Pantaskah Kita Risau Akan Rezeki?

"Tidak akan bergeser kaki seseorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ia ditanya 4 perkara ini: Umurnya, untuk apa dia habiskan; Ilmunya sejauh mana dia amalkan; Hartanya dari mana dan digunakan untuk apa; serta tubuhnya untuk apa dia manfaatkan." (HR. At-Tirmidzi No.2417).


Oleh:Aya Ummu Najwa

NarasiPost.Com-Sering kali kita temui teman-teman yang enggan berjuang atau mulai menyerah dalam berdakwah. Banyak alasan, kadang karena sibuk mencari rezeki, pekerjaan yang menumpuk, jadwal yang padat, dan lain sebagainya. Jikalau porsi waktu bekerjanya dikurangi untuk ikut kajian, maka tentu akan mengurangi pendapatan. Atau jika pendapatan diambil untuk infak bulanan, bagaimana akan menabung? Jika simpanan dana malah digunakan untuk menghadiri kajian yang jauh, yang memerlukan ongkos, bagaimana uangnya akan terkumpul. Subhanallah.

Apakah kita lupa bahwa Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya yang bernyawa? Bukankah Allah telah menetapkan bahwa kita tidak akan mati sebelum jatah rezeki kita habis? Sungguh, bukan tugas kita untuk merisaukan masalah rezeki kita. Namun yang harus kita risaukan adalah apakah yang kita lakukan untuk menjemput rezeki sudah sesuai aturan Allah atau belum? Apakah sudah sesuai aturan Allah bagaimana dan di mana harta kita belanjakan?

Sungguh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda dari Jabir bin Abdillah:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَبْدٌ لَيَمُوتَ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ رِزْقٍ هُوَ لَهُ ، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، أَخْذُ الْحَلَالِ وَتَرْكُ الْحَرَامِ

"Janganlah kalian putus asa dari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati kecuali telah sampai ke akhir rezeki yang merupakan bagiannya, maka perbaikilah cara mencari rezeki; mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.
(HR. Al Hakim dlm Al Mustad
rak (2/4) dan dishahihkan Al Albani dlm Ash Shahihah 2607)

Kita bisa mengambil beberapa faidah dari hadits tersebut:

Pertama, sesungguhnya di antara kalian tidaklah akan keluar dari kehidupan ini yaitu mati, jika belum sempurna jatah rezekinya, maka yang harus kita lakukan adalah bertakwa, dan memperbaiki cara kita mencari rezeki. Jika ada manusia telah putus asa dari masalah rezeki, maka sungguh terlarang baginya mencari rezeki dengan bermaksiat kepada Allah, karena keutamaan dan kemuliaan dari Allah tidak akan didapat dengan jalan maksiat.

Kedua, oleh karena itu, janganlah panik dan risau dalam mencari karunia Allah Subhanahu wa ta'ala. Kita harus senantiasa yakin bahwa rezeki itu pasti datang, kewajiban kita hanyalah berusaha, berdoa dan tawakal di setiap langkah kita.

Allah Subhanahu Wa ta'ala berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud : 6).

Jadi, sungguh Allah telah mengatur rezeki kita, maka tidaklah layak bagi kita untuk risau atau gundah karena masalah rezeki. Semestinya kita lebih merisaukan amalan kita, cukupkah bekal kita untuk bertemu dengan Allah ketika ajal menjemput kita? Sudah cukup kuatkah hujjah kita kelak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah?

Karena sungguh, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam telah bersabda: "Tidak akan bergeser kaki seseorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ia ditanya 4 perkara ini: Umurnya, untuk apa dia habiskan; Ilmunya sejauh mana dia amalkan; Hartanya dari mana dan digunakan untuk apa; serta tubuhnya untuk apa dia manfaatkan." (HR. At-Tirmidzi No.2417).

Tentu kita ingin dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik dan benar bukan? Oleh karena itu, mari berlomba dalam kebaikan, tidak perlu risaukan rezeki yang sudah Allah atur untuk kita, kita tak akan mati sebelum jatah rezeki kita habis bukan?

Wallahu a'lam[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Inkonsistensi Penguasa di Balik Larangan Mudik
Next
Sepuluh Tahun
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram