Partai Ummat dan Arah Perjuangan Politik Umat Islam

Sejatinya parpol yang beridentitaskan Islam mestilah mengusung ideologi Islam dalam melakukan manuver politiknya. Hanya saja dalam peta perpolitikan demokrasi saat ini, amat sangat tidak mungkin menemukan parpol Islam yang benar-benar mengusung ideologi Islam murni"


Oleh. Miliani Ahmad
(kontributor Tetap NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Partai Ummat akhirnya resmi dideklarasikan secara virtual melalui Kanal Youtube Amien Rais Official pada Kamis (29/04). Sejumlah nama penting menduduki posisi strategis. Amien Rais menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, sementara Ketua Umum partai adalah Ridho Rahmadi yang juga menantunya Amien Rais. Selain itu, tercatat pula nama MS Kaban, Thalib Sagaf Aldjufri, Ansufri Idrus Sambo dan sejumlah nama penting lainnya.

Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi menyatakan bahwa partai akan fokus pada dua program. Pertama, yang berkaitan dengan terminologi investasi politik. Pada program ini, Partai Ummat akan merangkul generasi muda agar dapat terlibat aktif dalam dunia perpolitikan Indonesia. Kedua, Partai Ummat akan fokus pada investasi di bidang teknologi informasi (IT) dan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. (republika.co.id, 02/05/2021)

Di sisi lain, Amien Rais dalam pernyataannya saat mendeklarasikan Partai Ummat menyebutkan bahwa partainya akan berkolaborasi dengan semua elemen bangsa. Partai Ummat akan siap melakukan perjuangan dan bekerja demi menegakkan keadilan serta melawan kezaliman.

Selain itu, Amien pun juga mengatakan bahwa seluruh mekanisme yang ada dalam sistem demokrasi serta mekanisme konstitusi sudah cukup menjadi wasilah untuk melakukan perbaikan. Sehingga tidak lagi diperlukan cara-cara ekstra konstitusional dan ekstra parlementer untuk mencapai tujuan. (iNewsSumut.id, 29/04/2021)

Partai Ummat, Akankah Membawa Perubahan bagi Kondisi Umat?

Sejatinya parpol yang beridentitaskan Islam mestilah mengusung ideologi Islam dalam melakukan manuver politiknya. Hanya saja dalam peta perpolitikan demokrasi saat ini, amat sangat tidak mungkin menemukan parpol Islam yang benar-benar mengusung ideologi Islam murni. Sebab, ideologi Islam murni yang dimaksud merupakan sebuah ideologi yang memiliki pemikiran Islam (fikrah) dan metode Islam (thariqoh) dalam pengembanannya. Sementara parpol Islam yang ada, banyak terjebak dalam fikroh dan thariqoh yang lahir dari rahim demokrasi. Keadaan parpol Islam pada kondisi ini tentu tak begitu menguntungkan apalagi jika dikaitkan dengan maslahat yang bisa didapat oleh umat.

Kita bisa berkaca dari sejarah bagaimana keadaan parpol-parpol Islam selama masa pemilu 1955-2019. Selama masa itu, parpol Islam selalu berada di bawah dominasi partai-partai sekuler. Parpol Islam pun kerap terbawa arus demokrasi demi mempertahankan eksistensi. Kondisi ini mestinya menjadi cerminan bagi parpol-parpol Islam selanjutnya bahwa demokrasi tak akan mampu membawa perubahan sedikit pun bagi perbaikan umat.

Tentu, menginginkan kebaikan pada diri umat dengan berupaya menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman mestilah menjadi cita-cita bagi seluruh umat Islam. Hanya saja menggantungkan hal tersebut pada sistem demokrasi hanya akan berakhir menjadi halusinasi. Sebab, kezaliman dan ketidakadilan justru lahir dari sistem demokrasi itu sendiri.

Sepanjang sejarah penerapannya, demokrasi telah menjadi musuh abadi bagi umat. Dengan asasnya yang meletakkan kedaulatan berada di tangan manusia, demokrasi terus memproduksi aturan-aturan dan kebijakan-kebijakan yang banyak melucuti kehormatan dan kemuliaan umat Islam. Hukum Allah bisa dinegosiasi bahkan mudah dikebiri dalam demokrasi. Bahkan, penistaan, pelecehan dan kriminalisasi terhadap syariah dan pejuangnya justru banyak terjadi akibat buruknya sistem demokrasi.

Apalagi telah tampak kepada kita semua, nyali parpol-parpol Islam seakan terlucuti saat kezaliman banyak menimpa umat. Banyak parpol Islam yang hanya merespon ala kadarnya agar jangan sampai dikatakan tak memiliki suara. Bahkan ada juga yang tak bergeming dalam merespon peristiwa. Bisa dikatakan dalam keadaan ini, demokrasi telah berhasil membelokkan harapan dan cita-cita partai. Partai tak lagi berdiri bersama umat dan lebih memilih merapat kepada politik pragmatis.

Fakta inilah yang akhirnya membuat umat seakan apatis terhadap keberadaan parpol-parpol Islam. Kezaliman yang begitu tampak, tak pernah selesai meski sejumlah parpol Islam melenggang di panggung kekuasaan. Parpol-parpol apa pun itu, termasuk parpol Islam lebih tersibukkan pada elektabilitas partai, mencari dukungan serta masalah kesiapan partai untuk maju pada kontestasi politik. Partai tak lagi fokus pada tujuan untuk memerhatikan dan memperbaiki kondisi umat. Jika pun ada langkah, itu pun tak menyelesaikan masalah.

Apalagi jika tujuan partai tersebut dijalankan dengan langkah pragmatis yang bersumber dari pemikiran demokrasi kapitalisme, tentu tak akan membawa peubahan apa pun terhadap umat. Tanpa disadari jika partai sampai terjebak pada kondisi seperti ini, partai justru akan menjadi budak bagi kepentingan demokrasi kapitalisme. Semisal dengan fokusnya partai pada program investasi.

Peta Jalan Partai Politik Islam Ideologis

Adi Prayitno, Pengamat Politik dari UIN Jakarta memprediksikan bahwa Partai Ummat hanya akan menjadi partai penggembira saja pada saat kontestasi politik tahun 2024 mendatang. Apalagi respon publik saat pendeklarasiannya terkesan biasa saja dan tidak ada yang spesial. Menurutnya, Partai Ummat dari segi isu dan platform terlampau cammon sense. (tribunnews.com, 02/05/2021)

Selain itu, pengamat politik Universitas Andalas, Asrinaldi mengatakan bahwa Partai Ummat akan sulit untuk memeroleh elektabilitas besar jika menggunakan identitas Islam yang menimbulkan kesan eksklusif dan mempersempit dukungan. Sebab, spektrum politik yang digunakan oleh basis pemilih di Indonesia umumnya nasionalis-religius. (mata-matapolitik.com, 04/05/2021)

Mengamati analisa dari beberapa pakar politik di atas seakan makin mempertegas bahwa upaya untuk membawa Partai Ummat menjadi partai yang bisa dijadikan sandaran bagi umat akan menjadi sulit untuk terealisasi. Terlebih pada percaturan politik saat ini, partai yang membawa identitas Islam tak lagi mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat. Kegagalan parpol Islam, apalagi yang banyak berkubang pada kepentingan pragmatis telah menimbulkan antipati dan sikap apatis umat terhadapnya.

Belum lagi, persaingan ketat yang bakal dihadapi akan membuat kemudi partai mudah terombang-ambing. Jika tak kuat, ideologi partai pasti akan mudah tergerus mengikuti permainan kotor politik demokrasi. Kerentanan kondisi ini makin memastikan nasib Partai Ummat tak akan jauh berbeda dengan nasib parpol-parpol lainnya. Seolah bekerja, namun terjebak dalam persaingan semu yang tak berbuah kebaikan bagi umat.

Tentu, berharap pada demokrasi agar mampu menginisiasi lahirnya partai yang siap melayani umat seperti jauh panggang dari api. Untuk itulah umat perlu mengalihkan arah pandangnya kepada partai politik Islam ideologis sebagai altenatif solusi bagi perbaikan kondisi umat.

Parpol ini memiliki kejelasan konsep dalam asas serta ideologinya. Parpol akan menempatkan akidah Islam sebagai pondasi pergerakan partainya. Ideologinya merupakan ideologi Islam yang melingkupi seluruh pemikiran Islam dan metode (thariqoh) Rasulullah dalam menjalankan perjuangan. Keduanya wajib diadopsi oleh parpol. Tak hanya sampai disitu, partai politik Islam ideologis juga harus mengikat para anggotanya dengan ikatan akidah Islam, bukan dengan ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan nasionalisme, politik kepentingan ataupun ketokohan. Ikatan yang bersimpulkan akidah akan membuat partai menjadi kuat dan memiliki idealisme sejati. Partai tak akan mudah diombang-ambingkan oleh situasi. Anggotanya pun akan siap memperjuangkan ideologi partai dengan segala kemampuannya semata agar ideologi partai bisa diterima oleh umat.

Dengan kejelasan asas, pemikiran, metode serta ikatan di antara para anggotanya, partai ini akan mampu memiliki jati diri utuh. Partai tak akan gamang melewati berbagai macam situasi dan kondisi. Partai pun tak akan terjebak pada kondisi pragmatis apalagi sampai berbelok mengkhianati kepercayaan umat.

Partai Politik dalam Islam

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S Ali-Imran : 104)

Ayat di atas menjelaskan adanya kewajiban bagi umat agar memiliki partai politik yang bertujuan menyeru manusia kepada Islam kafah dan melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.
Partai politik ini harus memiliki visi dan misi yang jelas. Ketika negara Islam belum ada, maka parpol memiliki misi untuk memperjuangkan tegaknya kekuasaan Islam di tengah-tengah umat. Sementara ketika kekuasaan telah ada, maka misi parpol adalah menjaga eksistensi daulah dalam melangsungkan kehidupan Islam.

Dalam Islam, pendirian berbagai parpol tidak memerlukan izin. Semuanya dibolehkan asal mengikuti ketentuan syara’, seperti asas parpol haruslah akidah Islam bukan sosialis, komunis, nasionalis atau liberal. Parpol pun mesti melakukan aktivitasnya secara terbuka bukan tersembunyi apalagi sampai melakukan aktivitas rahasia untuk melakukan makar terhadap negara.

Dalam konteks pemerintahan, parpol Islam berfungsi sebagai check and balance antara penguasa dengan rakyat. Partai akan memberikan muhassabah (koreksi) kepada penguasa jika dalam pengurusannya negara banyak abai terhadap rakyatnya. Apalagi jika penguasa sampai melakukan penyimpangan terhadap hukum-hukum syariah. Sebab, pada praktiknya penguasa tetaplah manusia biasa yang terkadang memiliki kelalaian dalam melaksanakan kewajibannya.
Maka partai akan berfungsi sebagai kontrol terhadap berbagai kebijakan yang dihasilkan negara. Fungsi ini akan memastikan bahwa hukum-hukum Islam akan diterapkan secara benar dan memastikan hak-hak rakyat akan tertunaikan secara maksimal.

Inilah profil partai politik ideologis yang lahir tatanan kehidupan Islam. Dengan kepemimpinan berpikirnya, partai akan terus melakukan proses penyadaran kepada umat dengan Islam. Partai tidak akan melakukan aktivitas-aktivitas lain sebagaimana yang lazim ditemukan dalam demokrasi, seperti berebut kursi kekuasaan. Karena pada dasarnya partai adalah sparing patrner bagi negara.
Wallahua’lam bish-showwab[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Paradoks Larangan Gratifikasi Lebaran di Tengah Budaya Birokrasi Korup
Next
Idul Fitri, Taat Ilahi Sepenuh Hati
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram