Bila Saatnya Kau Harus Melangkah

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (Al Hasyr:19)


Oleh: Aya Ummu Najwa

NarasiPost.Com-Anakku, tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Seakan melewati hari tanpa menit dan detik. Membawamu yang kemarin masih memerah, kini telah beranjak meremaja. Kemarin kau bagaikan anak burung mungil nan lucu, yang kini siap mengepakkan sayapnya, bersiap berpetualang menjelajahi dunia.

Ada kalanya ingin kurengkuh dirimu selamanya. Namun apalah daya, kewajiban haruslah diutamakan. Pergilah tuntut ilmu sebanyak-banyaknya, untuk kau bagi dengan sesama. Untuk bekalmu beramar makruf nahi mungkar, karena kau adalah penerus estafet perjuangan. Karena agama ini harus terus diemban, agar setiap yang bernyawa mengingati tujuan apa ia diciptakan.

Anakku, ketika kau menyapa dunia, ingatlah senantiasa jadikan akidah Islam sebagai pijakan setiap keputusan, jadikan ia sebagai pemimpin dalam setiap langkahmu, jadikan ia cahaya yang akan menyinari hidupmu, yang pasti kau tak akan pernah tersesat dan terjatuh selamanya.

Jangan pernah lupa dan selalu Ingatlah, bahwa Allah tidak pernah lengah mengawasimu, di mana pun dan kapan pun. Maka jangan pernah merasa sendiri, selalu ada Allah. Maka mintalah dan mohonlah, hanya kepada-Nya, adukan semua keluh kesahmu hanya pada-Nya, niscaya kau tak akan pernah kecewa.

Anakku, jangan pernah sedikit pun berharap pada manusia, karena pasti hanya kekecewaan yang akan kau dapatkan. Gantungkan semua pengharapanmu hanya pada Allah sang pemilik segalanya. Jangan pernah melupakan-Nya walaupun hanya sedetik, karena itu akan menjadi bencana bagi hidupmu.

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (Al Hasyr:19)

Anakku, Ketika kau melangkahkan kakimu, menapaki jalan kehidupan, ingatlah untuk tetap merendah walau pun sejatinya kau lebih tinggi. Karena dengan tetap merendah hati, kau akan terjaga dari sifat sombong dan takabur, karena itu akan mengantarkanmu kepada kebencian Rabbmu juga sesamamu. Maka tetaplah merendah, karena dengan seperti itu sejatinya kau telah menjemput kasih sayang manusia, juga mencapai ketinggian derajat di sisi Rabbmu.

Anakku, ketika kau melangkahkan kakimu menyusuri terjalnya jalanan dunia, ingatlah junjung tinggi adabmu. Terlebih kepada gurumu. Karena dengan mulianya adab, itulah cerminan kualitas ilmumu. Muliakan dan hormati gurumu, karena dengan tingginya adabmu turunlah barakah Ilmu pada dirimu. Karena dengan luhurnya akhlakmu, itulah bukti murninya akidah dalam dirimu.

"Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata, “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Pakailah adab yang terbaik jika kau duduk bersama gurumu, apalagi ketika berada dalam majelisnya. Duduklah dengan tawadhu, jangan bersandar, jangan pula kau membelakanginya. Saat pembelajaran berlangsung, fokuslah pada pelajaranmu, jangan terlibat dengan yang lain selagi gurumu ajarkan ilmu. Jangan terlampau banyak senyum apalagi keraskan tawamu. Pakailah cara terbaik dalam mendengarkannya dan dalam menanyakan sesuatu. Bersabarlah dalam membersamainya, jika kau temukan kesalahannya maka gunakan adab yang paling luhur dan agung dalam meluruskannya.

Sungguh seorang guru adalah manusia mulia di hadapan Allah Subhanahu Wa ta'ala, mereka adalah pewaris nabi pemegang dan penyebar ilmu agama. Maka jika buruk adabmu di hadapan mereka, sungguh telah hilang keberkahan ilmu yang kau dapatkan, yang bahkan tak bisa kau amalkan dan tak bisa kau sebarkan.

"Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama." (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami)

Maka jangan pernah kau potong perkataannya, dan jangan pula kau keraskan suaramu di depannya. Tempatkan dirimu di hadapannya layaknya engkau berada di depan abimu. Jangan pernah menyela, berbicaralah jika kau telah diizinkan. Senantiasa doakanlah ia seperti kau mendoakan umi abimu. Peganglah ini anakku, raih keberkahan ilmu dari mulianya adabmu kepada gurumu.

Anakku, Ketika kau keluar melangkahkan kakimu menyusuri hiruk pikuk dunia, ingatlah kau bukan siapa-siapa tanpa Tuhanmu, maka sayangilah sesamamu sebagaimana kau menyayangi dirimu sendiri. Senantiasalah jadikan ukhuwah Islamiyah sebagai pegangan. Jangan mudah berselisih hanya karena dunia. Janganlah pecah konsentrasimu hanya karena sedikit gemerlap dunia, karena sejatinya setiap kerlipnya hanya kesemuan dan kehampaan. Maka barang siapa yang tergoda dan terlena, sejatinya ia hanya tertipu dan pasti merugi.

Jauhilah perbuatan suka berbangga-bangga dengan banyaknya harta, karena sesungguhnya harta pasti akan sirna, Kemegahan jabatan pasti akan hilang, kududukan pasti akan lenyap. Sudah tabiat manusia suka akan harta dan kemewahan, ia akan senantiasa merasa kurang dengan semua yang ia capai. Ia akan merasa sayang dengan apa yang ia raih, dan merasa ingin memilikinya selamanya. Sungguh dunia ini hanya menipu, sabarlah dalam mengarungi godaannya wahai anakku.

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?" (HR. Muslim no. 2958)

Di sini, umi abi selalu mendoakan agar Allah beri yang terbaik untukmu. Memohon perlindungan terbaik dari Allah untukmu. Maka fokus dan mantapkan langkahmu. Demi cita-cita agung menjadi penerus para anbiya, pemimpin masa depan umat, juga kelayakan mencapai puncak tertinggi yang telah Allah janjikan untuk orang-orang yang ditinggikan derajatnya, jannatal firdaus. Biidznillah.

Wallahu a'lam.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Almond, Baik untuk Ibu Menyusui
Next
Anak Bangsa, Tabungan Kaum Pekerja
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram