Salam Perpisahan Untuk Ramadhan

"Amat merugi/hina seseorang yang Ramadhan masuk padanya kemudian Ramadhan pergi sebelum diampuni dosanya." (HR. al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi, al-Thabrani, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jaami', no. 3510).


Oleh: Ana Nazahah

NarasiPost.Com-Segala puji dan syukur hanya milik Allah yang Maha Ghafur, telah memberikan nikmat bertemu Ramadhan dan kesempatan mendulang pahala yang besar dan tak terukur. Begitu mulia bulan Ramadhan, di dalamnya berlimpah kebaikan, ampunan, keberkahan dan rahmat tiada putus.

Namun, bulan suci ini kini sudah berada di penghujungnya. Sedih pastinya mengingat Ramadhan tak di sini lagi. Ada perasaan tak rela jika Ramadhan pergi. Sesal tiba-tiba menggoroti diri, belum sempurna rasanya ibadah yang kita lakoni.

Sungguh, bagi orang-orang yang beriman kepergian Ramadhan adalah sesuatu yang mereka tangisi. Saat berjumpa alangkah bahagia, menghargai hari-hari Ramadhan. Saat berpisah muncul perasaan sedih, berpisah dengan Ramadhan sungguh menyisakan perasaan rindu yang tak bisa disudahi.

Namun, layaknya pertemuan, pasti ada perpisahan. Karena itu, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan ibadah perpisahan, dengan berbuat sebaik-baiknya amalan. Sebagaimana shalafus shalih yang senantiasa menghidupkan malam dan siang di hari-hari terakhir Ramadhan. Dengan ibadah terbaik dan total.

Sebagaimana Sufyan ats-Tsauri, yang mashur dengan julukan "amirul mukminin fil hadits" Ia bahkan mewajibkan seluruh keluarganya untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Qatadah bin Dam’ah as-Sadusi, yakni tokoh tabi’in, beliau mengkhatamkan Al-Qur'an hanya dalam satu hari. Sedangkan Imam As Syafi’i dan Imam Abu Hanifah menghatamkan al-Qur'an sebanyak 60 kali.

Masya Allah, kita mengenal sosok Imam asy-syafi'i sebagai Mujtahid yang banyak diikuti. Sosok shalafus shalih yang sangat layak diteladani. Sepanjang bulan Ramadhan, Iman asy-Syafi'i membagi malamnya menjadi tiga bagian. Pertama untuk menulis, kedua untuk shalat, dan sepertiga lainnya untuk tidur. Dan pada sepuluh malam terakhir Imam menghidupkan seluruh malam dengan ibadah utamanya.

Hal yang dilakukan oleh Shalafus shalih bukan tidak ada alasan, semua karena iman dan ketakwaan telah mendorong insan beriman untuk memaksimalkan ibadah di akhir Ramadhan sebagai persembahan terbaik. Sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sebagai teladan terbaik dalam hal keimanan dan ketakwaan, Rasulullah adalah orang yang paling giat dan total dalam menjalankan ibadahnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Jika Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam saja, yang telah Allah janjikan surga begitu giat menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu, beribadah, beriktikaf. Bukankah sudah selayaknya kita hamba yang penuh dosa ini juga melakukan hal yang sama? Agar kita tidak tergolong menjadi manusia yang rugi, karena menyia-nyiakan kesempatan berharga?

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah sampaikan,

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

"Amat merugi/hina seseorang yang Ramadhan masuk padanya kemudian Ramadhan pergi sebelum diampuni dosanya." (HR. al-Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi, al-Thabrani, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jaami', no. 3510).

Karena itu, sebagai Muslim yang mengaku beriman dan mengharapkan surga kelak di hari perjumpaan. Sudah sepatutnya kita mengikuti jalan shalafus shalih dan Rasulullah sebagai teladan. Jangan terjebak euforia menjelang lebaran. Sibuk dengan aktivitas yang sia-sia. Tenggelam dengan rutinitas dunia dan meninggalkan ibadah bertaqarub di jelang akhir bulan puasa.

Harapan kita, agar besok-besok setelah Ramadhan pergi kita sudah terlatih menjadi pribadi yang bertakwa, pribadi yang senantiasa menghidupkan sunah dan amalan terbaik memenuhi sebelas bulan lainnya. Karena keberhasilan Ramadhan yang saat ini kita jalani justru terlihat di luar bulan Ramadhan.

Karena itu, mari kita optimalkan jam dan detik akhir bulan Ramadhan yang tengah kita jalani ini, sebagai bukti syukur nikmat dan kesempatan yang Allah beri. Karena belum tentu kita akan bertemu dengan Ramadhan ke depannya. Barangkali ini adalah ramadhan terakhir kita di dunia.

Selamat berpisah Ramadhan! Kami lepas engkau dengan lapang dada. Semoga tahun depan kita bisa berjumpa, dalam nuansa yang penuh takwa. Aamiin!

Wallahua'lam.[]


photo : Pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Membawa Spirit Ramadhan pada Anak ketika Ramadhan Berakhir
Next
Memberi Hadiah dan Cinta
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram