Romansa “Paman Sam” dan “Bibi” Berujung Tumbal Baitul Maqdis

Nestapa kolonialisme yang dirasakan kaum muslimin di Palestina memerlukan kesatuan kekuatan politik, serta militer dari negeri-negeri kaum muslimin. Sebuah persatuan yang nisbi dalam dunia sekuler, namun adalah keniscayaan dalam dunia Islam yang berada di bawah komando kepemimpinan sahih yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah.


Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
(Alumni Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI)

NarasiPost.Com-Dalam perpolitikan internasional adalah hal yang amat wajar bila satu aktor berusaha menggaet aktor lainnya untuk menjadi teman dekat bahkan sekutu dalam banyak hal. Hal ini tentu dibenarkan oleh prinsip simbiosis mutualisme alias asas manfaat yang menjadi landasan dalam era kapitalistik hari ini. Dengan dalil menjaga kepentingan nasional masing-masing aktor, hubungan yang demikian jelas merupakan hubungan yang halal, terlebih dalam perpolitikan sekuler yang memang tak mempertimbangkan titah ilahi di dalamnya.

Bila berbicara konteks kajian Timur Tengah kontemporer, siapapun akan mengetahui dengan jelas tentang hubungan dekat yang terjalin antara “Paman Sam” dengan “Bibi”. Paman Sam atau Amerika ini santer dikenal sangat menggandrungi “Bibi” yang merupakan panggilan dari Benjamin Netanyahu, sang penguasa negara zionis. Terlalu banyak bukti yang menunjukkan betapa romantisnya sikap Amerika kepada Israel. Hubungan keduanya bahkan hampir terjalin di setiap aspek, bukan hanya politik, namun juga budaya, ekonomi, militer, hingga pendidikan.

John W. Mearsheimer mengungkap dalam bukunya “Dahsyatnya Lobi Israel” akan betapa besar pengorbanan yang diberikan Amerika untuk menunjang eksistensi Israel dalam kancah dunia. Tidak tanggung-tanggung, Amerika bahkan disebut tidak jarang ‘merugi’ atau minimal tidak mendapat pengaruh apapun atas apa yang sudah dia berikan untuk Israel.
Melihat kondisi yang menimpa warga Palestina beberapa waktu terakhir, tentu hal ini tak lepas dari peran Amerika yang menjadi pendonor di balik setiap bom, rudal, dan roket yang meluncur ke tanah wakaf kaum muslimin itu. Bahkan sebuah laporan menyebutkan bahwa pajak yang dibayarkan kepada pemerintah Amerika memberikan sumbangsih terhadap sokongan dana untuk Israel setiap tahunnya.
Adalah hal yang fatal bila peristiwa ini dipandang secara tidak komprehensif dengan perbandingan yang tidak apple to apple. Israel yang notabene di-backing oleh Amerika, lengkap dari dana hingga persenjataannya, sementara perjuangan rakyat Palestina hanya didukung oleh retorika-retorika belaka dari para penguasa negeri kaum muslimin, khususnya yang tergabung dalam OKI, organisasi yang latar belakang pembentukannya karena masjid Al Aqsa pernah dibakar dahulu.
Meskipun secara dukungan, Palestina mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan Israel, namun dukungan itu menjadi tak berarti apa-apa tanpa adanya “serangan balasan” yang ditujukan kepada Israel.

Gudang persenjataan negeri-negeri kaum muslimin pun akhirnya hanya menjadi museum yang tak berkontribusi demi menjaga sejengkal tanah Baitul Maqdis dan nyawa-nyawa berharga umat Muhammad Saw. Berbagai kecaman, kutukan, dan retorika yang dilayangkan atas serangan membabi-buta Israel ini sejatinya menunjukkan pembelaan yang setengah hati kepada Palestina.
Permasalahan utama yang dihadapi warga Palestina sesungguhnya adalah masih bercokolnya Israel sebagai sebuah aktor yang mendapatkan pengakuan secara internasional. Bila kita hendak memperjuangkan kemuliaan Palestina sebagai tanah yang memiliki sejarah emas di dalam Islam, maka opsinya hanyalah dengan memutus jalinan romansa Amerika dan Israel, baik dengan menghapus salah satu atau keduanya dari perpolitikan dunia.

Hanya saja, perkara ini tidak akan bisa terwujud selama paradigma politik yang digunakan masih dibalut sekularisme. Hal ini dikarenakan sekularisme yang berakar dari peradaban Barat sulit untuk membenarkan dan membiarkan aktivitas politik yang dilandasi semangat dan ruh agama. Sehingga kerangka perjuangan haruslah dialihkan dari nuansa sekuler menuju perjuangan yang berlandaskan akidah Islam semata.

Nestapa kolonialisme yang dirasakan kaum muslimin di Palestina memerlukan kesatuan kekuatan politik, serta militer dari negeri-negeri kaum muslimin. Sebuah persatuan yang nisbi dalam dunia sekuler, namun adalah keniscayaan dalam dunia Islam yang berada di bawah komando kepemimpinan sahih yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Dengan adanya kepemimpinan Islami yang berdasarkan kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw, yang akan dengan gagah berani mengirimkan para jundullah atau tentara Allah sebagaimana pasukan Shalahuddin al Ayyubi ketika membebaskan Palestina dari cengkeraman kaum Salibis dahulu dengan semangat jihad fii sabilillah, kaki-kaki penjajah zionis dan dukungan hitam dari pencintanya akan mampu hengkang dari tanah yang menjadi kiblat pertama kaum muslimin ini. Wallahu a’lam bisshawwab.[]


photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Peluhmu Jadi Saksi di Akhirat Nanti
Next
Jalan Sunyi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram