Negara Bahagia ala Kapitalisme vs Islam

Negara Bahagia

Negara bahagia hanya tercipta ketika dipimpin oleh pemimpin yang meriayah rakyatnya dengan adil, bertanggung jawab, dan memprioritaskan kehidupan rakyatnya.

Oleh. Ummu Ainyssa
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Hai, Sobat, siapa sih yang enggak mau merasakan kebahagiaan? Sudah pasti semua orang mau dong, ya. Apalagi kebahagiaan itu diakui oleh dunia internasional. Wah, tentu tambah keren. Apalagi setiap bulan Maret sudah ditetapkan sebagai hari kebahagiaan internasional. Sayangnya nih ya, standar dalam menentukan kebahagiaan itu berbeda-beda tergantung persepsi dari masing-masing orang atau sistemnya.

Jadi nih, Sob, tanggal 20 Maret 2024 kemarin, World Happiness Report kembali merilis hasil survei kebahagiaan internasional. Dari hasil survei tersebut, Finlandia, negara di Eropa ini menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling bahagia. Menyusul di urutan kedua hingga kesepuluh ditempati negara Denmark, Irlandia, Swedia, Israel, Belanda, Norwegia, Luxemburg, Swiss, dan Australia. Sementara itu, Indonesia sendiri masuk urutan ke delapan puluh dari hasil survei lebih dari 140 negara yang ada di dunia.

Wah, sekilas terlihat keren negara-negara yang mendapat peringkat sepuluh besar ini. Namun, yang menjadi pertanyaan, survei tersebut standarnya ala apa ya? Bener enggak nih, negara itu sudah merasakan kebahagiaan yang hakiki? Sampai-sampai yang bikin kaget, bagaimana bisa negara penjajah seperti Israel pun masuk ke urutan kelima? Mang boleh, ya, sebahagia itu negara yang selama lebih dari empat puluh tahun merampas dengan paksa wilayah yang bukan miliknya? Sebahagia itukah mereka saat setiap detik menumpahkan darah kaum muslim Palestina? Oh, No!

Nah, ternyata International Day of Happiness (Hari Kebahagiaan Internasional) ini diselenggarakan oleh PBB sudah sejak 12 Juli 2012 lalu. Kemudian Majelis Umum PBB dalam revolusioner 66/281 menetapkan setiap tanggal 20 Maret sebagai hari bahagia internasional. Penelitian ini didasarkan pada rata-rata selama tiga tahun penilaian setiap populasi terhadap kualitas hidup mereka. Survei yang dilakukan pun mempertimbangkan enam faktor utama yang menurutnya memengaruhi kebahagiaan, yaitu dukungan sosial, pendapatan per kapita, harapan hidup sehat, kebebasan dalam hidup, kemurahan hati, dan tidak adanya korupsi.

Nah, tahun ini Finlandia kembali dianggap sebagai negara yang paling memenuhi standar ini dengan perolehan nilai tertinggi. Bahkan negara ini sudah menempati posisi tertinggi selama tujuh tahun berturut-turut. Namun, bener enggak sih kalau memang negara itu sudah layak menempati posisi negara yang paling bahagia?

Bahagia Semu ala Kapitalisme

Hampir seluruh negara di dunia saat ini menganut sistem kapitalisme dengan melahirkan anak sekularisme. Padahal kian hari kerusakan akibat sistem ini kian tampak. Salah satunya, sistem ini tidak akan pernah mampu mewujudkan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan dalam sistem ini hanya diukur dari sisi materi saja. Kepuasan individu serta banyaknya harta menjadi standar dalam menentukan kebahagiaan.

Sekularisme yang menjadi pijakan dalam aktivitasnya membuatnya tidak peduli lagi meski harus menabrak halal dan haram ya, Sob. Realitasnya, standar ini hanya melahirkan masyarakat yang rakus dan jauh dari keberkahan. Jadi, meski telah menentukan hari bahagia sedunia, nyatanya sistem kapitalisme ini tak mampu menutupi kegagalannya dalam mewujudkan kebahagiaan yang hakiki.

https://narasipost.com/motivasi/07/2022/tujuh-jalan-mencapai-kebahagiaan/

Jika kita tengok, ya, Sob, kehidupan di Finlandia pun tidak seindah hasil survei. Negara yang menjadi standar kebahagiaan bagi dunia ini rupanya memiliki sisi kelam di baliknya. Rupanya, negara di Eropa ini memiliki proporsi kematian akibat narkoba tertinggi di bawah usia 25 tahun. Pada tahun 2022 saja, hampir 30 persen korban berusia 25 tahun ke bawah. Bahkan mereka yang meninggal rata-rata sepuluh tahun lebih muda dibandingkan di negara Uni Eropa (UE) lainnya.

Banyak kasus overdosis terjadi di Finlandia akibat adanya berbagai zat di dalam tubuh, terutama alkohol, buprenorfin, dan benzodiazepin. Bahkan remaja berusia 12 tahun pun disinyalir telah mengonsumsi ganja. Buruknya lagi, hanya 20 persen dari penderita ini yang menerima pengobatan di Finlandia, dibandingkan dengan 70 persen di negara tetangganya, Swedia. (Liputan6.com, 18-12-2023)

Negara Bahagia ala Islam

Tentunya kebahagiaan semacam ini sangat berbeda dalam pandangan Islam ya, Sob. Di dalam Islam kebahagiaan hakiki bukan hanya sebatas kebahagiaan di dunia saja ya, tetapi juga kebahagiaan untuk akhirat. Sebab, dalam Islam tolok ukur kebahagiaan adalah ketika Allah rida atas setiap aktivitas kita. Jadi nih, syarat agar Allah rida adalah ketaatan, yaitu ketika semua perbuatan kita sesuai dengan perintah-Nya, serta tidak melanggar apa yang menjadi larangan-Nya.

Artinya kebahagiaan adalah saat kita terikat dengan hukum syarak dalam setiap perbuatan. Kebahagiaan inilah yang nanti akan menjadi penentu dari kebahagiaan di akhirat. Maka, percuma ya Sob, menjadi negara yang bahagia tetapi hanya di dunia saja.

Di dalam Islam, negara bahagia adalah negara yang taat. Yaitu negara yang menerapkan seluruh aturan-Nya secara kaffah sebagai solusi dalam menyelesaikan segala persoalan. Negara yang akan mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. karena ketaatannya. Sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 96,

"Bahwa sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Allah akan limpahkan keberkahan dari langit dan bumi..."

Jadi, negara yang bahagia adalah negara yang menjalankan kewajibannya sebagai riayatu suunil ummah (pengurus seluruh urusan umat). Negara yang pemimpinnya takut dosa saat membiarkan rakyatnya hidup dalam kesusahan, kemiskinan, kelaparan, tertindas, dan lain-lain. Oleh karena itu, negara akan memenuhi semua hak rakyatnya, sebab mereka paham bahwa ketika mereka membiarkan rakyatnya dalam posisi demikian, niscaya berat pertanggungjawaban mereka di hadapan Allah kelak.

Jika kita tengok sejarah masa lalu, Rasulullah saw. dan juga para sahabat dan generasi setelahnya telah mencontohkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang bisa menjadikan negara yang dipimpinnya menjadi negara bahagia yang diridai Allah Swt. dengan meriayah semua rakyatnya.

Kita tengok bagaimana seorang amirulmukminin Umar bin Al-Khattab menangis takut dosa ketika melihat ada rakyatnya, seorang ibu hidup dalam kemiskinan sedang merebus batu untuk menenangkan anaknya yang menangis karena kelaparan. Ia pun rela memanggul gandum dan mengantarnya sendiri ke kediaman ibu miskin tadi. Bahkan beliau juga pernah menangis saat melihat seekor keledai terjatuh di jalan yang berlubang. Sebab ia takut akan pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak.

Kisah yang tak kalah untuk dijadikan sebagai role model pemimpin negara bahagia adalah khalifah dari bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz. Selama kurang dari 3 tahun masa kepemimpinannya, beliau berhasil menghapuskan segala tindak kriminal. Ia adalah pemimpin negara yang adil, bertanggung jawab, dan sangat mengutamakan kehidupan rakyatnya.

Kebijakan ekonomi Islam yang diterapkannya mampu mengentaskan kemiskinan dan memberikan kesejahteraan kepada seluruh warganya. Tidak ada seorang miskin pun yang membutuhkan subsidi atau zakat pada masa pemerintahannya. Ia berhasil membahagiakan rakyatnya bukan hanya di dunia saja tetapi juga dalam urusan akhirat.

Semua kisah ini dilakukan semata-mata karena ketakutan dan ketaatannya kepada Allah dan ketaatan untuk mengikuti seluruh syariat yang dibawa oleh Rasulullah. Ketaatan dalam penerapan syariat Allah inilah yang akan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang menjadikan negara bahagia, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.

“Dan tidaklah Kami mengutus mu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lilalamin).” (TQS Al-Anbiya: 107)

Inilah standar yang mestinya dipakai untuk menentukan negara bahagia ya, Sob, yaitu negara yang mampu me-riayah seluruh rakyatnya dalam keimanan dan ketaatan, serta menerapkan seluruh syariat Allah secara kaffah, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Wallahu a'lam bishawab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com
Ummu ainyssa Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Dakwah Penyelamat Hidup
Next
Merdeka Belajar & Nasib Generasi di Antara Kebijakan Kapitalistik
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

4 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Diah
Diah
6 days ago

Bulan Maret adalah bulan duka bagi seluruh kaum muslim karena bulan diruntuhkannya kekhilafahan terakhir Turki Usmani oleh Kemal Turk Laknatulloh alaih

Mimy muthmainnah
Mimy muthmainnah
8 days ago

Masyaallah barakallah mencerahkan naskahnya. Jazakillah khairan mb ummu Ainysa

Raras
Raras
9 days ago

Kebahagiaan umat di masa kejayaan Islam telah terbukti berabad-abad

Yuli Juharini
Yuli Juharini
9 days ago

Bagi seorang muslim, bulan Maret justru bulan penuh derita karena pada bulan Maret lah kekhilafahan Turki Utsmani dibubarkan oleh Mustafa Kemal laknatullah, seorang agen Inggris.

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram