Saudariku, Kenapa Enggan Berhijab?

"Jika seorang muslimah merasa hatinya baik, tentu ia akan dengan ringan menjalankan ketaatan kepada Allah, salah satunya adalah mengenakan hijab, menutup auratnya dengan sempurna dan tidak menampakkannya di kehidupan publik. Sementara muslimah yang masih enggan berhijab, dan malah mempertontonkan auratnya di depan laki-laki non mahram, apakah ia sudah merasa hatinya baik?"


Oleh: Aya Ummu Najwa

NarasiPost.com-Jilbab atau hijab adalah salah satu hal yang diserukan oleh Sang Pembuat syariat, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Syariat berhijab ini mempunyai beban hukum ke masa depan, yang menyangkut kemaslahatan dan ketenangan hidup di dunia maupun di akhirat. Permasalahan jilbab tidak sekadar permasalahan adat atau pun fashion semata.

Sebab perkara jilbab adalah perkara syar'iyah.

Jilbab adalah pakaian yang harus dipakai oleh setiap wanita yang telah mengikrarkan keimanannya. Tak masalah apakah ia berasal dari Arab, Malaysia, Indonesia, Eropa atau pun Afrika. Perintah memakai hijab ini berlaku umum untuk seluruh muslimah yang ada di setiap penjuru dunia.

Mengapa seorang muslimah harus mengenakan hijab? Ada beberapa alasan untuk pertanyaan tersebut:

Pertama, sebagai bentuk ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan juga Rasul-Nya.

Ketaatan adalah sumber kebahagian dan kesuksesan bagi seorang muslim, di dunia maupun di akhirat. Karena sejatinya, kebahagiaan seorang hamba bukanlah banyaknya harta atau semua yang berhubungan dengan materi semata, namun ketaatannya kepada Tuhannya lah yang akan menghantarkan kepada kebahagiaan hakiki. Sebab seseorang tidak akan dapat mengecap manisnya iman dan meraih kebahagiaan, tatkala ia tidak mau merealisasikan keimanannya, dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al Ahzab ayat 71 yang artinya:

"Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah mendapatkan kemenangan yang besar."

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda dalam sebuah hadis:

"Sungguh akan merasakan manisnya iman, siapa yang telah rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul utusan Allah." [HR Muslim].

Kedua, memperlihatkan, atau bahkan memamerkan aurat juga keindahan tubuh di ranah publik, adalah bentuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang dapat mengundang murka-Nya. Ketika seorang perempuan berani membuka dan memamerkan auratnya dalam kehidupan publik, maka sungguh ia telah bermaksiat secara terang-terangan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 36:

وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا

“Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata”.

Begitu pun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim:

“Setiap dari umatku akan dimaafkan, kecuali orang yang secara terang-terangan (berbuat maksiat).”

Ketiga, Allah Subhanahu Wata'ala mensyariatkan hijab untuk meredam berbagai macam fitnah. Ketika wanita membuka aurat di depan umum, maka berbagai fitnah akan muncul, yang beresiko kepada kerusakan dan kekacauan. Masyarakat akan lebih aman jika para wanitanya menutup auratnya. Dan wanita berhijab akan lebih aman dan selamat dari fitnah. Sedang masyarakat yang wanitanya banyak mengumbar aurat, sangatlah rentan dari segala fitnah, berupa pelecehan, bahkan pemerkosaan, serta kejahatan seksual lainnya, maka ini merupakan bencana dan kehancuran yang luar biasa. Karena, ketika aurat wanita dan keindahan tubuhnya dipertontonkan, maka akan merangsang dan mengundang tindakan asusila dari para lelaki. Sehingga banyak sekali kasus-kasus pelecehan seksual terjadi.

Sebuah syair mengatakan,

نظرة فإبتسامة فسلام # فكلام فموعد فلقاء.

“Bermula dari memandang, lalu senyuman kemudian salam, disusul pembicaraan, kemudian berakhir dengan janji dan pertemuan.”

Betapa banyak kasus pelecehan hanya karena berawal dari memandang foto yang dipajang di medsos, yang mengumbar aurat. Akhirnya ada percakapan, dan pertemuan, dan akhirnya terjadilah bencana yang tidak diinginkan. Na'udzubillahi. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman dalam Al-Qur'an yang mulia, yaitu surah Al Ahzab ayat 59:

ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”.

Mengapa banyak sekali wanita-wanita muslim masih enggan berhijab? Biasanya mereka ketika diingatkan untuk berhijab, mereka akan mengemukakan berbagai alasan, di antaranya;

Pertama, belum siap berhijab.

Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam telah bersabda dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah:
 
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة

"Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorangpun yang memberatkan diri dalam agama ini kecuali sikapnya tersebut akan mengalahkan dia. Maka bersikap luruslah, mendekatlah kepada kesempurnaan, berilah kabar gembira, dan minta tolonglahlah kalian pada pagi hari, sore hari dan sebagian waktu malam.” (HR. al-Bukhari: 38, dan Muslim: 2816)

Para ulama menjelaskan dari hadis ini bahwa, semua syariat Islam itu mudah dan pasti mampu dilaksanakan oleh semua manusia. Begitu juga dengan berhijab, jika kita mau merenungkan sejatinya itu mudah dan dapat dilakukan kapan saja. Hanya saja bisikan setan kepada muslimah memunculkan berbagai macam alasan, sehingga melahirkan kesan berhijab itu sulit.

Mari kita renungkan firman Allah yang artinya:

"Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, "Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur Ayat 51)

Hal yang semestinya ketika seorang muslim diseru oleh Allah dan Rasul-Nya, mereka serta merta berkata: “kami dengar, dan kami taat”, dan bukan malah berkata: “kami dengar, tapi nanti dulu kami belum siap”.

Kedua, mereka mengatakan lebih penting jilbab hati terlebih dulu.

Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma,

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad pun akan rusak. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Maka, jika seorang muslimah merasa hatinya baik, tentu ia akan dengan ringan menjalankan ketaatan kepada Allah, salah satunya adalah mengenakan hijab, menutup auratnya dengan sempurna dan tidak menampakkannya di kehidupan publik. Sementara muslimah yang masih enggan berhijab, dan malah mempertontonkan auratnya di depan laki-laki non mahram, apakah ia sudah merasa hatinya baik?

Ketiga, alasan bahwa masih banyak wanita berhijab yang berakhlak buruk, tidak sesuai dengan hijabnya.

Manusia bukanlah malaikat, tentu selama ia masih hidup, ia masih berpotensi melakukan kesalahan dan dosa. Apakah ia sudah berjilbab atau pun belum. Berhijab bukan jaminan seorang muslimah sudah aman dari perbuatan dosa, juga buruknya akhlak, juga kesalahan lainnya. Akhlak mulia adalah wajib dimiliki, baik muslimah yang belum berhijab terlebih-lebih yang sudah berhijab. Begitu pula berhijab, wajib dilaksanakan oleh setiap muslimah baik yang berakhlak buruk maupun yang berakhlak baik.

Keempat, belum mendapat hidayah.

Sungguh hidayah itu dicari dan disambut, bukan ditunggu wahai saudariku. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 69:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjuki mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."

Maka dari itu, segera berhentilah menanti hidayah datang, namun mulailah bergerak mencari hidayah. dan sungguh berhijab adalah salah satu bentuk kesungguhan kita dalam mencari keridaan Allah. Dengan itu kita berharap Allah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus dan Istikamah di atasnya.

Wallahu a'lam[]

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Perlindungan Keamanan Data Terealisasi dalam Sistem yang Terpercaya
Next
Sajak Nestapa
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram