Neraka Kok Diinginkan?

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati."


Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

NarasiPost.com - "Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Negeri ini dihebohkan oleh pernyataan seorang seleb yang mengatakan bahwa tidak apa-apa masuk neraka juga happy. Di sana nanti reuni dan pesta dengan artis-artis luar negeri. Tentu saja pernyataan ini memicu para netizen di jagad maya, tak ketinggalan di dunia nyata pun heran dan tak habis pikir dengan pernyataan tersebut. Pasalnya, dia seorang Muslim dan harusnya sebagai Muslim pasti menginginkan surga-Nya Allah. Selain itu, dia seorang ibu bagi anak-anaknya.

Beranikah dia mendidik anak-anaknya seperti itu? Tanya nuraninya, senangkah dia jika anaknya berkata seperti itu. Padahal, dia sudah susah payah membesarkan dan mendidiknya dalam kondisi single parent. Anak biasanya akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Pernyataan itu seolah-olah menantang Allah dan tak layak seorang Muslim mengatakan hal buruk seperti itu.

Misal, jika fasilitas AC di rumah, di mobil dan di manapun dicabut. Sanggupkah dia dengan panas yang baru sepersekian dari panas api neraka? Atau dia coba bakar sedikit saja bagian tubuhnya dengan api, akankah dia kuat dan merasa happy hingga bisa tertawa? Neraka bukan bahan bercanda dan bukan sesuatu yang diharapkan bagi seorang Muslim dan Mukmin.

Mengapa banyak sekali orang bisa dengan mudah berkata apapun sesuka hati, walau kadang harus bertabrakan dengan norma agama. Seolah apa yang diucapkan tak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah suatu saat nanti. Jawabannya, karena sistem demokrasi di negeri ini menjamin kebebasan berpendapat. Seakan sah-sah saja orang mau berkata apa, hak asasi manusia katanya.

Namun, jika kebebasan itu meresahkan dan merusak apakah akan tetap dibiarkan? Seperti pernyataan tak apa masuk neraka juga happy. Tentu hal ini tak bisa dibiarkan, dalam Islam aktifitas amar makruf nahi munkar harus tetap dilakukan sebagai wujud rasa sayang. Terlepas orang yang diamar makrufi menerima atau tidak, itu menjadi urusan dia dengan Allah. Setidaknya sudah menunaikan kewajiban untuk saling mengingatkan di jalan Allah.

Rasulpun sering bercerita tentang surga dan neraka. Bahkan di zaman Imam Ja’far As-Shodiq, salah satu cucu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, banyak sahabatnya yang datang dan berkata “Wahai putra Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, jadikan kami rindu kepada surga” atau ada orang lain yang berkata, “Hati sedang keras dan gersang, ceritakanlah pedihnya api neraka agar aku bisa melunakkan hatiku agar tidak lagi menuruti hawa nafsu.”

Generasi dahulu, ingin diceritakan tentang neraka untuk melunakkan hati agar lebih dekat dan taat kepada Allah bukan sebaliknya. Namun, kebebasan yang diterapkan di negeri ini telah merusak keimanan dan kepekaan hati seseorang untuk condong pada kebaikan. Dalam pikiran mereka, biarkan berbicara dan berbuat apa saja sesuka hati. Dosa masing-masing katanya.

Tahukah gambaran neraka itu seperti apa? Allah Subhanahu Wa Ta'aala berfirman:

"Sungguh pohon zaqqm itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut." (Ad-Dukhon 43-45).

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati." (TQS. Al Humajah)

Imam Ja’far As-Shodiq pernah meriwayatkan dari kakeknya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau bersabda:

“Sungguh api kalian ini adalah satu bagian dari 70 bagian neraka jahannam. Dan telah dipadamkan 70 kali dengan air kemudian dinyalakan. Jika tidak dengan cara itu, maka tidak bisa dinyalakan.”

Suatu hari Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan wajah sedih. Rasulullah heran melihatnya, tidak biasanya dia datang dengan wajah seperti itu. Kemudian beliau bertanya pada Jibril, mengapa dia berwajah sedih. Biasanya dia datang dengan wajah berbinar. Jibril menjawab, “Bagaimana aku tidak sedih, sekarang api neraka telah ditiup. Seribu tahun dinyalakan hingga memerah, kemudian 1000 tahun lagi hingga memutih. Dan 100 tahun (ketiga) menjadi hitam dan gelap. Jika setetes api itu diletakkan di dunia maka seluruh dunia ini akan terbakar wahai Muhammad.”

Jadi, di neraka itu bukan untuk reuni dan bersenang-senang. Saat kebakaran saja, orang sibuk memadamkan api bahkan lari takut kena kobaran api. Biarkan harta habis asalkan nyawa selamat. Apakah sempat untuk happy-hapy dan tertawa bahkan reuni saat ada kebakaran? Api dunia tak seberapa dari panasnya api neraka.

Maka, urgen saat ini adanya sebuah aturan yang bisa menjaga akidah warga negaranya dengan baik. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk saling mengingatkan di jalan Allah, mengharap surga-Nya dan jauh dari api neraka. Saling berlomba dalam kebaikan dan manfaat, menebar rahmat ke seluruh alam. Aturan itu haruslah dari Sang Pencipta dan Pengatur karena pasti lebih tahu yang terbaik untuk ciptaan-Nya sementara aturan manusia saat ini sudah terbukti rusak dan merusak.

Renungkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'aala:

"Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!" (TQS. Al Baqarah: 175)

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Kesejahteraan Guru yang Dinanti.
Next
Benarkah RUU Pelarangan Minol Mengancam Pariwisata Indonesia?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram