Terkesan Keren, Childfree Wujud Terkikisnya Akidah

"Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya"
(Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dalam Shahîh Muslim)


Oleh. Banisa Erma Oktavia

NarasiPost.Com-Sebuah realita yang tak dapat dipungkiri bahwa banyak pemahaman dari negara-negara Barat telah memengaruhi bahkan diadopsi negeri kita, salah satunya adalah sekularisme. Sekulelarisme adalah sebuah paham yang memisahkan urusan duniawi dengan urusan akhirat, memisahkan kepentingan dunia dengan urusan ibadah kepada Tuhan. Manusia di dunia bahkan umat Islam ikut terpedaya masuk ke dalam perangkapnya.

Pemahaman sekuler bak racun berbalut madu. Jeratannya tak terasa namun berbahaya, salah satunya adalah ide Childfree. Sesuai dengan artinya, Childfree berarti membebaskan diri dari pilihan untuk memiliki anak. Jika penganut feminis beranggapan melahirkan bukanlah fitrah melainkan pilihan, maka Childfree adalah pilihan yang tepat baginya.

Sekularisme sebagai asas dari ide kapitalisme jelas mengukur segala sesuatu hanya dari kacamata dunia saja. Menimbang sebuah perbuatan dengan asas manfaat. Maka bagi penganut Childfree, mereka memilih menjalani hidup tanpa keturunan dengan pertimbangan betapa besar beban ekonomi yang akan dipikul orang tua untuk membesarkan anak-anaknya, mulai dilahirkan hingga memasuki usia produktif. Selain perkara ekonomi, mereka juga menilai bahwa melahirkan dan mendidik anak hanya menambah beban sosial. Bagaimana perkembangan anak jika orangtua tidak mampu mendidiknya? Bisa dikatakan bahwa memiliki anak berarti menambah daftar panjang beban dan permasalahan hidup yang akan dihadapi nantinya.

Pemikiran ini tentu sudah menular ke mana-mana. Salah satu pasangan Youtuber yang cukup populer di kalangan anak muda, secara blak-blakan mengungkap alasan untuk tidak memiliki anak. Tentu saja pemikiran ini disponsori oleh elemen masyarakat yang cukup berpengaruh, yaitu publik figur, yang sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat luas, khususnya muslimah.

Mereka yang menganut pemikiran ini menganggap bahwa hidup adalah pilihan. Menikah, memiliki anak dan melakukan sesuatu atau tidak adalah sebuah pilihan. Memang benar segala sesuatu yang ada dalam hidup kita memang lekat dengan pilihan. Tapi, apa iya semuanya itu pilihan? Misalnya saja, apakah ketika lahir ke dunia kita bisa memilih dari rahim siapa? Di negara manakah kita ingin dilahirkan? Ternyata, tidak semua hal yang ada dalam hidup bebas untuk kita pilih. Ada bagian-bagian yang menjadi kehendak Yang Maha Kuasa.

Mengenai pilihan, sebagai seorang muslim tentu kita memahami bahwa anak adalah anugerah sekaligus amanah yang Allah berikan bagi hamba-Nya. Tujuan dari naluri seksual yang telah Allah berikan dan disalurkan melalui hubungan pernikahan adalah untuk melestarikan keturunan. Namun, apabila sepasang suami isteri memilih untuk tidak memiliki anak, lalu dimanakah letak visi misi pernikahan tersebut?

Jika menanggap bahwa menjadi orang tua adalah beban, Islam justru memberikan kemuliaan bagi orang tua yang mendidik anaknya, seperti pada hadits berikut:

عَن مُعَاذِنِ الجُهَنِيِ رَضَي اللٌهُ عَنَهُ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلَي اللٌهَ عَلَيهِ وَسَلَمَ مَنَ قَرَأ القُرانَ وَعَمِلَ بِمَافِيهِ اُلُبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَومَ القَيِامَةِ ضَووُهَ اَحسَنُ مِنُ ضَوءِ الشٌمسِ فيِ بُيُوُتِ الدٌنَيا فَمَا ظَنٌكُم بِالَذِيُ عَمِلَ بِهذَا (رواه احمد وابو داوود ووصححه الحاكم)

Dari Mu'adz al Juharni berkata bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Barangsiapa membaca Al-Qur'an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari seandainya berada di rumah-rumah kalian di dunia ini. Maka bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai orang yang mengamalkannya?"
(HR Ahmad dan Abu Dawud).

Doa anak yang saleh dan salehah kelak menjadi pahala yang mengalir bagi kedua orang tuanya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dalam Shahîh Muslim:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya".

Masya Allah! Betapa istimewanya kesempatan bagi orang tua yang dianugerahkan amanah mendidik anak-anaknya. Anak-anak yang lahir ke dunia memiliki kesempatan yang sama untuk memajukan generasi dan menjadi agen perubahan dalam sejarah peradaban. Lalu mengapakah kita malah membuang kesempatan itu?

Timbullah argumentasi, "Terus, kalau orang tuanya tidak mencukupi secara finansial bagaimana? Bukan kah justru lebih baik tidak punya anak, karena tahu kalau kita tidak bisa menghidupi anak-anak kelak?"

Sebenarnya tahu dari mana kalau finansial yang terbatas menghambat kita dalam menghidupi anak-anak? Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat hal hal yang bukan menjadi kuasa kita sebagai manusia, melainkan Allah semata. Allah berfirman dalam Surah Hud Ayat 6 :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

"Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)" (Q.S Hud: 6)

Ayat di atas jelas mengatakan bahwa setiap yang bernyawa pasti mendapatkan rezeki. Inilah yang menjadi salah satu kekuasaan Allah kepada hamba-Nya. Sementara tugas kita sebagai manusia adalah berusaha menjemput rezeki yang Allah janjikan.

Masya Allah, begitu indah Islam mengatur kehidupan. Apabila kita memilih untuk tidak memiliki keturunan karena takut terbebani, maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak bertawakal kepada-Nya. Terlalu rendah pemikiran seorang muslim apabila meletakkan kepentingan duniawi di atas kepentingan akhiratnya. Mengesampingkan fitrahnya dengan mengukur-ukur kepentingan dunianya. Karena lahirnya seorang anak sejatinya bukanlah beban, melainkan kesempatan menggapai keridaan Allah dan ia merupakan estafet perjuangan umat.

Islam adalah agama yang kafah. Islam tak hanya tentang akidah, melainkan juga mengatur syariat. Tentu saja ketaatan kita dalam menegakkan syariat dapat dilakukan apabila kita memiliki pondasi akidah yang kuat.[]


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Malam Istimewa
Next
Bangkrut
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram