Lawan Kezaliman, Umat Merindukan Keadilan

Oleh karenanya, umat harus fokus pada penerapan aturan Allah diawali dengan revolusi pemikiran merubah pemikiran rusak dengan pemikiran Islam.


Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

NarasiPost.Com – Sambutan umat yang begitu luar biasa terhadap kembalinya Habib Rizieq Syihab (HRS) ke tanah air, dinilai Sekretaris Umum (Sekum) Front Pembela Islam (FPI) Munarman merupakan representasi simbol kerinduan umat akan keadilan.

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab menjelaskan tahapan perubahan revolusi akhlak menjadi jihad fii sabilillah. Ia mengatakan, perubahan pola perjuangan bisa terjadi apabila kezaliman tidak berhenti padahal ajakan perdamaian sudah digaungkan. Habib Rizieq menjelaskan, revolusi akhlak merupakan cerminan dari tindakan Nabi Muhammad SAW. Revolusi jenis ini menawarkan dialog, perdamaian, dan rekonsiliasi kepada musuh. Perang adalah pilihan terakhir apabila tidak menemui titik temu. (Okezone.com, 15/11/20).

Umat Merindukan Keadilan

Kedatangan Habib Rizieq ke Indonesia bagai pelepas dahaga dikala kegersangan melanda, kezaliman merajalela, dan keadilan begitu langka. Ya, umat begitu merindukannya, karena umat sangat mencintai dan menantinya. Lebih dari itu, umat berharap kehadiran beliau bisa membantu umat dalam melawan kezaliman dan menegakkan keadilan yang begitu sulit didapat dari para pemegang kekuasaan. Hampa dan hampir putus asa, karena rakyat tak mungkin bisa melawan penguasa.

Mengapa keadilan begitu sulit didapatkan, bukankah pemimpin negeri ini dipilih untuk mengurus urusan rakyatnya? Bukankah jargon demokrasi dari, oleh dan untuk rakyat? Lalu, rakyat yang mana yang dimaksud hingga hukum tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Persekusi dan kriminalisasi ulama dibiarkan, tapi kritik membangun oleh rakyat untuk penguasa justru dipenjarakan. Penistaan terhadap ajaran Islam dan baginda Nabi terus terjadi tanpa ada tindakan tegas, tapi penghinaan terhadap rezim dibuikan dengan tegas.

Hingga akhirnya memaksa rakyat untuk membungkam mulutnya jika tak ingin masuk hotel prodeo. Kecuali bagi mereka yang berani melawan kezaliman. Tentu dengan nyawa taruhannya. Dan rela menghabiskan kehidupannya di dalam jeruji besi, tanpa adanya ruang pembelaan yang manusiawi. Siapapun yang melawan kebijakan walau zalim, maka siap-siap berhadapan dengan rezim. Rupanya begini wajah demokrasi di negeri ini.

Maka wajar jika rakyat menuntut keadilan dan melawan kezaliman. Sebagai muslim ketika melihat kemungkaran sesuai sabda Baginda Rasul Saw. ;

"Barangsiapa melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu/kekuasaanmu (bi yadihi); Jika tidak bisa, tegurlah dengan ucapan (bi lisanihi); Jika (tetap) tidak bisa, cukup dengan mendoakannya (bi qalbihi); dan yang demikian itulah lemahnya iman seseorang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keadilan Hanya Terwujud dalam Bingkai Islam

Hadis Rasululullah diatas menjadi spirit untuk melakukan aktifitas amar makruf nahi munkar, termasuk ditujukan untuk para penguasa. Rasulullah–shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pun secara khusus telah memuji aktivitas mengoreksi penguasa zalim, yaitu untuk mengoreksi kesalahannya dan menyampaikan kebenaran kepadanya:

Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang zalim.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Nasa’i, al-Hakim dan lainnya)

"Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa zalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zalim itu) membunuhnya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath)

Kalimat afdhal al-jihâd dalam hadis tersebut merupakan bentuk tafdhîl (pengutamaan), yang menunjukkan secara jelas keutamaan mengoreksi penguasa, menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang berbuat zalim. Sedangkan, dalam hadis orang yang mengoreksi penguasa, lalu dibunuh, maka dinilai sebagai sayyid al-syuhadâ (penghulu mereka yang mati syahid). Kedua kalimat ini jelas merupakan indikasi pujian atas perbuatan mengoreksi penguasa, dalam bentuk ikhbâr (pemberitahuan). Maka, pemberitahuan tersebut bermakna jâzim (tegas). Sebab, jika sesuatu yang dipuji tersebut tidak dilakukan akan mengakibatkan terjadinya pelanggaran dan runtuhnya pelaksanaan hukum Islam. Sebaliknya, hukum Islam akan dapat terlaksana jika aktivitas tersebut dilaksanakan, maka aktivitas tersebut hukumnya wajib.

Apa yang dilakukan Habib Rizieq dengan bahasa revolusi akhlak adalah bagian dari aktivitas amar makruf nahi munkar. Membuka dialog antara ulama dengan penguasa untuk perbaikan negeri agar kezaliman tidak merajalela. Rakyat bisa mendapatkan keadilan dan kesejahteraan yang selama ini mereka harapkan. Ulama menjadi penyambung lisan umat dan lentera yang menerangi di saat kegelapan.

Syeikh Al Imam Abu Bakar Al Jazuri dan ulama salaf berbicara tentang ulama, "mereka adalah lentera yang menerangi para hamba, cahaya yang menyinari sebuah negeri, pemimpin umat dan mata air hikmah. Mereka membuat setan marah dengan cara menghidupkan hati-hati para pencari kebenaran dan memadamkan hati-hati para pelaku penyimpangan. Permisalan mereka di dunia sebagaimana bintang-bintang yang ada di langit yang dengannya manusia manusia dibimbing dari gelapnya daratan dan lautan. Maka jika bintang-bintang hilang mereka akan bingung, namun jika kegelapan pergi mereka akan melihat.”

Umat mengharapkan sosok pemimpin yang bersandar hanya pada syariah dan berani melawan kezaliman. Kezaliman ini lahir dari sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini, maka perubahan sistem ini mutlak dilakukan jika ingin keadilan. Karena keadilan dan pemimpin yang adil sesungguhnya hanya akan terwujud jika menerapkan aturan Allah dalam bingkai khilafah. Tidak mungkin Allah sebagai Pencipta dan Pengatur telah menciptakan aturan yang tidak adil. Oleh karenanya, umat harus fokus pada penerapan aturan Allah diawali dengan revolusi pemikiran merubah pemikiran rusak dengan pemikiran Islam.

Allah Swt. berfirman:

"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, hukum siapa yang lebih baik dari pada hukum Allah Ta’ala bagi orang-orang yang yakin?" (TQS. Al Maidah: 50).

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Kontroversi RUU Minuman Keras
Next
Aktivis wanita Saudi yang dipenjara mengalami pelecehan seksual
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram