Menelisik Safe Flight Maskapai, Rapuhnya Keamanan Transportasi Udara

Mengatasnamakan “investasi” inilah ukuran dalam perjalanan transportasi udara menjadi sangat berarti dalam sistem kapitalis


Oleh : Istiqomah Asurlabi (Pegiat Literasi, Kepulauan Riau)

NarasiPost.Com-RUTE
Seorang penumpang ke pramugari:
“Nona Kenapa tidak bergerak lagi?”
“Perjalanan sudah sampai Pak, kita tidak sampai ke tujuan”

Kutipan tersebut berasal dari cerpen Matinya Burung-Burung karya Ronny Agustinus, penulis asal Amerika Latin. Cerpen ini menjadi perbincangan jagad maya saat pesawat naas SJ 182 jatuh mengawali tahun 2021. Saat ini masih dilakukan investigasi Black Box yang menyimpan flight record pesawat itu. Duka mendalam juga menyelimuti sejumlah keluarga korban manifest. Tak terbendung rasanya, kecelakaan itu mengorbankan banyak nyawa diantaranya anak-anak bersama dengan ibu mereka.

Diketahui pesawat ini telah 26 tahun beroperasi. Menurut pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, menyebutkan kombinasi faktor cuaca dan crew menjadi faktor yang paling banyak menjadi penyebab terjadinya kecelakaan pesawat. Dimana kemampuan crew pesawat sangat penting dalam menghadapi berbagai kondisi sulit saat penerbangan.

Sebelumnya terkait dengan maintenance pesawat ini juga disinggung. Pasalnya akhir tahun 2019 lalu Sriwijaya Air memutuskan hubungan kerja sama pada GMF Aero Asia (Garuda Maintenance Facility) sebagai penyedia jasa perawatan pesawat di Indonesia yang merupakan anak usaha Garuda Indonesia. Saat itu Kompas mengabarkan pada tanggal 7 November 2019 bahwa penyebab hal tersebut terkait dengan kerja sama antara pemegang saham Sriwijaya dan pihak Garuda.
Hal ini memicu hubungan kerja sama kian memburuk. Kedua belah pihak akhirnya menarik diri untuk saling tuntut menuntut. Hubungan kedua maskapai ini akhirnya akan dikaji secara business to business.

Mahalnya Harga Keselamatan di Udara

Kasus jatuhnya pesawat di Indonesia bukanlah kali pertama. Namun sejumlah amatan dan analisis sebab musabab jatuhnya pesawat tak berujung pada solusi. Bahkan mengatasnamakan “investasi” inilah ukuran dalam perjalanan transportasi udara menjadi sangat berarti dalam sistem kapitalis. Mengenyampingkan nyawa manusia dan berambisi pada keuntungan sungguh tak manusiawi.

Lilitan hutang 800 miliar yang ditanggung pihak maskapai Sriwijaya Air kepada Garuda dikutip dari sumber BBC Indonesia, membuktikan tanpa adanya dana yang memadai maka harga keamanan udara tak akan terbeli!

Perspektif kapitalis ini menyebabkan rapuhnya sendi-sendi regulasi safe flight untuk mengangkasa.

Mengorbankan Banyak Nyawa

Kalkulasi nyawa tidak bisa diukur dengan matematika manusia, karena peluang datangnya ajal tak akan ada yang tahu. Persoalannya adalah bagaimana berikhtiar menjaga nyawa manusia.
Tak hanya itu menjaga nyawa manusia merupakan tanggung jawab besar yang harus dipikul. Maka dengan tragedi ini bisa disimpulkan bahwa hukum buatan manusia itu tak berdaya. Regulasi untuk mengangkasa harus mengikuti aturan Allah semata. Sebagaimana _FirmanNya :

"Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan." (dari Allah).
(TQS Ar-Rahman 55:33)

Karenanya, rasa awas dan ikhtiar dalam menjaga nyawa haruslah sesuai rida-Nya. Persepektif Islam memuliakan manusia dipelihara dengan baik seperti kutipan hadist ini

Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.
(HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Jaminan Terpeliharanya Rasa Aman

Dalam Islam untuk memelihara rasa aman sudah menjadi tanggung jawab negara. Bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Keloyalan memfasilitasi keamanan mengudara akan di tanggung penuh dalam regulasi pemerintahan. Ini terlihat jelas dari prinsip dan keterlibatan negara untuk memelihara dengan standar iman dan takwa. Adanya perisai sebagai junnah yang membentengi setiap regulasi safe flight menjauhkan dari perkara yang tidak diinginkan. Karena tolak ukur adalah menjaga nyawa dengan sungguh-sungguh sehingga lebih stay care and stay safe. Insya Allah.

Berbanding terbalik dengan sistem berbasis untung rugi ala kapitalis yang mengeluarkan modal irit tapi mau terbang setinggi langit. Segala sumber daya alam dikuasai secara privatisasi, anggaran negara di korupsi, nyawa manusia hanya dihargai sebatas materi. Begitulah logika kapitalis yang rapuh dalam menangani seluk beluk kehidupan duniawi ini. Sudah selayaknya untuk dicampakkan dan diganti dengan sistem Illahi.[]


Photo : Pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Allah Beri yang Kau Butuhkan
Next
Ikhlaskan Pergi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram