Anak Durhaka, Ibu Terpenjara

Sistem Islam adalah solusi. Sistem alternatif paripurna yang harus diperjuangkan demi terciptanya keluarga peradaban mulia.

Oleh: Ika Cantika

NarasiPost.com - Harta yang paling berharga adalah keluarga..

Istana yang paling indah adalah keluarga…

Itulah cuplikan lirik lagu yang menjadi soundtrack serial Keluarga Cemara. Cerita yang menggambarkan sebuah keluarga yang bahagia. Walaupum hidup dalam kesederhanaan tetapi keluarga tersebut penuh kehangatan, ketentraman dan kedamaian. Hubungan antar anggota keluarga yang saling menghargai dan menyayangi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki keluarga yang harmonis, tentram dan penuh kasih sayang menjadi dambaan setiap orang. Sayangnya untuk mewujudkan hal tersebut dalam sistem kehidupan sekarang tidaklah mudah.

Seorang gadis bernama Agesti Ayu Wulandari atau AAW (19), tengah menjadi perbincangan lantaran melaporkan ibu kandungnya, Sumiyatun (36) ke polisi. Meski enggan mengungkap terang-terangan, namun Ayu menyebut dirinya hanya ingin mencari keadilan atas tindakan sang ibu terhadap dirinya. (TRIBUNNEWS.COM )

Banyak fakta yang menunjukkan kasus-kasus persoalan dalam rumah tangga. Seperti kasus viral yang menimpa warga Demak, Jawa Tengah . Seorang anak tega melaporkan ibu kandungnya ke kepolisian atas dugaan perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Akibat pelaporan tersebut, sang ibupun harus masuk penjara. Nauzubillahi mindzalik.

Ada lagi kasus serupa yang menimpa ibu di Lombok. Hanya karena uang warisan senilai 15 juta, tega melaporkan ibu kandungnya ke polisi. Banyaknya kasus persoalan yang menimpa keluarga membuat kita miris.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anggota keluarga, malah justru menjadi pangkal persoalan. Hal ini terjadi karena sistem yang mengatur kehidupan sekarang adalah Kapitalisme Sekulerisme.

Sistem Kapitalis-sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan pemahaman masyarakat akan Islam Kaffah menjadi lemah. Agama dipahami hanya sebatas ibadah ritual saja. Bukan sebagai aturan kehidupan yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan sehingga tidak berpengaruh dalam kehidupannya.

Lemahnya pemahaman masyarakat akan Islam Kaffah menjadikan masyarakat kerap mengalami disorientasi kehidupan. Manakala ujian datang terhadap individu Muslim, maka dia akan mudah menyerah dan bahkan mudah terjerumus dalam kemaksiatan.

Sistem Kapitalisme Sekulerisme juga menjamin kebebasan berperilaku termasuk perilaku tiap anggota keluarga. Sehingga banyak kita jumpai anak-anak yang kurang sopan dan santun kepada orang tuanya. Berbeda jika yang diterapkan dalam sistem kehidupan adalah Islam.

Islam sebagai sistem kehidupan memiliki seperangkat aturan yang terperinci, tegas dan jelas memuaskan akal karena sesuai fitrah. Aturan yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.

Aturan Islam tegak diatas 3 pilar.

Pertama, ketakwaan individu. Individu Muslim akan selalu terikat syariat dalam setiap perbuatannya. Dalam keluarga masing-masing anggota paham hak dan kewajibannya.

Seorang ayah akan paham bahwa mencari nafkah adalah kewajiban dan pemenuhannyapun dilandasi keimanan. Seorang ibu paham tugasnya sebagai pendidik dan pengatur rumah tangga mereka akan mendidik anak-anaknya dengan pola asuh Islam dan memberi teladan yang baik untuk anaknya.

Seorang anak yang diasuh dengan pola asuh Islam paham kewajibannya untuk birul walidayn sehingga dia akan selalu patuh dan hormat pada orang tua. Menuruti semua perintah orang tua kecuali dalam kemaksiatan.

Kedua, adanya kontrol dari masyarakat. Masyarakat Islam akan selalu beramar ma'ruf nahi mungkar. Bersama mengontrol dan saling menasihati dalam kebenaran. Sehingga jika ada permasalahan dalam masyarakat bisa segera diselesaikan.

Ketiga, adanya sistem terpadu dalam bentuk negara yakni khilafah yang dengannya penerapan hukum syariat dapat terwujud. Untuk itu sudah sepantasnya masyarakat mengganti sistem kapitalis sekuler dengan sistem Islam. Karenanya sistem Islam adalah solusi. Sistem alternatif paripurna yang harus diperjuangkan demi terciptanya keluarga peradaban mulia.

Picture Source by Google

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Ika Cantika Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Melewati Musibah dan Derita
Next
Pembunuhan Sadis Terulang Kembali, di Mana Peran Negara?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram