Membangun Rumah di Surga

"Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau". (HR. Ahmad)


Oleh: Ira Rahmatia

NarasiPost.com-Sejatinya dunia hanyalah tempat persinggahan. Kita bagaikan seorang musafir, yang pergi mencari bekal untuk kembali ke kampung sebenarnya. Di kampung tersebut kita dijanjikan rumah yang indah serta dialiri sungai-sungai di bawahnya.

Pemandangan yang tak pernah terlihat oleh mata dan seluruh pelayanannya yang menakjubkan. Semua itu hanyalah di peroleh manusia jika ia bertakwa. Takwanya menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Rida padanya.

Kabar baiknya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menuntun manusia dengan Al-Qur'an dan Hadis-hadis yang disabdakan oleh manusia suci, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam.
Sungguh rugi jika masih terlena dengan dunia yang hanya tipuan, juga tidak berusaha mencintai aturan-aturan-Nya.

Lalu, membangun Rumah di Surga, bagaimana bisa? Salah satunya mengerjakan shalat sunnah rawatib.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang shalat 12 rakaat di dalam sehari semalam maka dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga." (HR Muslim no 728).

Juga salah satu sabda beliau yakni:

“Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, lantas bagaimana kita sebagai muslimah masuk ke dalam surga, apakah ada cara tersendirinya?

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Nabi Saw pernah bersabda:

"Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau".

Jangan lupa bahwa kita harus membawa bekal, karena perjalanan menuju surga itu panjang, ada alam kubur, alam barzah, hari kiamat dan kebangkitan, hari penyerahan catatan amal, juga ada telaga Rasulullah yang harus dilalui serta yang terakhir adalah jembatan sirath sebelum akhirnya masuk ke surga atau neraka.

Untuk itu marilah berbekal, sebagaimana dalam Al-Qur'an disebutkan,
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”.
(QS. Al-Baqarah : 197)

Takwa adalah suatu keadaan di mana seorang mukmin baik laki-laki dan perempuan di setiap tindak tanduk perbuatannya selalu memperhatikan apakah Allah rida terhadapnya. Ia melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Menjadikan iman sebagai landasan hidup serta ketaatan sebagai porosnya.

Harta yang ia miliki tak sewenang-wenang digunakan untuk kesenangan duniawi, tapi jauh dari itu. Setiap rezeki yang dimilikinya pasti telah ia tentukan jumlahnya untuk membangun rumah di surga beserta permadaninya. Tak lain ia berusaha dengan bersedekah sedikit demi sedikit. Sehingga, dengan sedekahnya juga ia dimudahkan seluruh urusan dunia dan akhiratnya, menemui Rabb-Nya dalam keadaan rida dan diridai-Nya.

Bagi hatinya yang tertaut dengan surga, ia selalu merasa bagai orang asing yang sedang berkelana di bumi yang juga asing. Ia melihat segala sesuatu dengan kacamata lain. Melihat segala yang di inderanya akan ia tinggalkan suatu saat, baik sedetik kemudian, sejam atau kapanpun saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala memanggilnya pulang. Ia selalu bersiap siaga menemui Rabb-Nya. Dan berkat nasihat kematian ia akan menjadikan setiap detiknya berharga, tak ternilai dengan dunia dan seisinya. Waktunya hanya ia gunakan untuk kebermanfaatan, menjadi sebaik-baik manusia.

Ia rela tak mencicipi perhiasan dunia karena ia yakin semuanya hanyalah tipuan. Sedang, surga beserta permadaninya tak terkalahkan lagi kekal abadi.

Semasa hidupnya ia terus menjadikan dunia di tangannya, akhirat di hatinya hingga bertemu ajalnya.

Wallahua'lam[]

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
MEMBASMI KORUPSI
Next
Gencatan Senjata: Solusi bagi Palestina?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram