Jagalah Malu!

“Keimanan itu memiliki enam puluh cabang. Salah satu cabangnya adalah rasa malu.”
(HR. Bukhari )

Oleh: Deena Noor
(Kontributor Tetap NarasiPost.Com
)

NarasiPost.Com-Di masa sekarang, pergaulan telah teramat bebas dalam sistem kehidupan yang liberal hingga membuat rasa malu kian terkikis. Di dunia nyata maupun dunia maya, bisa kita saksikan tingkah polah manusia yang seolah tipis malunya. Di media sosial banyak kita lihat orang-orang yang berjoget-joget tak karuan, mengumbar aib, melakukan prank, bergaya norak hingga memamerkan auratnya.

Di dunia nyata pun juga banyak kita temui manusia-manusia yang menanggalkan pakaian malunya. Pacaran, free sex, pornoaksi, penyalahgunaan narkoba, berutang untuk memenuhi gaya hidup, makan riba, suap-menyuap, korupsi, dan banyak lagi yang lainnya. Semakin ke sini, semakin mengenaskan kondisinya.

Menipisnya rasa malu bisa melanda siapa pun. Mau itu masyarakat biasa, artis, aparat, pejabat maupun pemimpin. Ada pejabat yang pernah tersangkut kasus hukum, kemudian menjabat lagi. Ada yang tertangkap karena kasus korupsi, tapi masih bisa cengar-cengir, menikmati fasilitas mewah di penjara, bahkan plesiran. Ada pejabat yang tak tahu malu mengorupsi duit bansos dan minta keringanan hukum. Ada artis yang berzina, tapi masih berani muncul di publik dan tetap eksis hingga sekarang.

Sungguh, bila rasa malu itu dibiarkan akan bisa menghancurkan kehidupan. Perbuatan melanggar aturan seperti dimaklumkan hingga ditiru oleh rakyat kebanyakan. Kesalahan yang dibiarkan berulang-ulang menjadi kebiasaan dan dianggap sebagai kebenaran. Akan ke mana arah kehidupan bila rasa malu melakukan kemaksiatan kian pudar? Kehancuran pastilah menanti.

Penting bagi muslim untuk menjaga rasa malu tetap di tempatnya. Malu menjadi bagian dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari: “Keimanan itu memiliki enam puluh cabang. Salah satu cabangnya adalah rasa malu.”

Manusia yang menjaga malunya, tidak akan melakukan kemaksiatan atau kekejian. Dengan rasa malu, ia akan menghindari segala bentuk dosa dan kemungkaran. Ia akan malu bila berbuat kesalahan dan pelanggaran. Ia malu melakukan pengkhianatan dan kezaliman. Malu bila berbohong dan menipu.

Rasa malu bukan hanya di hadapan sesama manusia dan terhadap dirinya sendiri, namun terlebih di hadapan Tuhannya. Ia menjaga malu karena keimanannya kepada Allah ta’ala. Bukan karena takut diolok manusia semata, tetapi karena ia takut Allah murka.

Dengan rasa malu yang terjaga, manusia akan berbuat hati-hati sehingga tak melenceng dari aturan. Tak sembarangan melakukan tindakan. Selalu berhati-hati dalam ucapan. Tak sembarangan dalam membuat keputusan. Sebab bila salah, ia tahu akan berdampak di kemudian hari. Bukan hanya memberikan kesulitan, tetapi juga dosa yang membebani amalan.

Orang yang hilang rasa malunya akan merasa biasa saja bila melakukan kesalahan atau pelanggaran. Bayang dosa tak lagi menakutkan. Berbuat maksiat, zina, berbohong, LGBT, makan makanan haram, riba, dan lain-lainnya seolah tak mengapa karena banyak yang melakukan. Dianggap wajar dan kebiasaan.

Inilah yang terjadi sekarang ini. Dalam sistem kapitalisme sekuler, standar perbuatan adalah asas manfaat, hingga norma dan agama dipaksa menepi. Rasa malu seolah mati. Berbuat sesuka hati yang penting happy. Terlebih lagi segalanya dilakukan untuk mendapatkan materi. Membuang rasa malu dari diri.

Sistem yang bebas dan menjauhkan agama dari kehidupan ini membuat manusia berlomba mengejar dunia. Harta, tahta, dan cinta seperti dipertandingkan untuk mendapatkannya. Betapa sering kita lihat manusia sampai bersusah payah dengan segala upaya untuk meraih harta. Kerja dari pagi hingga malam, bahkan sampai pagi lagi demi menghasilkan pundi-pundi. Membanting tulang, memeras keringat agar memperoleh pendapatan yang tinggi.

Sayangnya, itu semua dilakukan dengan meninggalkan banyak kewajiban. Mengejar karier hingga melupakan tugas sebagai orang tua, misalnya. Padahal anak tak hanya butuh dicukupi kebutuhannya, tetapi juga pengasuhan dan pendidikan yang baik.

Lebih parah lagi, duniawi yang dikejar itu dengan meninggalkan tugasnya sebagai hamba Sang Khalik. Salat lima waktu jarang-jarang, bahkan hanya bila ingat dan sempat.

Melupakan adanya rambu-rambu berupa larangan dan perintah-Nya. Semua ditabrak, halal dan haram menjadi tak penting, asalkan tujuan tercapai.

Rasa malu yang hilang dari penguasa akan berakibat sangat fatal. Hilangnya malu akan menjadikan amanah tak tertunaikan. Alih-alih mengurusi rakyatnya dengan benar, ia malah sibuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Aturan yang harusnya dibuat untuk melindungi rakyat, menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi semua, malah demi kepentingan para penyokongnya. Dalam hal ini, aturan yang ada untuk memudahkan urusan para kapitalis yang telah mendukungnya dalam kekuasaan.

Amanah kekuasaan bukan untuk menjalankan aturan Allah, tetapi malah melanggar perintah dan larangan-Nya dengan tak tahu malu. Bila ini terjadi, maka kehancuran adalah pasti. Seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadis riwayat Ibnu Majah berikut: "Jika Allah ingin menghancurkan sebuah kaum, dicabutlah dari mereka rasa malu. Jika rasa malu sudah lenyap, maka yang muncul adalah sikap keras hati. Jika sikap keras hati sudah menjadi budaya, maka Allah mencabut dari mereka sikap amanah (kejujuran dan tanggung jawab). Bila sikap amanah telah musnah, maka yang muncul adalah para pengkhianat. Bila para pengkhianat merajalela, Allah mencabut rahmat-Nya. Bila rahmat Allah telah tercabut, maka yang muncul adalah manusia laknat. Bila manusia laknat merajalela, maka Allah akan mencabut dari mereka tali-tali Islam.”
Sungguh mengerikan bila ini terjadi. Karena itulah, menjaga malu kita menjadi sangat penting sebagaimana menjaga keimanan kepada-Nya.

Namun, ada rasa malu yang tidak pada tempatnya. Yakni berkaitan dengan menyampaikan kebenaran. Allah telah memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan, berdakwah, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Untuk yang seperti ini, kita tidak boleh malu. Justru harus giat dan bersemangat dalam melakukan dakwah. Sebab dakwah adalah menyeru manusia ke jalan keselamatan. Dengannya sekaligus untuk menjaga keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Jangan sampai rasa malu tak terjaga dan akhirnya hilang. Namun, bila memang tak peduli, maka berbuatlah sesuka hati. Mari kita renungkan perkataan Rasulullah: "Sesungguhnya di antara hal yang sudah diketahui manusia yang merupakan perkataan para Nabi terdahulu adalah perkataan: "Jika engkau tidak punya malu, maka lakukanlah sesukamu."" (HR. Bukhari)
Wallahu a’lam bish-shawwab[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tim Penulis Inti NarasiPost.Com
Deena Noor Tim Penulis Inti NarasiPost.Com
Previous
Merdeka yang Dirindukan
Next
Pengen Nikah (part 2)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram