Diam saat Rasulullah Dihina, Pantaskah Berharap Syafaat?

Secara nyata tidak ada kekuatan dari kaum muslimin untuk menghentikan secara total terhadap penghinaan tersebut. Padahal, kaum muslimin seluruh dunia berjumlah kurang lebih 2,2 milyar. Sayang, jumlah tersebut bak buih di lautan.


Oleh: Aminah Darminah (Muslimah Peduli Generasi)

NarasiPost.com -- Media satire Charlie Hebdo di Prancis kembali menghina Rasulullah Saw, majalah ini berani mempublikasikan gambar Rasulullah Saw dalam bentuk kartun. Kaum muslimin seluruh dunia pantas marah atas penghinaan yang terus berulang oleh media ini. Panutan kaum muslimin yang penuh dengan keagungan, berakhlak mulia, pembawa cahaya bagi seluruh alam dinista, dilecehkan begitu hina.

Menanggapi reaksi keras kaum muslimin, Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad. Ia berdalih hal tersebut merupakan bentuk dari kebebasan berekspresi, pernyataan sang presiden memicu kemarahan dunia Arab dan Muslim (Tribunnewsmaker.com, 27/10/2020).

Dari dalam negeri kaum muslimin Indonesia ikut mengecam pernyataan Presiden Prancis salah satunya Dai kondang Abdul Shomad ikut bereaksi isu yang menjadi perhatian dunia, melalui akun istagramnya UAS mengunggah keterangan. Dubes prancis memohon kepada Grand Saikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayeb agar membantunya untuk menghentikan gelombang boikot produk-prosuk Prancis, namun, beliau menolak permintaan tersebut. Syaikh Thayib mengatakan "Kami tidak menerima negosiasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah Saw dan Macron harus segera meminta maaf "(Inews.id, 29/10/2020).

Sistem demokrasi yang diadopsi negara-negara barat menjamin kebebasan kepada warga negaranya, atas dasar kebebasan berekspresi musuh-musuh Islam mengina Rasulullah dan ajara Islam. Kejadian ini terus berulang. Mirisnya, kaum muslimin tidak punya kekuatan untuk menghentikan pelecehan terhadap Rasulullah dan ajaran Islam.

Aksi kaum muslimin hanya mengutuk perbuatan tersebut atau aksi boikot produk dari negara yang menghina Rasulullah. Secara nyata tidak ada kekuatan dari kaum muslimin untuk menghentikan secara total terhadap penghinaan tersebut. Padahal, kaum muslimin seluruh dunia berjumlah kurang lebih 2,2 milyar. Sayang, jumlah tersebut bak buih di lautan.

Umat Islam saat ini seperti anak ayam kehilangan induknya, tidak memiliki pelindung, penjaga akibatnya umat ini bercerai berai, mudah difitnah, dipecah belah. Tidak ada yang mampu memberikan tindakan tegas terhadap pelaku penghinaan terhadap Rasulullah dan ajaran Islam, kejadian seperti ini akan terus berulang. Sekalipun secara individu kecintaan kaum muslimin terhadap Rasulullah tidak diragukan lagi tetapi, individu tidak akan mampu menghentikan penghinaan ini.

Sejarah sudah membuktikan betapa besar Kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah, pada saat perjanjian Hudaibiyah seorang utusan Qurais mengatakan "Sesungguhnya aku pernah mendatangi kisra (Persia) di kerajaannya, kaisar (Romawi) dikerajaanya, dan Najasy di kerajaanya. Demi Allah, aku sama sekali belum pernah melihat seorang raja dalam satu kaum seperti Muhammad di tengah-tengah para sahabatnya. Sesungguhnya aku telah melihat suatu kaum (Kaum Muslimin) yang selamanya tidak akan menyerahkannya (Muhammad) untuk suatu apapun".

Syariat Islam memiliki mekanisme untuk memberikan hukuman kepada siapapun yang menghina Rasulullah sehingga memberikan efek jera. Pertama, jika penghinaan itu dilakukan oleh nonmuslim, maka negara akan memberikan saksi takzir berupa hukuman mati. Jika pelakunya Muslim maka dihukum mati tanpa diterima pertaubatannya.

Kedua, jika pelakunya level negara. Maka Islam memerintahkan penguasa kaum muslimin untuk melakukan jihad.

Pada masa Utsmaniah yaitu Khalifah Abdul Hamid II Perancis penah merancang drama teater karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Khalifah menyerukan perintah melalui dutanya di Perancis untuk menghentikan drama itu, jika tetap bersikukuh menyelenggarakan acara tersebut maka kaum muslimin akan melakukan jihad melawan Perancis. Serta merta Prancis menghentikan acara tersebut.

Dari peristiwa ini membuktikan bahwa tindakan tegas sebuah negara untuk menghentikan penghinaan terhadap Rasulullah lebih efektif dibanding boikot apalagi sekadar mengutuk.

Kecintaan kaum muslimin terhadap Rasulullah perlu dibuktikan secara nyata dengan bersungguh-sungguh mengembalikan institusi kaum muslimin yang runtuh sejak 1924.

Hadist dari sahabat Abdullah bin Hisyam. Umar berkata kepada Nabi Saw "Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau sangat aku cintai melebihi apapun selain diriku, maka Nabi Saw menjawab tidak demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu. Lalu Umar berkata kepada Nabi Saw, sungguh sekaranglah saatnya demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku, maka Nabi Saw bersabda sekarang (engkau benar) wahai Umar."

Demikianlah kecintaan para sahabat Rasulullah, mereka rela mengorban nyawa dan diri mereka sendiri untuk membela Rasulullah. Bagaimana dengan kaum muslimin saat ini, pantaskah kita mendapatkan syafaatnya sementara kita hanya mampu mengutuk penghinaan terhadap Rasulullah?
Wallahu a'lam.[]

Picture Source by Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com.

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Risalah Nabi Menentramkan Hati
Next
Refleksi 92 Tahun Sumpah Pemuda, Sudahkah Pemuda Berdaya?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram