Mengkritisi Pidato Kemenangan Joe Biden

Mengenai konflik rasial, hanya ideologi Islam saja yang memiliki solusi yang sangat tepat. Ketika Allah menurunkan surah Al-Hujurat ayat 13.


Oleh : Dewi Purnasari (Aktivis Dakwah)

NarasiPost.Com – Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih, Joe Biden menyampaikan pidato kemenangannya di hadapan para pendukungnya setelah mengalahkan petahana Donald Trump pada 7 November lalu. Di Delaware, salah satu daerah basis pendukung Biden, ia menyampaikan pidato kemenangannya dengan hangat dan bersemangat.

Joe Biden, yang menang dengan 290 suara elektoral, tercatat mendapat perolehan suara terbanyak sepanjang sejarah pemilihan presiden di AS. Janji kampanyenya yang fenomenal karena terdengar memberikan ‘angin segar’ terhadap Islam dan kaum muslim, ternyata memang berhasil meraih dukungan pemilih muslim di negara itu. Namun patut disayangkan, dalam pidato pertamanya itu, Biden sama sekali tidak mengapresiasi dukungan kaum muslim yang telah memilihnya. Hal ini terbukti dengan tidak disinggungnya sama sekali tentang Islam dan kaum muslim dalam pidatonya tersebut.

Dalam pidatonya Biden menyatakan janjinya untuk menjadi presiden yang tidak memecah belah, tetapi mempersatukan, hal itu dimaksudkan untuk menyatukan negara bagian merah (basis Partai Republik) dan negara bagian biru (basis Partai Demokrat). Bukan secara spesifik ditujukan kepada individu ataupun kelompok masyarakat.

Kita mengetahui bahwa dalam sejarahnya, AS sarat dengan konflik individu, antar kelompok dan ras. Peristiwa meninggalnya George Floyd, seorang pria berkulit hitam pada Mei 2020 lalu menjadi satu contoh tindak rasis yang dilakukan oleh polisi kulit putih. Floyd yang diringkus hingga sulit bernafas dan meninggal, viral di jagat media sosial dan memicu gelombang protes terhadap Amerika di beberapa negara. Senada dengan itu, menurut Robin DiAngelo dalam bukunya “White Fragility”, ia menulis bahwa orang kulit putih AS sangat tegas sikapnya terhadap perbedaan ras dan warna kulit. Mereka masih tidak mampu mentolerir perbedaan ras.

Hal ini senada dengan narasi penuh kebanggaan yang dilontarkan oleh Joe Biden dalam pidato kemenangannya. Bahwa wakil presidennya, Kamala Haris adalah perempuan kulit hitam pertama yang terpilih menjadi wakil presiden AS. Kamala Haris, seorang perempuan keturunan imigran dari Asia Selatan, dianggap melampaui kemustahilan sehingga bisa terpilih menjadi wakil presiden. Narasi ini jelas menunjukkan bahwa sikap rasis masih mewarnai pola pikir bangsa Amerika, termasuk Biden sendiri. Mereka masih menganggap orang kulit putih dan kulit berwarna tidak setara dalam level kehidupan.

Ketika Barack Obama dari Partai Demokrat dikukuhkan menjadi Presiden AS pertama yang berkulit hitam, publik menilai bahwa Amerika telah memasuki era “Post Racial.” Namun, saat terjadinya kasus George Floyd, Obama menyatakan dukungannya terhadap aksi demonstrasi Solidaritas Antirasisme yang terjadi di berbagai belahan dunia. Obama lebih jauh juga menyatakan bahwa Amerika memang tak mudah keluar dari krisis rasial yang telah berlangsung selama 400 tahun.

Biden, dalam pidatonya menyatakan bahwa Amerika tunduk pada The Arc of The Moral Universe, mengutip quote Martin Luther King Jr., “The arc of the moral universe is longs, but it bend toward justice” (Moral alami kehidupan manusia, suka kepada keadilan). Hal itu senada dengan apa yang pernah diucapkan oleh Barack Obama terkait konflik rasial yang sering terjadi di AS. Dapat dibaca disini, bahwa sejak era Obama hingga Biden saat ini, kesetaraan ras masih menjadi cita-cita yang belum bisa dicapai oleh Amerika.

Lebih jauh, Biden kemudian mengajak rakyat Amerika untuk bersama-sama mengendalikan virus corona. Dengan demikian maka Amerika bisa memperbaiki ekonomi, memulihkan hal-hal yang vital dan mempertahankan keberlangsungan generasi. Namun rencana penanganan covid, Biden-Haris yang akan cetak biru pada 20 Januari 2021, mungkin saja akan semakin terlambat. Mengingat Pandemi Covid-19 telah memakan korban 230.000 jiwa warga AS sejak awal 2020. Sebagaimana dipahami bersama, penanganan pandemi haruslah tepat dan cepat, agar tidak menelan korban dalam jumlah besar.

Selanjutnya, Biden pun menyatakan keprihatinannya terhadap para korban meninggal akibat Covid-19 dengan mengajak rakyat Amerika untuk yakin bahwa dengan bersama-sama maka pandemi Covid-19 akan bisa diatasi. Ini patut dikritisi karena kenyataanya selama ini, pencegahan penyebaran Covid-19 di AS sangat sulit dilakukan karena rakyat Amerika mempunyai banyak penyakit bawaan dan kondisi kesehatan rakyat yang buruk.

Penyebab lain adalah seperti yang dinyatakan oleh Alderman Jason Elvin dari Kaukus Kulit Hitam Chicago kepada Chicago Tribune. Ia menyatakan bahwa ketidakpatuhan warga di sejumlah daerah perkotaan terhadap perintah untuk tetap di rumah memungkinkan data penyebaran Covid-19 terus meningkat. Hal ini tak mengherankan, karena karakter masyarakat liberal memang lebih sulit diatur. Ini karena mereka memiliki pola sikap kebebasan bertingkah laku yang mereka junjung tinggi.

Itulah demokrasi, ketika kebebasan berpendapat dan bertingkah laku dijamin dengan undang-undang negara, maka sangat memungkinkan terbentuknya masyarakat yang berkarakter liberal. Manusia tidak mau dibatasi oleh apapun dalam berpendapat, berkata dan bertingkah laku. Bahkan kepada peraturan negara sekalipun, rakyat tidak mau patuh.

Ini bertolak belakang dengan kepatuhan rakyat pada pemimpin dalam negara Islam, dimana rakyat harus mengangkat sumpah (berbai'at) untuk taat kepada pemimpin negara. Sehingga, selama pemimpin negara Islam itu menerapkan kebijakan berdasarkan Islam, maka wajib dipatuhi oleh rakyat. Rakyat berbai'at untuk taat kepada pemimpin atas nama Allah dan menjalankan ketaatannya atas perintah Allah (al-Qur'an surah An-Nisa [4] ayat 59).

Pada akhir pidato kemenangannya, Biden tidak lagi mengutip hadits Rasulullah SAW sebagaimana pada pidato kampanyenya. Tetapi kali ini ia mengutip kalimat dari Injil. Kemudian ia pun mengajak masyarakat bersama-sama memohon kepada Tuhan untuk memberkati Amerika dan melindungi gereja mereka.

Dari alur ini sangat jelas terbaca, bahwa Biden pada masa kampanye mengharapkan dukungan dari masyarakat muslim AS yang total sekarang mencapai hampir 4 juta orang. Tetapi segera setelah ia menang, masyarakat muslimpun dilupakan.

Mengenai konflik rasial, hanya ideologi Islam saja yang memiliki solusi yang sangat tepat. Ketika Allah menurunkan surah Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman: “ Wahai manusia, sesungguhnya aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Dalam pandangan Islam, seperti dari pemahaman surah Al-Hujurat ayat 13 diatas, membeda-bedakan warna kulit dengan tujuan untuk merendahkan sangat dilarang. Sebab, merendahkan makhluk ciptaan Allah sama halnya dengan merendahkan penciptanya. Allah menciptakan manusia dengan perbedaan warna kulit justru menampakkan kekuasaan dan keagungan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur manusia dan alam semesta. Hal yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya dalam pandangan Allah hanyalah ketakwaannya.

Jadi, kaum muslim boleh bercermin dari tinjauan kritik diatas terhadap pidato kemenangan Presiden AS yang baru terpilih, bahwa sebaik apapun sosok pemimpinnya, selama sistem yang dianut AS bersumber dari ideologi buatan manusia, maka ia akan tersandera untuk mengemban sistem tersebut. AS yang mengemban Ideologi kapitalisme pasti akan selalu memberlakukan aturan yang lahir dari Asas Kapitalisme tersebut yaitu asas sekulerisme.

Sekulerisme secara gamblang mempunyai filosofi memisahkan peraturan agama dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka, agama tidak akan pernah mendapatkan ruang di dalam penerapan sistem ini dalam negara. Sesungguhnya sangat tidak tepat ketika kaum muslim di AS ataupun di seluruh dunia berharap akan datangnya ‘angin segar’ dengan terpilihnya Joe Biden. Walaupun, seolah menunjukkan keramahan dan kedekatannya dengan Islam dan kaum muslim sebagai Presiden AS. Harapan satu-satunya untuk kebaikan Kaum Muslim hanyalah ketika ideologi Islam ditegakkan dalam negara Islam. Wallahu 'alam bishawab. []


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Pengemban Dakwah Kewajiban dan Sifat-sifatnya
Next
Don't Feel Insecure
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram