Muslimah Afganistan Teriak Keadilan, Islam Kaffah Solusi Riil

Pasca AS hengkang dari Afganistan pada Agustus 2021 lalu, tidak serta-merta kondisi kaum muslim membaik. Amerika tidak akan begitu mudah melepas mangsanya sebelum menancapkan hegemoninya.

Oleh. Uqie Nai
(Member AMK4)

NarasiPost.Com-Awan gelap yang menggelayut di langit Afganistan sepertinya masih enggan beranjak pasca pendudukan Taliban dan menjadi penguasa baru di sana. Saat ini, ekonomi Afganistan sedang berada di bawah tekanan besar. Harga-harga melambung, bahan bakar naik tajam, uang tunai berkurang, diperparah lagi adanya penghentian bantuan asing dan kekeringan. Taliban yang dianggap mampu mengembalikan keamanan dan kenyamanan akibat rezim Ashraf Gani, nyatanya tak berkutik dengan ulah Amerika yang membekukan seluruh aset Afganistan. Kemiskinan, kelaparan, pemberontakan, dan demonstrasi akan membuat Taliban merasa terpuruk tanpa dukungan pemimpin muslim lainnya yang juga bungkam.

Keterpurukan sebagai sisa konflik dan perang semakin menorehkan pedih di hati kaum perempuan dan anak-anak karena kondisi ekonomi sedemikian bertambah buruk, hingga memaksa para wanita turun berdemonstrasi di depan Universitas Kabul. Atas nama hak asasi manusia (HAM), mereka meneriakkan kesetaraan, keadilan, serta menuntut pemulihan ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan yang layak. (Republika.co.id, 17/01/2022)

Keterpurukan Afganistan Akibat Hegemoni Kapitalisme

Pasca AS hengkang dari Afganistan pada Agustus 2021 lalu, tidak serta-merta kondisi kaum muslim membaik. Amerika tidak akan begitu mudah melepas mangsanya sebelum menancapkan hegemoninya. Hal ini terungkap dari perjanjian Doha antara AS dan Taliban (29 Februari 2020) dengan poin pentingnya antara lain: AS menarik mundur pasukannya; meminta Taliban untuk tidak menjadikan tanah Afganistan sebagai basic kelompok yang bertentangan dengan AS (teroris); AS berjanji melepaskan tahanan politik Taliban; dan terakhir adalah gencatan senjata.
Sebagai pemerintahan baru, Taliban tidak akan mampu memulihkan krisis negaranya secara cepat. Diperlukan waktu yang panjang seiring sistem dan mekanisme yang tepat, juga dana yang sangat besar. Pertanyaannya, dari mana Taliban mendapatkan dana tersebut? Mengingat dana yang ada pun dibekukan AS, sementara untuk mengelola aset dalam negeri butuh juga biaya, tenaga, dan waktu.
Pembekuan aset yang dilakukan AS berupa 10 dolar AS emas Afganistan, investasi, dan cadangan mata uang asing adalah cara Joe Biden untuk menekan Taliban agar tunduk dan mau mengatur pemerintahannya sesuai arahan Barat. Namun, Taliban menolak campur tangan AS dan dunia internasional tentang cara memerintah atau memaksa budaya asing masuk ke Afganistan.

Menurut Anas Haqqani, salah seorang Anggota Komisi Politik Taliban mengatakan bahwa jika warga dunia berpikir mereka dapat memberikan banyak tekanan melalui masalah ekonomi (pembekuan dana) adalah pemikiran yang sangat salah, sebab rezeki tidak ada di tangan Biden, Eropa, Rusia atau Cina. Pekerjaan rumah Taliban memang cukup kompleks, bukan saja faktor internal yang harus dibenahi, tetapi juga faktor eksternal yang terus mengembuskan pertentangan dan propaganda negatifnya melalui lembaga internasional dan media Barat, di antaranya isu tentang kezaliman Taliban terhadap kaum feminis, anak-anak, dan nasib mereka ke depannya saat diterapkannya syariat Islam.

Kembali lagi, isu tersebut adalah agenda Barat untuk menekan Taliban agar sejalan dengan demokrasi dan kapitalisme. Maka, semestinya pemerintahan Taliban dengan dukungan umat mampu mengatasi kondisi negerinya serta terbebas dari tekanan, asalkan memiliki sistem yang kuat dan tahan krisis untuk menghadapi tekanan asing dan hegemoninya.

Serukan Islam Kaffah, Adang Laju Kapitalisme

Posisi Taliban memang sedang diimpit masalah internal dan eksternal sebagaimana negara lainnya yang mengadopsi paham Barat bernama kapitalisme. Untuk aspek internal, Taliban harus bisa meyakinkan bahwa pemerintahannya mampu mengembalikan hak-hak warganya secara optimal dan melindungi mereka dari serangan kaum kufar dan makarnya. Upaya ini bisa dilakukan jika Taliban mau menerapkan Islam secara totalitas dengan sistemnya yang kompatibel, bukan Emirat atau Nation State, tetapi sistem pemerintahan Islam warisan Rasulullah saw. yang disebut Daulah al-Khilafah.
Dengan penerapan sistem ini, aspek eksternal dengan sendirinya akan teratasi. Negara akan mengondisikan umat pada ketakwaan, pentingnya menjaga ukhuwah islamiah, mengajak kaum muslim kembali pada syariat, bersuara tentang syariat yakni melalui dakwah dan jihad, juga menegakkan sanksi sesuai syariat.

Hal yang mendasar, negara akan memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan publik kepala per kepala dengan diterapkannya sistem ekonomi Islam. Sistem ini adalah solusi bagi negara jika ingin mengelola aset yang dimiliki semisal pengelolaan aset publik dan SDA, dimana hasilnya dikembalikan sebesar-besarnya demi kepentingan umat. Rasulullah saw. telah bersabda: "Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, api, dan padang rumput." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Selain itu, negara juga mengelola pos pendapatan dari zakat, fa'i, ghanimah, 'usyr, kharaj dan zdharibah (pungutan insidental bagi aghniya jika kondisi kas negara kosong, sementara keperluan umat begitu mendesak harus terpenuhi).

Mekanisme perekonomian ala Islam tersebut akan membuat negara berdaulat, berdaya secara ekonomi, sosial, dan politik, juga menjadikan negara berwibawa di mata dunia dengan kemandirian dan ketegasannya. Terbukti, 2/3 dunia ada dalam genggaman daulah Islam selama kurun 13 abad lamanya. Inilah karakter ketinggian Islam sesuai sabda Baginda Rasulullah: "Islam itu tinggi, dan tidak ada yang menyamai ketinggiannya." (HR.Ad-Daruquthni, Hal III/ 181 no. 3564)

Cukuplah ketinggian Islam menjadi alasan utama bagi para muslimah Afganistan khususnya dan kaum muslim umumnya untuk menyerukan tegaknya Islam kaffah. Pasalnya, tanpa perjuangan ini kaum muslim akan mudah digiring pada opini sesat dan propaganda jahat buatan kafir Barat dan sekutunya. Hal ini telah ditegaskan Allah Swt. dalam firman-Nya:
"Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam (ajaran)) Islam secara totalitas, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian." (TQS. al-Baqarah: 208)

Wallahu a'lam bi ash shawwab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Uqie Nai Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Polemik Hukuman Mati, Tanda Sistem Gagal
Next
Penerapan K3 ala Kapitalis, Benarkah Melindungi Buruh?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram