Cukup Seratus Tahun Hidup Tak Berkah Tanpa Khilafah

"Selama seratus tahun kaum muslimin berada di bawah bayang-bayang kaum imperialis Barat penjajah yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan"


Oleh. Siti Aisyah, S.Sos.
(Komunitas Muslimah Menulis Depok)

NarasiPost.Com-Saat ini kita sudah berada di bulan Rajab 1442 Hijriah yang mempunyai sejarah penting bagi kaum muslimin di dunia. Tepatnya, sudah seratus tahun kita hidup tak berkah tanpa khilafah. Pasalnya, sejak tragedi penghapusan kekhilafahan terakhir umat Islam, Khilafah Utsmaniyah pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M) oleh Mustafa Kemal Ataturk, seorang etnis Yahudi Dunama yang merupakan antek Inggris, sampai sekarang ini kaum Mlmuslimin di seluruh dunia hidup dalam kenestapaan dan kesengsaraan.

Selama seratus tahun kaum muslimin berada di bawah bayang-bayang kaum imperialis Barat penjajah yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan. Selama seratus tahun pula, aturan yang dipakai bukan lagi aturan dari Sang Pencipta, Allah Swt, tapi aturan buatan manusia, sistem kufur demokrasi. Islam dan kaum Muslimin pun hidup dalam kehinaan dan kesengsaraan serta tak ada keberkahan di dalamnya. Salah satu kesengsaraan dan kenestapaan hidup kaum muslimin tanpa khilafah di antaranya:

Pertama, kaum Muslimin banyak jumlahnya tapi tertindas dan terpecah belah. Kaum muslimin jumlahnya banyak, lebih dari 1,5 miliar di seluruh dunia, namun tersekat-sekat menjadi 50 negeri muslim yang hidup atas dasar nasionalisme. Sehingga perasaan kaum muslimin sebagai satu tubuh (Jika salah satu tubuhnya sakit, tubuh yang lainnya akan merasakan sakit pula) sudah tidak ada lagi. Akibatnya, ketika saudara Muslim lainnya seperti di Pakistan, Uighur, Palestina, Afganistan ditindas, dilecehkan bahkan dibunuh oleh kafir penjajah, saudara muslim yang lainnya tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ada yang tidak peduli dengan nasib mereka.

Kedua, kekayaan alam negeri-negeri kaum muslim dieksploitasi dan dirampok. Allah memberikan keistimewaan kepada negeri-negeri kaum muslim, yakni kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Namun, ketika khilafah hancur, kekayaan alam tersebut diambil-alih dan dijarah oleh kafir penjajah dan anteknya atas nama investasi. Padahal, semua itu milik kaum muslimin. Jika ada khilafah, khilafah akan mengelola sumber daya alam tersebut dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat, baik dalam bentuk fasilitas ataupun pelayanan berupa pendidikan dan kesehatan gratis serta hal lainnya yang menjadi kebutuhan pokok rakyat.

Ketiga, kaum muslimin hilang wibawanya. Tanpa khilafah yang menaunginya, kaum muslimin sudah tidak lagi menjadi khairu ummah (umat terbaik). Malah kondisi umat semakin terbelakang, hilang kewibawaannya sehingga dengan seenaknya dapat dihinakan oleh kafir Barat penjajah. Kaum nuslimin pun hidup bagai buih di lautan (banyak tapi tidak bisa --berbuat apa-apa) dan seperti harimau yang kehilangan taringnya (sudah tidak punya kekuatan lagi).

Kempat, kaum muslimin jauh dari ajaran Islamnya sendiri. Tanpa khilafah, Kaum muslimin semakin jauh dari ajaran agamanya sendiri sehingga menganggap syariah Islam sudah ketinggalan zaman dan tidak relevan untuk diterapkan. Bahkan, sebagian kaum muslimin ada yang memusuhi, alergi dan benci dengan ajaran agamanya sendiri.

Kelima, Al-Quran dan Rasulullah Saw dihinakan serta tempat suci umat Islam ternoda. Tanpa khilafah, kafir Barat penjajah berulang kali terus menerus menghina Al-Qur’an dan Rasulullah Saw serta tempat-tempat suci kaum Muslim pun ternoda. Di antaranya, Al-Quds. kiblat pertama umat Islam, hingga saat ini dinodai oleh zionis Israel. Kaum muslimin pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagian mereka hanya bisa mengecam bahkan ada pula yang hanya diam saja tak ada pembelaannya.

Keenam, kaum muslimin dipimpin oleh penguasa Ruwaybidhah dan Sufaha’ (bodoh/dungu). Dalam Hadits Riwayat al Hakim, Rasulullah Saw bersabda, Ruwaybidhah adalah orang bodoh yang mengurusi urusan orang banyak. Muncul juga para pemimpin Sufaha’ (bodoh/dungu). Begitu juga dalam Hadits riwayat Ahmad, Rasulullah Saw bersabda, mereka adalah “Para pemimpin sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku.”

Oleh karena itu, agar kaum muslimin tidak hidup dalam kenestapaan, kesengsaraan dan semakin terpuruk, sudah saatnya kaum muslimin di seluruh dunia bersatu dan bergerak untuk mengembalikan kejayaan Islam yang dulu pernah ada yakni khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Marilah kita sama-sama mewujudkan kembali kegemilangan Islam sebagai negara adidaya yang menjadikan khilafah sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Kaum Muslimin juga harus tahu bahwa menegakkan khilafah merupakan kewajiban syariah terbesar, yang telah menjadi ijma Sahabat. Para ulama mu’tabar dari berbagai madzhab pun telah sepakat atas kewajiban menegakkan imamah atau khilafah ini.  Maka, cukup seratus tahun kaum muslimin hidup di bawah bayang-bayang kaum kafir penjajah. Cukup seratus tahun kita sengsara tanpa khilafah. Cukup seratus tahun saja, kaum muslimin tidak berkah tanpa khilafah. Marilah kita bergandengan tangan mewujudkan itu semua. Allahu Akbar. []


Photo : Pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Seks Bebas, Wabah di Tengah Pandemi
Next
Peredam Syahwat
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram