Jangan Nodai Kemuliaan Menuntut Ilmu dengan Orientasi Duniawi!

"Pendidikan bukan ditujukan untuk semata-mata kemewahan intelektual, tetapi membentuk kepribadian Islami, yakni pola pikir dan pola sikap islami. Artinya selalu berusaha untuk meraih keridaan Allah yang tercermin pada setiap perbuatan dan perkataannya."

Oleh. Sarah Mulyani

NarasiPost.Com-Berdasarkan informasi yang dimuat pada Kompas.com (18/11/20), bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menyerahkan konsep peta jalan (road map) pendidikan 2020-2035 kepada Komisi X DPR. Namun, Ketua Komisi X, Syaiful Huda mengatakan, pihaknya memiliki beberapa catatan yang perlu disempurnakan atas peta jalan tersebut.

Tidak hanya dari Syaiful Huda, sorotan pada konsep peta jalan pendidikan pun datang dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih. Menurut politikus Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, peta jalan tersebut masih perlu banyak revisi di sana-sini. "Peta jalannya masih perlu banyak direvisi karenanya Komisi X membentuk panitia kerja (panja) peta jalan pendidikan sebagai bagian dari fungsi pengawasan,” kata Fikri saat memimpin rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan pimpinan organisasi masyarakat keagamaan pengelola pendidikan yang digelar secara virtual, Selasa (12/1).

Organisasi keagamaan dan ormas yang hadir dalam RDPU virtual tersebut antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Pengurus Pusat Muhammadiyah, pimpinan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), serta Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin). (m.jpnn.com)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyebut pada siaran langsung Instagram @unicefindonesia, Jumat 15 Januari 2021, sistem pembelajaran berbasis proyek atau project based learning mesti digalakkan. (medcom.id)

Namun, program utama kurikulum pendidikan vokasi dan link match dikritik berbagai kalangan, Sekertaris Dikdasmen PP Muhammadiyah, Alpha Amirrachman misalnya. Menurut pihaknya, tujuan pendidikan harusnya sesuai dengan cita-cita Ki Hajar Dewantara, yakni proses pembentukan peserta didik menjadi generasi beriman dan bertakwa, baru kemudian bicara soal kompetensi dan kecerdasan. (jpnn.com)

Hal yang wajar terjadi, kurikulum pendidikan hari ini melahirkan sistem pendidikan project based learning, mengingat ‘induk’ sistem kehidupan saat ini adalah kapitalisme.

Kapitalisme dengan orientasinya berpusat pada materi, maka pantas saja tujuan pendidikan pun hanya sebatas materi. Sebelum adanya program pendidikan vokasi ini pun, kebanyakan para pelajar hanya termotivasi untuk bekerja kemudian menghasilkan pundi-pundi. Akhirnya mereka mencari cara untuk mendapatkan nilai bagus, baik dengan jujur atau pun curang, karena beranggapan dengan nilai bagus bisa membantu mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang lebih baik dan menerima gaji lebih besar.

Tentu akan berbahaya apabila program ini benar-benar dilaksanakan. Sebab aktivitas menuntut ilmu yang mulia dalam pandangan agama, tidaklah layak terkotori dengan orientasi materi.

Berbicara pendidikan, tentu tidak lepas dari perencanaan mempersiapkan generasi masa depan, berarti juga mempersiapkan peradaban di masa yang akan datang. Karena kegemilangan sebuah peradaban ditentukan oleh ideologi yang diterapkannya. Dalam catatan sejarah, terbukti Islam telah mewujudkan peradaban yang gemilang selama tidak kurang dari tiga belas abad. Pada masa kekuasaan ‘Abbasiyyah, pendidikan Islam menjadi mercusuar dunia. Orang asing berbondong-bondong untuk menimba ilmu di dunia Islam. Pada era itu juga, bermunculan cendekiawan Muslim dengan penemuan-penemuannya yang berkontribusi besar untuk kehidupan saat ini. Sebut saja Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Abbas Ibnu Firnas, Al-Haytham, dan masih banyak lainnya.

Tidaklah mungkin orang-orang hebat itu terlahir, apabila sistem pendidikan pada saat itu bukanlah sistem pendidikan yang hebat pula.

Islam sebagai ideologi, diterapkan di bawah sistem pemerintahan bernama Khilafah, memiliki aturan sempurna mengenai sistem kehidupan, termasuk di dalamnya sistem pendidikan. Dasar pendidikan Islam disusun berdasarkan sekumpulan hukum syara’ dan berbagai peraturan administrasi yang berkaitan dengan pendidikan. Hukum syara’ terpancar dari akidah Islam dan memiliki dalil-dalil syar’i, maka harus ditaati ketentuannya, seperti pemisahan antara murid laki-laki dengan murid perempuan. Adapun dalam administrasi berkaitan dengan sarana dan cara, maka Islam memperbolehkan (hukumnya mubah) yang dipandang efektif menjalankan sistem pendidikan dan mewujudkan tujuan pendidikan. Seperti penggunaan teknologi terkini.

Adapun tujuan umum pendidikan negara Khilafah (Islam) adalah membangun kepribadian Islami, pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) bagi umat, yaitu dengan menanamkan tsaqofah Islam berupa akidah, pemikiran, dan perilaku islami ke dalam akal dan jiwa anak didik.
mempersiapkan anak-anak kaum Muslim agar di antara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu ke-Islaman (ijtihad, fiqih, peradilah, dan lain-lain), maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, sains, dan lain-lain).

Metode pengajaran yang bersifat tetap, yaitu penyampaian (khitab) dan penerimaan (talaqqiy) pemikiran dari pengajar kepada pelajar. Metode tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan seluruh jenis pemikiran, baik berhubungan langsung dengan pandangan hidup tertentu, seperti ideologi, maupun tidak berhubungan langsung dengan pandangan hidup tertentu, seperti matematika.

Proses pembelajaran didukung dengan teknik mengajar dan sarana pengajaran yang bisa dipilih oleh pengajar sesuai dengan kondisi belajar-mengajar selama tidak melenceng dari metode pengajaran yang ditetapkan, yaitu penyampaian pemikiran dari pengajar kepada pelajar. Sebagai contoh, apabila dulu teknik mengajar menyampaikan pemikiran dengan cara ceramah dan sarana seadanya, misalnya menggunakan papan tulis dan kapur, tapi saat ini hal itu bisa berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Pengajar bisa menyajikan pemikiran yang hendak disampaikan melalui video ataupun sejenisnya.

Pendidikan bukan ditujukan untuk semata-mata kemewahan intelektual, tetapi membentuk kepribadian Islami, yakni pola pikir dan pola sikap islami. Artinya selalu berusaha untuk meraih keridaan Allah yang tercermin pada setiap perbuatan dan perkataannya.

Sebagai seorang Muslim yang memiliki kepribadian Islam, mempelajari ilmu-ilmu terapan semata-mata dalam rangka memberikan manfaat, demi melayani kemaslahatan dan memecahkan problematika yang krusial di tengah-tengah umat, sesuai dengan Islam. Tentu hal itu didorong dengan ketakwaan. Sangat jauh dari orientasi duniawi untuk meraih sebanyak-banyaknya materi.

Meski demikian, negara sangat mengapresiasi setiap ilmu yang berkontribusi untuk kemaslahatan umat. Sebagai contoh, untuk karya sebuah buku saja, dinilai dengan emas. Selain itu, sarana prasarana pendidikan pun didukung penuh, kualitas pendidikan merata untuk seluruh wilayah, baik kota maupun desa. Bahkan, pendidikan dapat diperoleh bagi seluruh warga negara dengan cuma-cuma, karena sistem kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lain, misalnya dengan sistem ekonomi, pengelolaan SDA sepenuhnya oleh negara dan hasilnya kembali untuk umat, maka akan mencukupi kebutuhan umat secara menyeluruh. Wallahu’alam[]


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Sarah Mulyani Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Upaya Global Memperpanjang Usia Kapitalisme
Next
Mengendalikan Rasa Takut
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram