Ramadan di Tengah Pandemi, Budaya Konsumtif Tetap Tinggi

Perilaku konsumtif seseorang saat Ramadan dan hari raya memang cenderung meningkat. Padahal Islam sudah mengingatkan agar jangan bersikap berlebihan.“Sesungguhnya pemboros adalah saudara dari setan yang ingkar kepada Tuhannya.”
(Al Quran surat Al-Isra’ ayat 27)


Oleh. Yun Rahmawati,
(Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)

NarasiPost.Com-Tahun ini menjadi Ramadan kedua umat Islam menjalankan ibadah puasa di tengah pandemi yang angka kasusnya masih tinggi. Update per 25 April, 4.402 kasus baru Covid-19 tersebar di 33 Provinsi, paling banyak di DKI Jakarta. Pemerintah pun masih memberlakukan kebijakan membatasi aktivitas jenis usaha dan membatasi masyarakat ke luar rumah.

Dampak pembatasan aktivitas untuk jenis usaha berefek pada geliat perekonomian yang masih lesu, daya beli masyarakat pun menurun. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang sulit justru kebutuhan bahan pokok merangkak naik.

Meskipun harga bahan pangan melangit saat Ramadan, tidak sedikit umat muslim yang merasa pengeluaran keuangannya seringkali menjadi lebih besar untuk kebutuhan konsumsi. Nafsu membeli aneka makanan seakan dimanjakan oleh penjual musiman yang ramai selama Ramadan. Dalam kondisi masih pandemi, masyarakat seakan mulai tidak peduli, berkerumun di tengah keramaian tetap terjadi.

Tidak heran, menjelang buka puasa penjual aneka makanan (takjil) berjejer, memancing nafsu untuk mengumpulkan beragam jenis menu makanan berbuka. Begitu pun dengan menu makan malam dan makan sahur, aneka rupa lauk pauk tersaji di meja makan padahal bisa jadi yang dimakan itu hanya sedikit saja, selebihnya dibuang ke bak sampah.

Menurut Petugas Dinas Lingkungan Hidup, volume sampah pada bulan Ramadan 1442 Hijriah meningkat sebesar 20 persen dibandingkan hari biasa.

Begitu juga minat belanja masyarakat akan memuncak saat seminggu menjelang lebaran. Dijamin mal dan pusat perbelanjaan akan lebih ramai dibanding hari biasa. Senada dengan euforia masyarakat menyambut hari raya, Menteri Keuangan (MenKeu) Sri Mulyani menghimbau masyarakat untuk berbelanja baju lebaran, menyambut Lebaran 2021 dengan penuh suka cita. Menurutnya, meski suasana masih pandemi, momen Hari Raya Lebaran 2021 tetap bisa dirayakan dengan mematuhi protokol kesehatan.

Ajakan Sri Mulyani untuk membeli baju lebaran memang dilakukan secara online dengan alasan untuk menghindari kerumunan serta untuk mendongkrak laju ekonomi yang sedang lesu. Namun ditanggapi masyarakat dengan berbondong-bondong mendatangi mal dan pusat perbelanjaan. Salah satunya terjadi di Pasar Tanah Abang pada Sabtu (1/5/2021). Pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara itu pun membludak dibanjiri pengunjung demi berburu baju lebaran. Aksi desak-desakan pun tak dapat dihindari. Masyarakat seakan abai dengan adanya virus corona yang angka kasusnya masih tinggi.

Saat Ramadan dan menjelang Lebaran perilaku konsumtif di kalangan masyarakat seakan sudah menjadi tren tersendiri. Bahkan, Ramadan di tengah pandemi, budaya konsumtif tetap tinggi. Menurut perencana keuangan Endy Kurniawan, perilaku konsumtif seseorang saat Ramadan dan hari raya memang cenderung meningkat. Menurutnya, tren berbelanja saat Ramadan sudah menjadi kebutuhan pokok. Kebanyakan orang-orang berpikir untuk melengkapi kebutuhan makanannya dan baju baru, tapi sebenarnya hal tersebut tidak terlalu mendesak. Inilah yang memicu pola konsumtif.

Memang tak ada salahnya mempersiapkan sajian berbuka dan menyambut Lebaran, tapi jangan berlebihan karena berlebihan itu disukai setan dan dikhawatirkan jatuhnya pada perilaku mubazir. Padahal Allah menyeru manusia untuk makan secukupnya. Perintah tersebut tertulis dalam Al-Qur'an Surah al-A’raf ayat 31 yang artinya, “Makan dan minumlah dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”

Pada surat Al-Isra’ ayat 27 pun Allah mengingatkan manusia tentang perilaku boros alias mubazir. Dalam ayat tersebut dijelaskan orang yang mubazir disebut sebagai temannya setan. “Sesungguhnya pemboros adalah saudara dari setan yang ingkar kepada Tuhannya.”

Puasa, Mengendalikan Hawa Nafsu

Bulan Ramadan sejatinya menjadi ajang melatih diri dalam mengendalikan hawa nafsu, bukan hanya syahwat biologis, tapi juga syahwat belanja yang berlebihan. Sikap demikian untuk memupuk perilaku hidup sederhana dan rasa empati bagi yang kurang mampu. Selain itu, esensi berpuasa untuk menjadi orang yang bertakwa.

Seharusnya kita memanfaatkan detik-detik akhir Ramadan yang akan pergi dengan memperbanyak ibadah dan bersedekah. Justru yang terjadi masyarakat lebih suka menghabiskan waktu di tempat perbelanjaan. Mirisnya lagi, hal itu terjadi dalam kondisi masih adanya pandemi yang mengancam terjadinya penularan akibat kerumunan yang abai dengan protokol kesehatan.

Menumbuhkan kesadaran untuk tidak berperilaku konsumtif pada masyarakat memang perkara yang sulit di dalam sistem kapitalis yang mengarahkan mereka untuk hedonis. Misal, himbauan MenKeu) akan ada Harbolnas (hari belanja online nasional). Dengan Harbolnas masyarakat didorong untuk berbelanja secara online. Pemerintah akan memberikan subsidi ongkos kirim sebesar Rp500 miliar untuk Harbolnas yang diselenggarakan saat Ramadan yang akan berlangsung pada H-10 dan H-5 lebaran.

Akibat kebijakan yang tidak selaras antara perbuatan dan perkataan dari para pejabat publik, satu saat melarang, pada saat yang lain malah menganjurkan, membuat masyarakat gagap dalam menyikapi peraturan. Contohnya, membludaknya pengunjung di Pasar Tanah Abang akibat kebijakan larangan mudik, sehingga masyarakat memanfaatkan waktu untuk berbelanja. Berikutnya mereka curi start untuk bisa mudik sebelum larangan itu diberlakukan.

Peraturan yang terkesan mencla-mencle ini disebabkan karena pemimpin lebih mementingkan asas manfaat. Ketika ada keuntungan, maka ke sana peraturan berpihak. Bila sistemnya masih belum berubah bisa jadi Ramadan tahun depan perilaku konsumtif masih akan tetap terulang.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Ramai Pengunjung di Pusat Belanja, Paradoks Kebijakan Dipertontonkan
Next
Iman dan Kesabaran, Bagaikan Saudara Kembar
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram