Bertambah dan Berkurangnya Iman

“Ilmu dan iman adalah hal yang harus diusahakan oleh manusia dengan usaha terbaik, agar mendapatkan ketinggian derajat yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
(Ibnu al-Qayyim rahimahullah)


Oleh: Aya Ummu Najwa

NarasiPost.Com-Iman adalah sesuatu yang diyakini di dalam hati manusia dan merupakan puncak tujuan seorang hamba. Iman harus diusahakan oleh hati dan jiwa. Dengan iman, manusia bisa mencapai puncak kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia ia akan merasakan ketenangan dan ketentraman hati, sehingga menjalani kehidupan yang penuh ujian ini ia tidak akan mudah gundah dan resah.

Sedang di akhirat, ia akan memperoleh semulia-mulianya kedudukan di tempat yang paling indah yaitu surga. Tempat terbaik yang memang disiapkan hanya untuk para orang-orang yang beriman. Dengan keimanan pula, ia akan selamat dan terhindar dari dahsyatnya azab neraka. Yang panasnya ada sepanas-panas api, seburuk-buruk tempat, yang penghuninya adalah seburuk-buruk hamba.

Dengan keimanan, seorang hamba akan mencapai segala kebaikan, puncak kesuksesan, juga tingginya kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat. Manusia akan terhindar dari segala keburukan, bahaya, musibah, bencana, serta ia akan selamat dari azab Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan keimanan pula, seorang hamba akan layak mendapatkan puncak dari kenikmatan, yaitu dapat berjumpa dan memandang Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ

"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesak-desakan dalam melihat-Nya." (Muttafaqun alaih).

Iman merupakan hal terpenting bagi seorang Muslim. Karena nasib seseorang di dunia ini maupun kelak di akhirat, ditentukan oleh iman. Apakah kebaikan di dunia atau di akhirat, semua itu iman yang benar yang menentukan. Dengan iman, di dunia ia akan mendapatkan kelapangan hidup, dijauhkan dari kesempitan hidup, berbagai macam keburukan, bahkan ia akan mendapat pahala dan Rida Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan puncaknya adalah kelak di akhirat ia akan mewarisi surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Untuk itu, sudah seharusnya manusia lebih memusatkan perhatian terhadap permasalahan keimanan ini. Suatu ketika Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah pernah menuturkan:

“Ilmu dan iman adalah hal yang harus diusahakan oleh manusia dengan usaha terbaik, agar mendapatkan ketinggian derajat yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat kelak."
(Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah)

Namun, sejatinya keadaan Iman itu fluktuatif, adakalanya ia bertambah dan adakalanya berkurang, atau malah sempurna. Beberapa ayat Al-Qur’an menjadi bukti bahwa iman itu dapat bertambah juga berkurang. Salah satunya adalah ayat 4 dari surah Al-Fath berikut:

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

"Agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)."

Ayat ini sebagai dalil bahwa iman itu bisa bertambah.

Dikarenakan iman dapat bertambah juga berkurang, maka manusia harus mulai mengenal dan memperhatikan sebab-sebab yang dapat menjadikan keimanan naik dan turun, karena hal ini sangat penting sekali dalam kehidupan manusia. Sehingga ia akan dapat menerapkannya di dalam kehidupannya dan meningkatkan kualitas keimanannya. Begitupun ia akan senantiasa berhati-hati dengan sebab-sebab yang dapat membuat imannya turun, maka ia akan menjauhkan dirinya dari hal-hal tersebut, agar imannya tidak turun.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskankan, seorang hamba yang Allah beri taufik akan selalu berusaha melakukan dua hal:

Pertama, ia akan berusaha merealisasikan keimanan dan berusaha untuk menerapkannya, apakah dengan cara ilmu atau amal, ataukah keduanya ia terapkan bersama-sama. Kedua, ia akan berusaha untuk menolak segala hal yang bertentangan dan yang dapat mengurangi keimanan, atau bahkan menghapusnya. Baik berupa subhat dan fitnah-fitnah yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Ia akan terus melakukan perbaikan dari setiap kekurangan, kemudian menambalnya dengan taubat nasuha. (At-Taudhîh Wal-Bayân Lis Syajarât al-Imân hlm. 38)

Menambah dan memperkokoh keimanan harus dilakukan dengan mengetahui sebab-sebab yang dapat meningkatkan keimanan dan kemudian menerapkannya. Sebaliknya mengetahui sebab-sebab berkurangnya keimanan sehingga diri senantiasa berhati-hati agar tidak terperosok ke dalamnya.

Para Ulama telah menerangkan beberapa hal yang dapat menambah keimanan, di antaranya adalah:

Pertama, Mempelajari ilmu yang bermanfaat, yang bersumber dari al-Qur'an dan as Sunnah. Hal ini akan menjadi sebab bertambahnya iman. Dengan ilmu, manusia akan mengetahui kualitas ibadahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga akan terwujud tauhid yang benar. Bertambahnya keimanan karena ilmu bisa terjadi dari bebagai aspek, seperti; keluarnya pencari ilmu untuk menuntut ilmu, duduknya ia dalam majelis ilmu, maupun diskusi-diskusi yang mereka lakukan dalam permasalahan ilmu, juga ditambahkannya ilmu oleh Allah kepada ahli ilmu terhadap syariat, ilmu yang mereka pelajari dan terapkan, maupun bertambahnya pahala dari orang-orang yang mempelajari ilmu darinya,

Kedua, Merenungi dan mentadabburi beraneka ragamnya ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga merupakan pengokoh keimanan yang kuat. Dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, Tafakur terhadap alam semesta berupa penciptaan langit dan bumi, makhluk-makhluk yang menghuninya, juga merenungi penciptaan diri manusia itu sendiri serta sifat-sifat yang dimilikinya, merupakan adalah faktor pendorong keimanan yang kokoh. (Ibid hlm. 31)

Ketiga, Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk dapat dengan ikhlas melaksanakan setiap ketaatan juga merupakan pengokoh keimanan. Karena bertambahnya keimanan seiring dengan baik dan bagusnya pelaksanaan ibadah dan ketaatan. Selain memperhatikan kualitas ibadah, kuantitas pelaksanaan ibadah pun juga dapat menambah keimanan, karena banyaknya amalan adalah bagian daripada iman, sehingga semakin banyak amalan yang dilakukan semakin bertambah pula keimanan dalam diri.

Adapun faktor-faktor penyebab berkurangnya keimanan, bisa berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, maupun dari faktor luar.

Di antara faktor yang memiliki pengaruh besar dalam melemahkan keimanan yang berasal dari dalam diri manusia adalah; Kejahilan atau kebodohan, merupakan faktor terbesar berkurangnya keimanan, sebagaimana ilmu merupakan faktor terbesar bertambahnya keimanan. Kemudian Kelalaian, sikap berpaling dan abai dari kebenaran. Dan juga lupa. Dosa dan maksiat yang sering dilakukan pun menambah terperosoknya keimanan pada taraf semakin rendah, Sebagaimana semakin banyaknya amalan ketaatan yang dilakukan akan semakin menambah keimanan, begitu juga sebaliknya.

Sedangkan faktor dari luar diri manusia itu sendiri di antaranya adalah; Setan, yang merupakan musuh abadi dari manusia. Dengan godaan-godaannya dan bisikan-bisikannya, merupakan faktor yang sangat kuat dalam melemahkan keimanan manusia. Kemudian fitnah dunia dan dunia itu sendiri. Ketika manusia lebih menyibukkan diri pada urusan dunia dan segala perhiasannya, pun ia akan semakin berusaha meraih dunia dan mengharapkan kebahagiaan dunia, maka semakin ia berat dalam melaksanakan aktivitas ketaatan untuk kebahagiaan akhirat, sehingga ini akan memengaruhi keimanannya sehingga akan semakin melemah dan berkurang.

Selanjutnya adalah teman yang buruk. Teman bergaul yang buruk sangat berbahaya bagi keimanan, yang akan memengaruhi akhlak dan juga agamanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

"Seorang itu berada di atas agama kekasihnya, maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya." (HR at-Tirmidzi 4/589, dinilai hasan oleh Iman al-Albâni rahimahullah.)

Wallahu a'lam[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Hadirmu
Next
Duniaku Duniamu
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram