Pemetaan Kekuatan Dunia Islam untuk Merealisasikan Solusi Hakiki bagi Palestina

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗوَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيْر

Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (TQS. at-Taubah: 73)


Oleh: Nurjamilah, S.Pd.I.
(Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Israel semakin besar kepala, merasa jumawa dengan perampasannya terhadap tanah suci Palestina. Penjajah yang berlagak bak korban. Maling teriak maling. Mencari pembenaran atas tindakan biadabnya pada kaum muslim Palestina. Sayangnya, mereka tak tersentuh hukum internasional, karena di-backup oleh negara adidaya AS. Bahkan PBB pun kehilangan taringnya.
Serangan terus diluncurkan sesuka hati mereka, tak pandang waktu. Tak peduli apakah itu bulan Ramadan, hari raya Idulfitri ataukah hari lainnya. Setelah jatuhnya banyak korban jiwa dan luka-luka serta hancurnya fasilitas publik, mereka tipu dunia dengan pengumuman gencatan senjata. Padahal, kapan pun mereka mau, mereka bisa membatalkannya secara sepihak. Sementara itu para pemimpin negeri muslim hanya mengutuk dan sibuk beretorika. No action, talk only.

Sebagaimana diketahui, pertempuran antara Israel dan Hamas sempat memanas selama kurang lebih 11 hari terakhir. Setidaknya, 232 orang Palestina wafat dan ribuan lain mengalami luka-luka. Sementara itu, 12 warga Israel tewas dalam gempuran senjata itu.

Pada Jumat (21/5/2021), Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi dalam Sidang Majelis Umum Persatuan Bangsa-bangsa di New York (Amerika Serikat) menyampaikan tiga tuntutan kepada Majelis Umum PBB terhadap konflik Palestina-Israel. Pertama, menghentikan kekerasan dan aksi militer untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa dengan gencatan senjata dan membentuk sebuah tim internasional di Al-Quds atau Yerusalem. Kedua, memastikan akses kemanusiaan dan perlindungan rakyat sipil, termasuk membuka jalur Gaza yang telah diblokade selama 13 tahun. Ketiga, memulai kembali negosiasi multilateral yang kredibel demi tercipta perdamaian. (www.suara.com, 21/5/2021)

Tak hanya itu, gerakan bernama Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), yakni menyerukan publik global untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap Israel dan korporasi multinasional yang dianggap terlibat dan mendukung pelanggaran HAM terhadap Palestina oleh Israel. (www.detiknews.com, 21/5/2021)

Sementara itu, penggalangan dana untuk warga Palestina dari berbagai negara terus mengalir. Sandang, pangan, dan obat-obatan masih terus diupayakan untuk dimobilisasi ke wilayah itu, walau terhalang banyak kendala. Mirisnya negeri-negeri Arab sekaligus tetangga terdekat Palestina seperti Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Sudan, Maroko, dan Bahrain malah melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Dengan dalih ingin membuka celah negosiasi dengan Israel demi perdamaian Palestina. (www.bbc.com, 15/5/2021)

Warga Palestina menjerit dan tenggelam dalam kubangan air mata dan darah melihat kondisi negeri mereka yang terus menerus digempur penjajah Israel. Tapi ada yang lebih menyakitkan, yaitu bisu dan senyapnya negeri-negeri muslim terhadap aksi itu. Wahai umat Muhammad di manakah kalian?

Nestapa Palestina Akibat Cengkeraman Kapitalisme dan Nasionalisme

Berbagai upaya yang dilakukan negeri-negeri muslim dengan caranya masing-masing dalam menghentikan konflik Palestina-Israel patut diapresiasi. Namun, hal tersebut sejatinya merupakan upaya parsial dan setengah hati, serta tidak efektif untuk dijadikan solusi. Israel tidak akan pernah bergeming.

Setelah lobi-lobi ditempuh, gencatan senjata akhirnya disepakati oleh Hamas Palestina dan otoritas Israel pada Jumat (21/05/2021) pukul 02.00 dini hari. Mesir menjadi negara mediatornya. Euforia warga Palestina akan hal itu tak terbendung, mereka merayakan kemenangan dengan turun ke jalanan Gaza sambil meneriakkan takbir. Belum usai sukacita mereka merayakan kemenangan. Sekonyong-konyong militer Israel merangsek masuk, menodongkan senjata dan gas air mata serta melemparkan granat di komplek Masjid Al-Aqsa. Kebahagiaan berubah menjadi ketakutan lagi.
Israel merupakan bangsa Yahudi, dikenal sebagai kaum yang suka mengingkari janji, melawan bahkan membunuhi para nabi.

Gencatan senjata merupakan tipu muslihat, tak aneh karena tabiat mereka memang selalu ingkar. Oleh karenanya, bahasa diplomasi dan gencatan senjata terbukti tak ampuh menghentikan kebiadaban Israel. Cuma bahasa perang yang efektif membungkam mereka.

Bila kita ingin memetakan kekuatan dunia Islam. Seberapa besar kekuatan militer negeri-negeri muslim? Sungguhkah mereka tak berdaya di hadapan Israel sehingga tidak mampu melakukan pembelaan dengan mengerahkan pasukan militer negara? Padahal warga Palestina saudara seakidah kita dan Al-Aqsa adalah tempat suci dimana para nabi dilahirkan dan mengalir darah syuhada di dalamnya.

Mengutip Global Fire Power, Israel menepati urutan ke-20 dari 140 negara dalam peringkat militer dunia. Israel Defence Forces memiliki hampir 170 ribu personil militer aktif, 595 unit armada tempur udara dan 1650 tank baja. Selain itu, Israel mendapat dukungan sepenuhnya dari Amerika Serikat. Sementara itu, Mesir menempati urutan ke-13 dalam kekuatan militer dunia, memiliki 450 ribu personil militer aktif, 1053 unit armada tempur dan 3735 tank baja. Arab Saudi ada di peringkat ke-17 dalam militer yang memiliki 480 ribu lebih personil militer aktif, 889 unit armada tempur dan 1062 tank baja. Sedangkan Turki ada di posisi ke-11 terkuat dalam militer dunia. Memiliki 355 ribu personil militer aktif, 1056 unit armada tempur dan 3045 tank baja. (www.liputan6.com, 21/05/2021)

Indonesia menempati peringkat ke-16 yang memiliki 400 ribu personil militer aktif, 458 unit armada tempur dan 1762 tank dan kendaraan lapis baja. (www.nasional.kontan.co.id, 18/01/2021)

Berdasarkan pemetaan di atas, maka potensi kekuatan dunia Islam sangat besar. Sebaliknya, kekuatan Israel itu amat kecil. Seandainya saja, negeri-negeri muslim mengerahkan separuh kekuatan militernya, niscaya Israel ambyar tak berkutik. Masalahnya, apakah negeri-negeri muslim punya nyali untuk mengirimkan pasukannya guna menghentikan kebiadaban penjajah Israel? Urusan perang bukan adu jontos belaka. Tapi butuh mental petarung, bukan pecundang. Faktanya, militer Israel itu lemah, begitu pun negaranya, bahkan untuk sekadar eksis pun numpang di wilayah lain. Sejatinya Israel tidak tercantum dalam peta dunia. Israel bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, seandainya tidak didukung negara adidaya Amerika Serikat, negara kapitalis yang mencengkeram dunia Islam.
Lantas apa yang menjadi penyebab mematungnya dunia Islam terhadap penjajahan Israel di Palestina?

Pertama, terkikisnya ketakwaan dalam benak kaum muslim, khususnya para pemimpin mereka. Rasa takut mereka akan kehilangan kekuasaan yang telah susah payah direngkuh dari tuan-tuan mereka, sang negara adidaya. Bahkan melebihi rasa takut kepada Rabb-nya sang pemilik alam semesta.

Mereka seakan lupa akan firman Allah Swt:

فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ

Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (TQS. al-Baqarah: 194)

Juga firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗوَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيْر

Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (TQS. at-Taubah: 73)

Juga sabda Nabi Saw:

إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

Sesungguhnya gerbang-gerbang surga di bawah kilatan pedang.”(HR. Muslim)

Kedua, ideologi kapitalisme yang begitu kuat mencengkeram dunia Islam. Memecah belah kesatuan wilayah Islam dalam sekat nasionalisme dan menancapkan kuku-kuku imperialisme (penjajahan) di dalamnya. Sejatinya semua negeri Muslim sedang dijajah oleh negara-negara kapitalis, hanya berbeda kemasannya. Ada penjajahan berbentuk fisik seperti Israel yang menduduki wilayah Palestina, Amerika yang menggempur Irak, Suriah, Afganistan, dan lainnya. Sementara penjajahan berbentuk nonfisik seperti Indonesia dan negeri Mlmuslim lainnya di wilayah nonkonflik, dijajah melalui sihir demokrasi, jeratan utang dan ketergantungan pada kebijakan negara imperium kapitalis abad ini, yaitu Amerika Serikat (kapitalis Barat) dan Cina (kapitalis Timur). Inilah yang melemahkan kekuatan kaum muslim. Ideologi kapitalisme yang diadopsi oleh negara, berhadapan dengan ideologi Islam yang hanya diadopsi oleh individu, paling banter oleh kelompok. Jelas ini kekuatan yang tidak berimbang.

Ketiga, ketiadaan Khilafah sebagai institusi pemersatu kaum muslim sedunia, pelaksana ideologi Islam sekaligus perisai pelindung umat. Sudah hampir satu abad lamanya Khilafah diruntuhkan oleh antek Yahudi, Mustafa Kemal Attaturk laknatullah ‘alaihi di Turki tahun 1924 M. Sehingga kini, kaum Muslim bagai ayam kehilangan induknya.

Hanya Khilafah yang Bisa Membuat Israel dan Negara Kapitalis Bertekuk Lutut

Bumi Palestina telah lama menjadi milik kaum muslim dengan status tanah kharajiyah pada masa kekhilafahan, tepatnya ketika masa Khalifah Umar bin Khattab ra. pada tahun 15 Hijriah (637 Masehi). Beliau yang secara langsung menerima tanah itu dari pendeta Safruniyus di atas sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Umariyah, salah satu isinya memuat usulan dari kaum Nasrani yang melarang kaum Yahudi memasuki wilayah ini.
Namun, sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah tahun 1924, Palestina jatuh ke tangan zionis Yahudi (Israel), sang penjajah dan agresor. Berawal dari status sebagai pengungsi yang mengemis meminta perlindungan dan tempat tinggal kepada pemimpin Palestina. Bagai pagar makan tanaman, pada tahun 1948 Yahudi mendirikan entitas negaranya dengan menduduki 77 persen tanah Palestina, bahkan 2/3 bagian dari keseluruhan warga Palestina diusir dari kampung halamannya sendiri.

Sejak saat itulah, Palestina merana, darah terus mengalir dan korban terus bergelimpangan akibat agresi Israel. Dari kilasan sejarah ini, tampak bahwa Khilafah menjadi unsur terpenting dalam kesatuan, kekuatan, dan ketaatan kaum muslim.

Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi umat muslim seluruhnya di dunia untuk menerapkan syariat Islam serta mengemban dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia. Khilafah menjadi mahkota kewajiban (tajul furuud) sekaligus kebutuhan kaum muslim yang paling mendesak saat ini, solusi bagi seluruh problematika yang menimpa dunia, termasuk Palestina.

Oleh karena itu, solusi bagi Palestina mencakup jangka pendek dan jangka panjang. Solusi jangka pendek adalah secara serentak seluruh negeri muslim memutus hubungan diplomatik dengan Israel, memboikot seluruh produk yang berasal dan mendukung tindakan Israel, serta mengirimkan pasukan militernya guna membebaskan tanah Palestina dari agresi militer zionis Israel. Ini bisa dilakukan, jika para pemimpin negeri muslim masih punya rasa kemanusiaan, nyali dan berhasil melawan lupa bahkan warga Palestina adalah saudara kita seakidah.

Solusi jangka panjang, dengan memperjuangkan tegaknya Khilafah sebagai institusi resmi kaum Muslim dunia, yang akan memimpin dunia dan menjadi perisai yang melindungi umat Muhammad dari kejahatan Israel dan negara-negara kapitalis. Khilafahlah yang akan memegang komando tertinggi bagi seruan jihad untuk menaklukkan musuh-musuh Islam. Membuat mereka bertekuk lutut dan tak berkutik lagi. Sejatinya inilah solusi hakiki yang wajib diupayakan kaum Muslim.
Wallahu a’lam bi ash-shawwab[]


photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Muslihat si Kulit Merah
Next
Hadirmu
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram