Tawuran Jadi Konten demi Cuan

Tawuran jadi konten

Tawuran merupakan salah satu kenalan remaja yang sulit diatasi. Oleh karena itu, kita mempunyai kewajiban untuk mengarahkan remaja agar melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Oleh. Hadi Kartini
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Tawuran merupakan salah satu bentuk dari kenakalan remaja dan seakan menjadi budaya di kalangan remaja. Di mana tawuran merupakan wujud dari eksistensi mereka. Saat ini, tawuran bukan hanya dipicu karena ada masalah yang terjadi antara remaja, tetapi ada yang sengaja memancing terjadinya tawuran untuk membuat sebuah konten di media sosial dan disiarkan secara langsung.

Menurut dugaan, tawuran yang terjadi di jalan Basuki Rahmat (Bassura), Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta timur, sengaja diciptakan demi sebuah konten di media sosial untuk mencari cuan. Tawuran di wilayah ini juga pernah terjadi tahun lalu dan berujung perdamaian.

Kapolres Metro Jatim, Kombes Nicolas Ary Lilipaly, mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan tawuran kembali terjadi. Dia merinci, faktor ekonomi, pendidikan, kehidupan sosial, dan budaya. Selain itu, kurangnya pengawasan orang tua. (Detiknews.com, 30-6-24)

Tawuran antara geng motor juga terjadi di wilayah Ciomas. Sebanyak delapan pelaku usia remaja ditangkap Polsek Ciomas. Kapolsek Ciomas Kompol Iwan Wahyudi mengatakan, penangkapan para anggota geng motor dilakukan saat pihaknya tengah melaksanakan operasi pekat pada Minggu (30-6-24) dini hari. Mereka diamankan bersama barang bukti dua senjata tajam berupa pedang di Gang Abadi, Desa Kotabatu, Ciomas (Radarbogor.com, 30-6-24).

Sebelumnya, pada Kamis (27-6-24) dini hari di sekitaran kawasan Sidotopo Dipo, Surabaya, polisi juga meringkus enam orang remaja anggota gengster Pasukan Angin Malam, diringkus saat hendak tawuran. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti dua buah celurit, gergaji sedang, dan parang (IDNtimes.com, 27-6-24).

Tawuran Bentuk Kenakalan Remaja

Naluri mempertahankan diri (naluri baqa') pada remaja yang ingin keberadaannya diakui, membuat remaja sering melakukan hal-hal yang memancing perhatian orang kepadanya. Jika remaja tidak berada dalam bimbingan dan arahan yang tepat, maka bisa terjerumus pada hal yang tidak baik seperti suka tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan penyakit masyarakat lainnya. Tawuran merupakan salah satu kenalan remaja yang sulit diatasi dan sering terjadi.

Untuk itu, kita sebagai orang yang lebih dewasa mempunyai kewajiban untuk mengarahkan remaja untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Terlebih jika posisi kita adalah sebagai orang tua. Maka, sebagai orang tua jangan main-main terhadap pendidikan anak. Didikan orang tua akan akan memengaruhi kehidupan anak di dunia maupun di akhirat.

https://narasipost.com/opini/12/2021/tawuran-marak-potret-generasi-rusak/

Akan tetapi sangat disayangkan, sistem hari ini membuat banyak orang tua mengabaikan amanah tersebut. Disibukkan dengan kehidupan dunia, melupakan tanggung jawab besar yaitu mendidik anak-anak mereka. Anak tumbuh dalam didikan lingkungan masyarakat sekuler yang juga jauh dari amar makruf nahi mungkar.

Terlahirlah anak remaja yang suka berbuat semaunya dan suka melakukan hal-hal yang merusak. Baik yang merusak diri pribadi maupun merusak orang lain. Mereka tidak memikirkan, apakah perbuatan mereka merugikan orang lain atau tidak. Yang penting mereka bahagia dan mendapatkan keuntungan dari perbuatan mereka.

Sistem Pendidikan Tidak Tepat

Kita tidak bisa berharap banyak terhadap pendidikan formal hari ini untuk memperbaiki perilaku remaja yang telah rusak. Sistem pendidikan hari ini adalah produk dari sistem kapitalisme liberal. Di mana sistem pendidikan formal bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Semakin banyak lulusan pendidikan yang bekerja, maka tujuan pendidikan dinyatakan tercapai.

Pendidikan adab dan ketakwaan individu pada remaja tidak terlalu diperhatikan. Sistem pendidikan hanya fokus pada pendidikan untuk menggapai kehidupan dunia semata, kehidupan akhirat diabaikan. Pendidikan untuk dunia dan akhirat tidak beriringan karena memang sistem yang diterapkan adalah sistem sekuler, memisahkan agama dari kehidupan.

Kurangnya didikan dari orang tua dan pendidikan formal yang tidak berpihak pada pembentukan individu yang bertakwa, maka kenakalan remaja seperti tawuran akan sulit diatasi dan mungkin akan lebih parah. Saat ini saja, mereka berani menciptakan kegaduhan melalui tawuran dan menyiarkannya secara langsung demi mendapatkan pengikut dan keuntungan berupa uang. Tidak memikirkan akibatnya bagi masyarakat, yang jelas-jelas perbuatan mereka mengganggu keamanan. Apa yang akan terjadi pada negara dan generasi penerus bangsa ini, jika masalah ini tidak cepat diatasi?

Kenakalan remaja bukan hanya urusan orang tua semata, tetapi masalah ini sudah merambah lingkup yang lebih luas. Imbasnya tidak semata pada keluarga, tetapi juga berimbas pada masyarakat. Keamanan masyarakat terancam, kenyamanan terganggu, merusak fasilitas umum, dan banyak lagi kerusakan yang timbul akibat tawuran.

Tawuran terus terjadi, padahal aparat keamanan sudah melakukan berbagai pencegahan, tetapi tidak banyak berpengaruh. Ini membuktikan bahwa hukuman yang diberikan pada pelaku tawuran tidak tepat sehingga tidak menimbulkan efek jera pada pelaku.

Sistem Pendidikan Islam Mampu Atasi Kenalan Remaja

Mengatasi tawuran dan kenakalan remaja lainnya, harus melibatkan semua pihak. Mulai dari keluarga, masyarakat, negara, dan yang paling penting adalah mengganti sistem yang diterapkan hari ini dengan sistem yang lebih baik. Sistem Islam-lah yang paling baik dan terbukti melahirkan generasi-generasi unggul dan berkepribadian luhur yang membawa Islam pada puncak kejayaannya pada masa lampau.

Islam memandang bahwa seorang anak adalah amanah yang harus diperlakukan dan dididik dengan didikan terbaik oleh orang tuanya. Amanah ini akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Swt. nanti di akhirat. Allah Swt. berfirman pada QS. At-Tahrim ayat 6,

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras."

Pendidikan pertama anak-anak akan mereka dapatkan dalam lingkup keluarga. Orang tua harus menanamkan akidah Islam pada anak, sehingga anak paham betul mana perbuatan baik dan mana perbuatan yang dimurkai oleh Allah Swt. Tidak berbuat semaunya dan terjebak dalam perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat yang dapat merugikan diri pribadi maupun orang lain.

Jika anak dan remaja terlibat hal-hal negatif yang tidak diketahui orang tua, maka masyarakat berkewajiban untuk menegur dan menasihati. Peran negara tidak kalah penting. Negara dalam hal ini negara Islam, berkewajiban dan memastikan generasinya berada dalam ketaatan kepada Allah melalui cerminan prilakunya.

Generasi dalam negara IsIam akan dididik dengan sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam adalah sistem pendidikan terbaik, terbukti mampu mencetak generasi unggul yang berkepribadian Islam. Pemikiran dan tingkah laku mereka selalu bersandar pada ajaran Islam. Sistem pendidikan IsIam tidak mengabaikan pendidikan duniawi yang tentunya diperlukan untuk menjalankan kehidupan di dunia.

Selain sistem pendidikan, negara juga akan menyaring informasi yang beredar di media. Mana informasi yang layak untuk dikonsumsi masyarakat dan mana informasi yang tidak bermanfaat yang dapat menjerumuskan generasi kepada kemaksiatan. Jika masih ada pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku, maka negara akan menjatuhkan hukuman yang sesuai dengan syariat. Begitulah Islam dalam mencetak generasi tangguh berakhlak mulia. Generasi akan dijaga dari semua aspek yang merugikan generasi itu sendiri.

Wallahu a'lam bishawab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com
Hadi Kartini Kontributor NarasiPost.Com  
Previous
Masuk Angin: Penyakit Orang Indonesia!
Next
Papua Barat di Mata Lembaga Hukum Dunia
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram