Bersyukur Tiada Bertepi

Bersyukur Tiada Bertepi

Ya, bersyukur tiada bertepi di dalam setiap keadaan, kapan pun dan di mana pun. Sehingga tak ada alasan bagi Allah untuk tidak menambah nikmat kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur

Oleh. Bunga Padi
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Alhamdulillah sampai detik ini masih diberi nikmat bernapas, kehidupan pun terus berlanjut. Meski terlihat bertambah pada hakikatnya jatah kehidupan kita terus berkurang. Namun begitu, penting dan wajib kita terus bersyukur kepada Allah Swt. karena telah diberi kesempatan dan menikmati kehidupan dunia hingga sekarang.

Terkadang kita tak menyadari betapa napas yang kita peroleh merupakan nikmat dan karunia yang tak ada duanya di dunia. Jika membandingkan dengan orang yang sedang sakit memakai selang oksigen untuk bernapas sungguh sakit yang tak terperi. Menandakan sungguh berartinya sebuah napas bagi keberlangsungan hidup dan selamatnya nyawa.

Jangan Kufur

Allah Swt. di dalam surah An-Nisa ayat 147 berfirman, “Allah tidak akan mengazab kalian jika bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah selalu memuji hamba-Nya yang senantiasa bersyukur kepada-Nya dan Allah Maha Tahu.”

Dipertegas pada firman lainnya di surah Ibrahim ayat 7 yang berbunyi, ”Ingatlah saat Allah memaklumi kalian, 'Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat untuk kalian. Jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.'”

Ayat di atas patut menjadi renungan bagi kita agar setiap saat selalu bersyukur. Ya, bersyukur tiada bertepi di dalam setiap keadaan, kapan pun dan di mana pun. Sehingga tak ada alasan bagi Allah untuk tidak menambah nikmat kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur. Bahkan Allah berjanji kepada mereka yang mengingkari nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepadanya dengan siksaan yang amat memedihkan.

Syukur yang Terukur

Bersyukurlah terus, tataplah alam semesta, langit yang biru, awan yang indah menggantung, rembulan yang mengintip di malam hari, matahari yang tiada bosan bersinar. Kemudian, amatilah diri, dan di sekeliling kita, berterima kasihlah kepada Allah karena masih mau menerima dan mengampuni kita dalam kondisi dan keadaan apa pun.

Allah Swt. tetap mencurahkan kasih sayang-Nya, kesehatan, melimpahkan rezeki-Nya, berjumpa dengan sahabat-sahabat saleh dan salihah. Maka janganlah kita bersedih terlalu lama dengan adanya sedikit ujian-ujian hati yang menimpa, cukuplah merespons sekadarnya saja. Bersegera bangkit dan berdoalah sebanyak-banyaknya sebagai ungkapan rasa syukur. Andaikan saja kita diminta menjumlahkan seluruh kenikmatan yang telah Allah berikan niscaya tak akan sanggup menghitungnya.

Meneguhkan iman dengan fondasi akidah Islam sebagai landasan berpikir dan syariat-Nya sebagai pijakan dalam beramal saleh. Dan sadari semua yang kita temui di kehidupan dunia telah tertulis di lauhulmahfuz-Nya. Lantas, apakah kita harus menolak atau mencerca qada-Nya? No, dunia akan terus berputar seiring berjalannya waktu. Kita mesti fokus pada diri sendiri, selama ini apa saja yang sudah dilakukan, apakah lebih banyak kebaikan atau keburukan? Membenahi diri, mengevaluasi untuk perbaikan ke depannya itu jauh lebih baik dan tindakan bijak.

Kiat-kiat menyuburkan rasa syukur hingga tiada bertepi

Pertama, memiliki kesadaran kedekatan hubungan dengan Allah. Meyakini Allah sebagai satu-satunya tempat bermohon, bersujud, berserah diri hanya kepada-Nya. Senantiasa menggantungkan semua asa dan impian-impian hanya kepada-Nya. Meletakkan Allah sebagai Zat paling tinggi di hati dan pikiran. Meyakini sepenuh jiwa bahwa Dia yang menguasai segala alur kehidupan kita. Di tangan-Nya ujian baik buruk diturunkan kepada hamba-Nya. Tentu saja bukan tanpa sebab bila mengalami ujian kesedihan atau kebahagiaan kecuali Allah hendak membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, lebih tangguh, lebih matang, tahan banting, dan insan yang pandai bersyukur.

Mengukur kebahagiaan bukan terletak pada seberapa besar apa yang kita miliki, akan tetapi sebesar apa yang patut disyukuri. Ketika kita mampu menjalani kehidupan dengan penuh rasa kesyukuran yang tinggi. Maka di saat itulah keberlimpahan, kebahagiaan, kejayaan, dan keberkahan akan diperoleh. Ya, akibat dari rasa syukur yang terus memenuhi ruang hatinya.

Kedua, bersyukur dengan memanfaatkan potensi-potensi yang telah Allah berikan. Karena pada hakikatnya setiap hamba-Nya yang hadir ke muka bumi ini telah Allah bekali berupa-rupa potensi. Tinggal bagaimana kita mau menggali, memanfaatkan, dan mempersembahkan untuk kemaslahatan umat dan agama.

Perihal yang perlu disadari dalam berproses menempa diri, mengolah soft skill atau keahlian pada bidang apa pun, tumbuhkanlah sikap berani untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan hal-hal baru. Dan ingatlah semua menuntut kesabaran, kesungguhan dan waktu yang tidak sebentar. Bahkan tatkala berproses kerap kali akan menemui berbagai rintangan yang tak mudah dilalui. Namun, menyerah adalah sesuatu yang harus dihindari.

Dengan keyakinan penuh kepada Sang Maha Pemilik langit dan bumi, yakinlah Allah pasti menolong kita, meski berada di jalanan terjal dan batu cadas tajam yang siap menggores kulit. Tetapi sikap terbaik jangan pernah berhenti bergerak, jangan berputus asa dari rahmat-Nya. Lakukan saja sampai lelah berhenti mengikuti. Satu hal yang mesti diketahui, Allah tak akan pernah meninggalkan kita. Kau harus yakin itu.

https://narasipost.com/motivasi/03/2024/masalah-ringan-dengan-bersyukur/

Ketiga, fokus pada tujuan dan bahagiakanlah dirimu. Kala dihadapkan memilih satu di antara dua. Maka akan ada dua kemungkinan, yaitu memutuskan untuk memilih bertahan atau memutuskan untuk menyerah. Semua pilihan ada di tangan kita. Di sinilah dibutuhkan kekuatan hati yang besar jangan sampai keliru dalam memilih. Pilihlah keputusan yang akan membawamu pada keahlian tertentu dan menjadi warna spesial bagimu. Semisal menetapkan menjadi penoreh literasi, maka tekunilah dunia literasi dengan serius. Kelak apa yang menjadi keputusan kita hari ini akan memberi pengaruh besar di masa depan. Jangan pernah ragu ukirlah jejak namamu di alam semesta.

Bersyukur tiada bertepi menjadi sangat penting. Tidak perlu pakai ukuran kacamata manusia. Cukuplah Allah menjadi sebaik-baik sandaran, tujuan, dan harapan. Ada kalanya dalam perjuanganmu belum membuahkan hasil di saat itu, tapi jangan kecewa atau berhitung-hitung dalam beramal saleh, terus saja berjuang, lakukan dengan hati gembira meraih asa yang sudah di depan mata. Keberuntungan hanya masalah waktu saja. Dan yakinlah Allah menilai setiap upayamu dalam berproses. Jadi tidak ada yang sia-sia. Tetap luruskan niat sucimu.

Tumbuh suburkan semangat bak bara api yang terus membara, memiliki tekad kuat dan daya juang yang tangguh, terus memperbaiki hidupmu, tegakkan sandaran bahumu untuk siap menerima segala amanah dari langit. Di dunia ini tak ada seorang pun yang mau terluka atau sengsara dalam kehidupannya. Semua manusia menginginkan kebahagiaan hidup, keluarga yang harmonis, pertemanan yang baik, berkecukupan, rumah besar, kesalehan diri yang terjaga, bisa naik haji atau umrah, menolong sesama, dst. Namun, semua itu tak serta-merta terwujud tanpa disertai kerja keras, ikhtiar, dan doa yang terus melangit ke haribaan-Nya.

Dan poin terpenting lainnya, meningkatkan rasa syukur yang tinggi kepada Allah dengan menghadirkan hati yang senantiasa bahagia, tulus, dan ikhlas. Saat hatimu bahagia akan mudah mencerna segala sesuatu yang terjadi. Ketenaran atau popularitas bukan lagi menjadi prioritas. Kita tidak akan tergiur dengan manisnya sanjungan atau sebaliknya.

Tetap memfokuskan diri pada tujuan dan yang membuatmu bahagia. Jangan biarkan orang lain merusak kebahagiaanmu. Sesekali beri apresiasi pada dirimu sekecil apa pun pencapaian yang telah diperoleh. Bilang pada dirimu sendiri, “Ya Rabb, aku bersyukur atas segala nikmat-Mu hari ini. Aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini, …..” Lakukan dalam hening, diterpa embusan angin semilir, pejamkan mata, tarik napas dalam-dalam dari hidung keluarkan perlahan dari mulut. Semoga cara ini sedikit melegakan.

Ketiga, tidak menggubris penilaian yang dapat melemahkan mentalmu atau membuat semangatmu futur. Di kehidupan sekuler seperti sekarang, sudah tak asing lagi bagi kita melihat orang mudah sekali melepaskan lisannya. Apakah lisan itu menyakiti hati orang lain, mem-bully, merendahkan, dan sebagainya. Itu semua diluar kontrol dan kendali kita. Tetapi kita bisa mengontrol dan mengendalikan pikiran dan hati kita untuk tidak terpengaruh lisan-lisan yang tidak baik tersebut dan bersikap masa bodoh. Intinya tetap mengontrol emosimu untuk tidak reaktif pada komentar miring tentangmu atau yang bisa menghambat kemajuan dirimu. Dan jadikanlah ia obat mujarab atas kelemahan yang kau punya.

Keempat, mengubah kelemahan menjadi peluang. Selama kita berwujud manusia maka sepaket dengan kelemahan dan kelebihannya. Tak perlu berkecil hati, itu sunatullah. Sekarang bagaimana tugas kita mengubah kelemahan di dalam diri? Menjadi peluang yang bermutu tinggi. Hal pertama yang kita lakukan adalah mengakui dan menerima kelemahan kita. Kemudian dari situ berusahalah semaksimal mungkin untuk tidak melihat kelemahan itu lagi tetapi melihat pada kekuatan lain pada diri kita untuk dijadikan benteng dan melakukan terobosan-terobosan serta mengedukasinya menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi.

Kelima, temukan circle pergaulan atau komunitas yang sehat. Sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka penting sekali berkumpul dengan orang-orang yang saleh dan salihah. Yang mana di dalamnya menjalin persaudaraan, berbagi ilmu, belajar bersama, tempat sharing yang menyenangkan, saling menguatkan, melindungi, sikap ta'awun, dan saling menjaga kehormatan.

Dengan adanya dukungan untuk tumbuh bersama, merasa dicintai dan mencintai dari luar semakin membuat seseorang tersebut bersyukur. Patutlah kiranya nasihat Rasulullah saw. menjadi renungan, “Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa indahnya membangun kebersamaan dan merapatkan barisan membentuk satu kesatuan yang kokoh bersama orang-orang yang tercinta. Maka tiada hal yang paling baik yakni selain meningkatkan rasa syukur yang tinggi kepada Allah Swt. serta meluaskan cinta kasih pada sesama. Semoga dengan itu menjadikan dirimu semakin bertumbuh besar, semakin sehat, semakin bahagia. Dan menjadikan segala kebaikan yang terukir sebagai simpanan amal saleh yang berkelimpahan dengan keberkahan-Nya di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishawab. []

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com
Bunga Padi Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Misteri Kehidupan
Next
Keluarga Terkoyak: Tangis Sesal sang Penjagal Alat Vital
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

3 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Firda Umayah
Firda Umayah
9 days ago

benar sekali. bersyukur itu harus selalu ada di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun. barakallah untuk penulis

Mimy muthmainnah
Mimy muthmainnah
Reply to  Firda Umayah
9 days ago

Aamiin ya Mujibasailiin, ya mb Firda semoga istikamah bersyukur. Jazakillah khair tlah comment ya

Mimy muthmainnah
Mimy muthmainnah
10 days ago

Masyaallah tabarakallah
Semoga selalu menjadi hamba yg bersyukur di setiap keadaan.

Jazakillah khairan Ibu Pemred dan Tim NP

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram