Al-Aqsa Diserang, Bagaimana Sikap Muslim Sejati?

"Buah dari keberhasilan Barat dalam Ghazhwul Fikr. Barat telah sukses menanamkan nasionalisme hingga ia menjadi suatu hal yang mengakar dalam kehidupan politik negeri-negeri kaum muslimin, harusnya dialah yang digarisbawahi oleh semua pihak sebagai satu dari dua penyebab utama masalah Palestina yang tak kunjung tampak ujungnya."


Oleh: dr.Arenta Mantasari (Divisi Kastrat HELP-S Muslimah)

NarasiPost.Com-Selama sepekan terakhir, kaum muslimin sedunia disuguhkan oleh aksi biadab dari zionis Israel la’natullah‘alaihim yang menyerang jemaah Masjidil Aqsa. Tidak tanggung-tanggung, dalam serangan yang telah berlangsung sejak 9 Mei 2021 tersebut, lebih dari 20 orang warga Palestina meninggal dunia dengan ratusan lainnya luka-luka. Bahkan para wanita dan anak-anak pun tak luput dari serangan keji mereka. Tidak cukup dengan merusak kekhusyukan ibadah kaum muslimin di masjid suci tersebut, tentara Israel pun menduduki wilayah Sheikh Jarrah dan mengusir ribuan warga yang sebelumnya mengungsi dan menetap di sana. Maka kesedihan dan kemarahan pun mewarnai 10 hari terakhir Ramadan kali ini. Kedamaian dan kebiasaan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah kepada Allah, terpaksa dikubur dalam-dalam oleh kaum muslimin di Palestina.
Menanggapi kejadian ini, koalisi Perempuan Indonesia untuk Al Quds dan Palestina (KPIQP) ikut menyampaikan pandangannya dalam aksi damai secara virtual pada Minggu, 9 Mei 2021.

Nurjanah Hulwani, Ketua KPIQP, menyampaikan kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina sudah menjadi persoalan akidah sekaligus kemanusiaan. Menurut dia, dalam persoalan ini, umat Islam harus berjuang menanamkan kepedulian dengan perannya masing-masing. “Sebab sejatinya persoalan Al-Quds bukan sekadar tanggung jawab lembaga kemanusiaan ataupun KPIQP. Kita semua kelak di akhirat akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat untuk persoalan Palestina?” kata Nurjanah. (viva.co.id)

Selain KPIQP, Ketua Komisi VIII DPR RI, Ace Hasan Syadzily turut buka suara. Ia mengecam tindak kekerasan yang dilakukan polisi Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa. "Saya kira PBB dan negara-negara OKI harus turun tangan untuk menyelesaikan kekerasan berdarah ini. Kekerasan ini harus disudahi," ujar Ace (news.detik.com).

Cukupkah Mengecam?

Jika kita menelisik sejarah Palestina, maka akan kita dapati banyak peristiwa yang saling berangkaian satu sama lain yang memperjelas mengapa Palestina bisa berakhir seperti kondisinya saat ini, baik berbagai kejadian ketika daulah Islam masih tegak, hingga akhirnya daulah Islam sebagai junnah telah runtuh (pasca 3 Maret 1924). Jika timeline sejarah Palestina dibahas secara adil, maka akan kita dapati bahwa wilayah ini telah menjadi incaran Yahudi sejak lebih dari satu abad yang lalu. Berbagai lika-liku peristiwa politik di dunia Islam juga dunia memengaruhi nasib negeri ini, hingga akhirnya pada tahun 1947, Yahudi menemukan jalan atas apa yang mereka cita-citakan, yakni berdirinnya negara Israel. Di tahun tersebut PBB mengeluarkan Rencana Pembagian yang mengakui keberadaan negara Yahudi. Setahun setelahnya, zionis yang sudah mendapat dukungan politik begitu besar akhirnya mengumumkan keberadaan negara Israel, yang pada faktanya terus meluas karena invasi dan pencaplokan wilayah Palestina yang mereka lakukan hingga detik ini.
Tahun demi tahun berlalu, kecaman demi kecaman terus terlontar dari lisan individu masyarakat bahkan hingga orang tertinggi di negeri-negeri kaum muslimin. Namun mengapa permasalahan di Palestina tidak kunjung usai? Mengapa justru wilayah Palestina semakin menciut di peta? Mengapa dari tahun ke tahun frekuensi dan intensitas serangan Israel justru makin meningkat?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah cukup memberikan gambaran, bahwa kecaman hanyalah lip service semata. Tak lebih dari pemanis untuk menghilangkan pahit getir perasaan kaum muslimin yang melihat saudara seakidahnya dizalimi. Kecaman bukan merupakan ikhtiar nyata yang dapat kita lakukan untuk membantu saudara-saudara muslim di Palestina. Bahkan berbagai resolusi yang dikeluarkan PBB pun sejatinya tidak pernah membantu memperbaiki keadaan. Kecaman dan resolusi takkan pernah cukup untuk membendung aksi keji zionis Yahudi dan negeri-negeri pendukungnya dalam melanjutkan apa yang telah mereka mulai.

Memahami Akar Masalah Palestina

Mengacu pada sejarah panjang Palestina, maka jelas permasalahan mereka adalah permasalahan kaum muslimin secara keseluruhan, sebagai saudara yang melihat hak saudara seakidahnya direnggut oleh otoritas kafir penjajah. Untuk menghasilkan penyikapan yang tepat, maka generasi muslim yang serius ingin membebaskan Al-Quds haruslah memahami bahwa permasalahan Palestina bukan sekadar masalah memberikan dukungan atas kemerdekaan dan pengakuan kedaulatan Palestina. Bukan pula sekadar konflik antarumat beragama, apalagi sekadar masalah kemanusiaan semata. Jika mengkaji lebih dalam lagi, kita akan menemukan bahwa akar masalah Palestina yang sesungguhnya adalah :
Kedaulatan yang sejatinya tidak pernah ada di tanah Palestina.

Banyak pihak yang menyatakan dukungannya terhadap kaum muslimin di Palestina,dengan tujuan untuk membuat Palestina kembali berdaulat dengan cara-cara yang sesuai dengan khiththah kapitalisme. Namun pihak yang bersangkutan sebenarnya lupa tentang apa itu kedaulatan dan bahwa kedaulatan itu sejak lama telah direnggut dari kaum muslimin Palestina, bahkan sejak Daulah Utsmaniyyah masih berdiri.

Tanah Palestina adalah tanah milik kaum muslimin yang dirampas oleh kafir penjajah. Bagi kaum muslimin, tanah Palestina memiliki keterikatan kuat dengan mereka, baik dari ikatan akidah, pun dari ikatan politis berupa status Palestina sebagai tanah kaum muslimin yang telah dibebaskan di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. Syariat mengharuskan adanya pembelaan oleh kaum muslimin tanpa terkecuali hingga titik darah penghabisan. Jika kaum muslimin gagal memahami ini, maka pada suatu saat mereka akan kehilangan motivasi membela tanah Palestina akibat tipu daya yang terus digencarkan oleh Barat, sama seperti apa yang menimpa Andalusia.

Kegagalan Kaum Muslimin dalam Merumuskan Urgensitas Masalah Palestina

Begitu banyak forum, kajian, juga diskursus-diskursus yang membahas tanah Palestina. Bahkan tidak sedikit gerakan Islam yang menjadikan pembebasan Palestina sebagai salah satu tujuan mereka bergerak di tengah-tengah umat. Namun, nyatanya hingga detik ini pendudukan oleh kafir penjajah beserta anteknya terus terjadi. Adalah suatu hal yang tidak tepat ketika mengatakan masalah Palestina adalah masalah pertama dan utama untuk diselesaikan, yang seolah-olah ketika pembebasan serius dilakukan, maka beres pula berbagai masalah kaum muslimin. Pemikiran seperti ini sebenarnya lahir dari kesalahpahaman di tengah-tengah umat, yang berawal dari masuknya sekularisme dan nasionalisme ke dunia Islam menjelang abad ke-20. Ketika pemikiran kaum muslimin dikotak-kotakkan berdasarkan sekat negara bangsa, maka yang terlihat adalah pendudukan zionis Yahudi di tanah Palestina atas dukungan negara adidaya hanyalah masalah Palestina sendiri. Pun ketika ada keinginan untuk menolong, negeri-negeri kaum muslimin tidak akan pernah sampai pada solusi hakiki karena langkah mereka tercekat begitu mereka berniat untuk melangkah. Yang paling menyedihkan justru gerakan-gerakan pembebasan yang diikhtiarkan oleh rakyat Palestina, beberapa di antaranya belum sanggup melepaskan diri dari jerat nasionalisme. Sehingga sekeras apapun mereka mencoba, tetap saja hasil yang mereka peroleh adalah kemerdekaan dan kedaulatan semu yang hanya ada di atas kertas. Faktanya tetap saja nol besar.

Inilah buah dari keberhasilan Barat dalam Ghazhwul Fikr. Barat telah sukses menanamkan nasionalisme hingga ia menjadi suatu hal yang mengakar dalam kehidupan politik negeri-negeri kaum muslimin, harusnya dialah yang digarisbawahi oleh semua pihak sebagai satu dari dua penyebab utama masalah Palestina yang tak kunjung tampak ujungnya.

Pun masalah paling mendasar yang harusnya menjadi fokus perhatian semua pihak adalah ketiadaan daulah Islam yang di masa lampau berhasil menjadi junnah bagi seluruh wilayah yang diri'ayahnya, termasuk tanah Palestina. Terbukti setelah keruntuhannya pada tahun 1924, pihak musuh Islam makin leluasa merampas tanah kaum muslimin juga melaksanakan seluruh makar yang telah mereka rencanakan sejak lama, termasuk migrasi besar-besaran orang Yahudi ke tanah Palestina yang terhalang selama berabad-abad, baru bisa terealisasi ketika daulah telah runtuh, disusul dengan tegaknya negara Yahudi dua dekade setelahnya.

Solusi Hakiki untuk Palestina

Maka apa yang kita saksikan dalam berbagai foto dan video yang masif beredar di berbagai media tentang kondisi di Palestina saat ini seharusnya tidak hanya memelatuk rasa kemanusiaan semata. Lebih dari itu, keimanan seorang muslim mestinya terusik hingga mereka tergerak untuk melakukan perubahan secara benar. Perubahan yang akan membebaskan tidak hanya Palestina, namun juga seluruh negeri kaum muslimin dari belenggu ideologi kapitalisme.
Suka tidak suka, adalah daulah khilafah yang akan menyelesaikan berbagai permasalahan penjajahan di dunia Islam saat ini. Penjajahan fisik yang bermula dari penjajahan pemikiran. Kita butuh institusi seagung khilafah Islam untuk menyadarkan seluruh elemen umat agar bangkit dan bergerak bersama melakukan transformasi menjadi khairu ummah. Kita juga butuh institusi seagung khilafah untuk mengirim bala tentara, yang tak takut akan kematian karena meyakini jannah-Nya sebagai balasan, untuk membebaskan alAl-Aqsa. Seperti itulah syariat agung yang diturunkan Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. untuk kita amalkan.

Tak cukup dengan kecaman! Bahkan tak cukup dengan mengirimkan doa, donasi dan obat-obatan semata. Muslim sejati yang mendambakan kedaulatan dan kemerdekaan hakiki bagi tanah Palestina dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya harus ambil bagian dalam ikhtiar dakwah pemikiran guna mengembalikan kembali kehidupan Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Rasyidah. Kehidupan inilah yang akan memanusiakan manusia, juga mejaga tiap jengkal tanah kaum muslimin dari penjajahan kaum kafir.
[Allahu a’lam bi ash-shawaab][]


photo :Pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Ilusi Kemajuan Ekonomi dalam Sistem Demokrasi Kapitalisme
Next
Tiada Kemuliaan sebelum Perkara ini Dikembalikan Sebagaimana Umat Terdahulu
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram