Ngabuburit Anti Maksiat

Nabi Saw. telah mengingatkan, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani).


Oleh: Choirin Fitri (Pemerhati Remaja)

NarasiPost.com - Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang artinya aktivitas menghabiskan waktu sore menjelang malam. Jika diambil dari pengertian ini ngabuburit sendiri berhukum mubah. Boleh dilakukan dengan S dan K berlaku.

Ngabuburit akan mendulang pahala atau menuai dosa tergantung aktivitas yang dilakukan saat ngabuburit.

Jika ngabuburit diisi kebaikan, pahala didapat. Namun, jika diisi dengan kemaksiatan, dosalah yang dituai. Sehingga, sebagai generasi milenial muslim kita harus pandai memilih dan memilah aktivitas apa yang tidak terkategori bermaksiat pada Allah.

Ternyata usut punya usut ada banyak aktivitas ngabuburit berbau maksiat yang sering dilakukan oleh muda-mudi saat ini. Contohnya:

  1. Berkhalwat atau berduaan

Rasulullah Saw. bersabda, "Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)

Berkhalwat ini tidak harus mojok di tempat sepi. Meski di tempat ramai seperti alun-alun, cafe, jalan kalau berduaan tetap disebut khalwat yang diharamkan Allah. Tak boleh kita melakukannya.

  1. Mendekati zina atau pacaran

Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
(Al Isro':32)

Nah, saat ini banyak mereka yang memanfaatkan waktu ngabuburit dengan si doi yang jelas belum halal. Padahal, dengan tegas Allah haramkan aktivitas yang mendekati zina ini. Meski dengan tameng pacaran syar'i tetap tak ada kehalalan pacaran dalam kamus agama Islam. Kalau ngabuburit bareng pasangan halal alias suami sih boleh.

  1. Ngobrol sambil ghibah atau gosip “Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda: “’Tahukah kalian apa itu ghibah?’ Lalu sahabat berkata: ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu’. Rasulullah bersabda: ‘Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang dia benci’. Beliau ditanya: ‘Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan benar tentang saudaraku?’ Rasulullah bersabda: ‘jika engkau menyebutkan tentang kebenaran saudaramu maka sungguh engkau telah ghibah tentang saudaramu dan jika yang engkau katakan yang sebaliknya maka engkau telah menyebutkan kedustaan tentang saudaramu.’'
    (HR. Muslim no. 2589)

Nah, ghibah juga diibaratkan memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Bisa jadi kita berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah yakni makan minum, tapi kita malah berbuka dengan apa yang diharamkan oleh Allah yakni ghibah. Astaghfirullah. Mending keep silent! Jaga lisan agar tak terperosok pada ucapan berbuah dosa ini.

  1. Nge-Games, nge-medsos, nge-tik-tok

Era milenial memang menghadirkan berbagai kemudahan teknologi informasi dan komunikasi yang makin canggih. Televisi, hp, notebook, dll seakan susah hilang dari genggaman. Hingga, saat ngabuburit pun waktu dihabiskan untuk berselancar di dunia maya.

Ada yang nge-games online hingga lupa waktu salat atau tidur siang untuk mempersiapkan diri agar tidak ngantuk saat tarawih. Ada yang berselancar di akun medsos guna eksis atau sekadar narsis. Ada pula yang menyanyi-nyanyi sambil joget ria di akun semacam tik-tok, wesing, dll.

Sungguh ini adalah hal yang sia-sia bagi seorang muslim. Padahal, saat Ramadhan harusnya waktunya bisa digunakan untuk memperbaiki ibadah, ilmu, dan perjuangan untuk Islam malah digunakan untuk hal yang tidak membawa pahala. Bahkan, jika karena hal ini sampai melalaikan kewajibannya bisa terkategori dosa atau menggugurkan pahala puasa. Nauzubillah mindzalik.

Nabi Saw. telah mengingatkan, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani).

Nah, ini bisa jadi menjadi sindiran buat kita ketika menikmati ngabuburit bukan untuk menggapai rida-Nya tapi malah bermaksiat pada-Nya. Bisa jadi kita puasa tapi hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Sungguh, kerugian dan bentuk kesia-siaan yang tak boleh terus dilakukan.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Sia-Siakah Bekalku?
Next
Demokrasi dan Islam, Bisakah Selaras?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram