Miris! Indonesia Raih Kematian Nakes Tertinggi Se-Asia

Besarnya angka kematian anak kesehatan di Indonesia dikarenakan pemerintah tidak bisa mencapai standar 3T (testing, tracing, treatment)

Oleh : Wanda Maryam Syam (Mahasiswi)

NarasiPost.Com-Tak terasa tahun 2020 telah terlewati. Banyak kesan yang terasa. Entah rasa bosan, kesal dan lain sebagainya karena alasan harus mengurung diri di rumah akibat pandemi. Sebagai masyarakat yang baik, tentu harus mematuhi protokol kesehatan. Tetap waspada karena virus tak kasat mata ini masih merajalela. Sayangnya masyarakat yang baik dan cerdas di Indonesia hanya segelintir saja.

Dengan alasan bosan, masih banyak yang berkeliaran tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Baginya, virus tak kasat mata ini benar-benar tak ada. Ya, sampai kemudian dirinya dan orang sekitarnya terinfeksi karena kelalaianya. Namun, perlu digarisbawahi, lalainya mereka juga tak lepas dari masyarakat yang terkondisikan oleh sistem yang ada, sebab ada kelonggaran dari kebijakan pemerintah yang membuka berbagai tempat publik termasuk tempat wisata. Sehingga aktivitas mereka membawa petaka bagi banyak orang, terutama untuk tenaga medis yang turun langsung memerangi virus mematikan ini. Ya, anak-anak kesehatan yang sekolah begitu lama dan berakhir tragis karena kasus virus yang belum menemukan titik temu.

Awal tahun 2021, dilansir dari tempo.co, dikabarkan bahwa kasus Covid-19 yang merenggut nyawa para petugas kesehatan di Indonesia tertinggi di antara 6 negara Asia Tenggara. Ini kabar buruk bagi kita semua. Mereka yang turun langsung ternyata sudah banyak yang gugur meregang nyawa. Apalagi mereka memiliki gelar khusus dan tidak bisa sembarangan orang dapat menggantikannya.

Naiknya kasus Covid-19 sebenarnya sudah tercium sebelum hal itu benar-benar terjadi. Bisa kita lihat dengan tetap terselenggaranya pilkada, berbagai tempat hiburan dibuka dan lain hal sebagainya. Banyak ahli yang menyayangkan hal tersebut tetap terlaksana di tengah pandemi yang belum berakhir.

Seperti yang dilansir di tempo.co, Firdza Radiany seorang inisiator Pandemic Talks menyatakan bahwa besarnya angka kematian anak kesehatan di Indonesia dikarenakan pemerintah tidak bisa mencapai standar 3T (testing, tracing, treatment). Tak hanya sampai di situ, Firdza juga menyatakan bahwa selama ini tingkat penularan yang terjadi di Indonesia tidak sesuai dengan standar WHO. Tercatat bahwa WHO menerapkan standar maksimal sebanyak 5 persen tingkat penularan sedangkan Indonesia mencapai 14-15 persen tingkat penularan.

Perbedaan ini sangat besar dan tentunya mengkhawatirkan. Lalu, jika seperti ini kapankah Indonesia akan benar-benar lepas dari bayang-bayang covid-19?

Terlepas dari itu semua, mari kita lihat bagaimana Islam menangani hal ini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Islam berjaya dalam sistem pemerintahannya bernama khilafah Islamiyah selama 13 abad lamanya. Jika kita lihat, sepanjang masa kejayaan Islam dalam menangani hal seperti ini tentunya dapat kita jadikan sebagai contoh dan panduan.

Dalam sistem khilafah, dikenal yang namanya pelayanan kesehatan yang terdiri atas 3 aspek, yaitu pembudayaan hidup sehat, pemajuan ilmu dan teknologi kesehatan, juga penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan. Ketiga aspek ini bersinergi untuk mendapatkan tingkat kesehatan yang terbaik.

Aspek pertama, pembudayaan hidup sehat bisa dianggap sebagai tindakan preventif. Bisa kita lihat bagaimana banyaknya tata cara maupun aturan yang telah diajarkan Rasulullah dalam bergaya hidup sehari-hari. Contohnya saja seperti makan tidak terlalu kenyang dan perbanyak mengonsumsi buah-buahan.

Kemudian di aspek kedua, pemajuan ilmu dan teknologi kesehatan bertujuan untuk meningkatkan sistem penanggulangan ketika sakit ataupun meningkatkan daya imun. Jadi, bukan hanya bersikap mencegah saja, pada zaman itu sudah terjadi banyak perkembangan ilmu yang membantu di bidang kesehatan. Hal ini tentu saja bertujuan untuk memudahkan tenaga medis dalam melakukan tindak pengobatan dan lain sebagainya. Contoh saja seperti penemuan alat ukur atau termometer yang ditemukan oleh Ibnu Sina pada tahun 1307. Faktanya sampai sekarang termometer benar-benar membantu tenaga medis.

Yang terakhir, penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan yang perlu diperhatikan oleh negara. Di daulah Islam dahulu, kesehatan masyarakat merupakan sesuatu yang begitu diperhatikan oleh negara. Negara mendirikan infratruktur megah berikut dengan fasilitas kesehatan yang lengkap. Meskipun begitu, negara tidak menarik biaya sama sekali. Hal ini menunjukkan betapa berjayanya daulah Islam pada saat itu.

Dengan demikian, hendaknya menyadarkan kita akan perbedaan drastis antara Islam dengan sistem hari ini yang terkesan tidak peduli dengan kesehatan rakyat. Islam menjaga nyawa manusia lebih dari dunia dan seisinya, maka wajar bentuk penjagaannya luarbiasa seperti di atas tadi, dan kesemua itu hanya dapat terwujud jika syariat Islam diterapkan dalam kehidupan kita secara keseluruhan, wallahu’alam bisshawab. Wallahua’lam bisshowab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Wanda Maryam Syam Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Predator Seksual Anak Parasit Masyarakat, Berantas dengan Islam
Next
Ulama Wafat, Ilmu Terangkat
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram