Menyoal Kasus Pembuangan Bayi Meningkat di Bekasi

” Dari sisi ekonomi, negara wajib menyediakan lapangan kerja sehingga tugas nafkah pada suami tak ada kendala”

Oleh. Hanimatul Umah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Si mungil yang masih suci tak berdosa seharusnya diperlakukan sebagaimana mestinya. Bahkan menjadi dambaan keluarga. Namun akhir- akhir ini, oleh orang tuanya yang tak bertanggung jawab malah membuang bayinya seperti barang tak berharga. Ya, itulah kasus pembuangan bayi akibat pergaulan bebas, pun faktor ekonomi kedua orang tua yang tak merasa mampu merawat anaknya.

Geger, seorang pemulung yang tengah mencari botol bekas melewati trotoar di Jl. Hasanudin RT 001 RW 001 Desa Tambun, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mendapati sesosok jasad bayi dalam bungkusan plastik berwarna hijau di atas trotoar, lalu beberapa saksi pun melapor kepada polsek setempat untuk dievakuasi. (medcom.id 25/5/2023). Selain itu, penemuan bayi masih hidup juga terjadi di Desa Gandasari, Kampung Mariuk, Cikarang. (detiknews.com 28/5/2023)

Tahun 2022-2023 kasus pembuangan bayi di Kabupaten Bekasi meningkat yakni terdapat 7 kasus, 2022 ada 1 kasus, dan 2023 ada 6 kasus. Ani Gustini, dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mengatakan, semua kasus pembuangan bayi sudah mendapat penanganan kesehatan RSUD terdekat.

"Jika terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dan kasus serupa, supaya melapor ke hotline nomor yang telah disediakan nonstop 24 jam," imbuhnya, (Bekasimedia.com 8/5/2023)

Miris! Masyarakat sudah darurat maksiat, membuang bayi berarti menghilangkan nyawa. Mengapa perbuatan menghilangkan nyawa seseorang seolah suatu hal lumrah dan sepele? Hanya dengan penanganan psikolog, hukuman yang tak membuat pelaku jera dan sederet pencegahan namun tidak solutif sampai kepada pokok permasalahan. Realitasnya bukan menurun tapi terus meningkat.

Hal ini karena sistem sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang mendukung pelaku maksiat semakin subur. Pun tidak adanya aturan pergaulan dalam interaksi laki- laki dan perempuan di sistem ini, bahkan mereka mengatasnamakan HAM (Hak Asasi Manusia) sebagai dalih. Sistem pendidikan pun, bertujuan hanya sebatas mencapai materialistis yang menjadikan generasi muda memahami tujuan hidup sebatas ilmu yang ia peroleh di sekolah. Dampak dari sekularisasi ini, cenderung berani melanggar aturan syarak. Hal ini menjadi penyebab makin jauhnya keimanan seseorang dalam kehidupan.

Moderasi beragama yang kian deras digaungkan di kalangan generasi muda justru menjauhkan nilai agama. Hal ini bermuara pada pola pikir sekuler, dan tindakan amoral lebih subur. Terbukti kerusakan akhlak terjadi makin parah, sikap egois dan individualis pun tumbuh subur. Semua itu terlahir dari rahim kapitalisme.

Banyak dari mereka berpandangan memiliki materi dan kekayaan adalah sumber kebahagiaan seseorang, sebaliknya jika seseorang dalam keadaan kekurangan harta berarti keadaannya tidak bahagia, malah terkadang dipandang sebelah mata.

Program penanganan oleh dinas terkait, yaitu memberikan edukasi kepada pelaku ibarat pengobatan tanpa pencegahan, maka akan ada kasus serupa yang terus menerus terjadi. Kata pepatah "Lebih baik mencegah daripada mengobati."

Saat ini pemerintah menangani satu persoalan tidak sampai kepada akar masalahnya, seperti kasus pembuangan anak meningkat khususnya di Kabupaten Bekasi. Herannya di sisi lain, konten pornografi berseliweran di media sosial. Hal ini turut memicu timbulnya rangsangan seksual dan pergaulan bebas, sebaliknya peran negara dalam sistem saat ini terkesan membiarkan.

Permasalahan yang menyangkut perbuatan individu dan pribadi oleh negara dibebaskan. Namun ini justru membawa masalah kepada masyarakat akan berdampak jika perbuatan itu terlalu bebas. Maka di sini negara perlu andil keseluruhan.

Islam menawarkan pemecahan seluruh problematika dalam kehidupan. Mengatur interaksi antara laki- laki dan perempuan sesuai hukum syarak, seperti melarang ikhtilat (campur baur laki- laki dan perempuan) dan khalwat (berduaan) bukan mahram selain muamalah sehingga tidak terjadi perzinaan, dan hukuman jera bagi pelaku zina dalam Islam sangat tegas. Larangan berzina dalam Islam dalam Al-Qur'an (surah Al Isra' : 32)

Dari sisi ekonomi, negara wajib menyediakan lapangan kerja sehingga tugas nafkah pada suami tak ada kendala. Larangan dalam Islam orang tua membunuh atau membuang anak hanya karena miskin. (QS. Al An'am 151)

Dalam bidang pendidikan, kurikulum berbasis akidah melahirkan manusia yang bertakwa sehingga rasa takut ketika berbuat dosa dan akan disiksa di akhirat.

Wajibnya negara dalam jaminan kebutuhan pokok, kesejahteraan, dan keamanan pun menjaga akidah setiap warganya agar bertakwa kepada Sang Pencipta. Sehingga perilaku kriminal dapat dicegah secara mengakar.

Negara dalam Islam sangat menjaga dari hilangnya satu nyawa manusia artinya negara melarang arogansi dalam masyarakat berupa aksi membunuh, QS. Al Isra : 33 ”Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar …” dan QS. Al-Maidah : 32 ”Barang siapa yang telah membunuh seseorang yang tidak bersalah maka dia seakan- akan membunuh seluruh manusia”.

Penerapan aturan Allah secara sempurna inilah menjadi dambaan manusia yang ingin meraih hidup tenang dan bahagia hakiki. Maka persepsi keliru tentang arti kebahagiaan hanya dinilai materi dapat ditepis dengan terwujudnya kesejahteraan seluruh rakyat.
Semuanya itu hanya terwujud dalam institusi Khilafah Islam.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Hanimatul Umah Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Bikin Konten Nirfaedah, Ogah!
Next
Jangan Remehkan Penyakit Gagal Ginjal
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

8 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
R. Bilhaq
R. Bilhaq
9 months ago

Miris sekali.. padahal bayi-bayi itu adalah makhluk yang suci.. induk hewan saja memiliki naluri menyayangi anaknya..

Mahganipatra
9 months ago

Buah dari sistem yang rusak berdampak para kerusakan yang menyebar di tengah-tengah masyarakat. Miris, sayangnya masih banyak yang belum sadar terhadap kerusakan sistem ini. Oleh karena itu peluang bagi mereka yang sadar untuk terus melaksanakan amal ma'ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. Agar muncul kesadaran kolektif untuk back to Islam kafah dengan menegakkan khilafah. Allahu Akbar✊️

Neni Nurlaelasari
Neni Nurlaelasari
9 months ago

Sekularisme yang diterapkan terbukti membuat kerusakan. Sayangnya sekularisme sudah ditanamkan bahkan melalui bangku pendidikan. Akhirnya standar halal haram di tinggalkan. Kebebasan tanpa batas di agungkan dengan dalih hak asasi manusia. Hanya penerapan Islam secara menyeluruh yang mampu mengatasi sampai akar permasalahan

Mimi Muthmainnah
Mimi Muthmainnah
9 months ago

Anak adalah estapet bagi ortunya dan penolong bg mereka. Tapi ketika anak tdk dikendaki kelak doa siapa yg diharapkan ortu di dlm kubur terlebih di akhirat. Buah penerapan sistem kufur akhlak jadi kabur.

Reva Lina
Reva Lina
10 months ago

Padahal anak adalah suatu anugerah tersendiri, karena banyak yang menginginkannya namun belum Allah beri percaya. Dan disaat telah Allah percayakan tak sedikit yang mengingkarinya malah ia buang buah hatinya. Sungguh miris pemikiran ini, Sistem yang sudah rusak hingga berujung merusak.

Firda Umayah
Firda Umayah
10 months ago

Di saat banyak yang menginginkan untuk memiliki buah hati, di saat itu pula ada orang yang tega membuang buah hatinya. Ini bukanlah masalah kasuistik semata tapi permasalahan yang muncul dari sistem yang rusak dan merusak.

Angesti widadi
Angesti widadi
10 months ago

Bobrok sampai hilangnya nurani seorang ibu hanya terjadi di sistem kufur, sistem sekulerisme!

Raras
Raras
10 months ago

Sistem sekuler sungguh sistem yang rusak dan merusak. HAM juga dijadikan alasan untuk berbuat semaunya tanpa terikat hukum Sang Pencipta. Setuju dgn penulis, penerapan aturan Allah secara sempurna menjadi dambaan umat untuk hidup damai dan bahagia

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram