud dengan baik, tanpa pertentangan, kekerasan dan penistaan.

Sungguh segala bentuk diskriminasi  hanya mampu diakhiri dengan menegakkan sistem Islam kembali. Bukan hanya mampu mengenyahkan diskriminasi. Sistem Islam mampu memberi keadilan dan keberkahan kepada semua kaum baik Muslim maupun nonmuslim. Keberadaanya pun mampu membasmi paradoks dalam kebebasan berekspresi. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Picture Source by Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Teladan Nabi Mengatasi Problem Ekonomi
Next
Hambat Syariat, Sikat Dana Umat?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram