Mengendalikan Rasa Takut

Rasa takut yang tumbuh pada diri manusia adalah sunatullah dan rasa takut itu tidak bisa dihilangkan. Namun, rasa takut bisa dikendalikan dengan meluruskan pemahaman tentang tujuan hidup kita.

Oleh: Yulia Putbuha

NarasiPost.com - Pastinya kita pernah menyaksikan acara infotainment selebritis, yang di mana mereka rela menggelontorkan uang puluhan juta bahkan ratusan juta, hanya untuk memermak wajah agar terlihat muda. Ada juga mungkin yang pernah menyaksikan orang gemetaran ketika di atas panggung.

Dari dua contoh tadi merupakan gambaran "takut" walaupun konteksnya berbeda. Seorang artis yang memermak wajah tersebab dari rasa takutnya dengan "tua dan keriput". Sedangkan ketakutan yang kedua adalah takut "gagal" hingga memicu reaksi tubuh seperti berkeringat dan bergetar yang disebabkan dari rasa grogi.

Hal tersebut adalah contoh kecil akibat dari rasa takut. Kemudian contoh besarnya adalah takut akan kematian, untuk yang ini mungkin 80 persen manusia merasakannya.

Apakah rasa takut yang dicontohkan tadi adalah wajar? Rasa takut merupakan sesuatu hal yang wajar, karena takut merupakan reaksi emosional terhadap sesuatu yang mengancam, baik itu mengancam jiwa ataupun fisik.

Rasa takut ini bisa memberikan kita keluar dari zona nyaman atau justru memenjarakan kita. Hal itu tergantung pada pandangan kita dalam memaknai rasa takut tersebut.

Pernah mendengar nama Kostya Tszyu? adalah juara tinju dunia, beliau mengatakan "Jika saya mengatakan tidak takut merasa sakit, brarti itu bohong. Semua petinju takut merasa sakit, tetapi saya belajar mengontrol rasa takut saya." Kostya Tszyu berhasil keluar dari zona nyaman dengan cara mengontrol rasa takut tersebut.

Namun, 80 persen manusia terpenjara karena rasa takut terhadap kematian. Banyak orang yang sampai phobia hanya mendengar kata "jihad". kenapa? Karena takut mati.

Banyak orang yang mengucapkan syukur yang teramat ketika batal menaiki sebuah pesawat yang mengalami kecelakaan hingga penumpang tidak ada yang bisa diselamatkan. Tidak sedikit pula orang yang merasa dirinya beruntung karena terhindar dari bencana alam yang memakan banyak korban.

Padahal kematian itu hanya tentang masalah waktu. Siapapun yang hidup pasti akan mati. Seperti yang telah Al-Qur'an sampaikan. Dalam firman Allah Swt yang artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” [al-‘Ankabût:29:57]

Dengan demikian, seberapapun rasa takut kita pada sesuatu, akan bisa dikendalikan ketika memahami hakikat dari hidup ini. Darimana kita berasal? Untuk apa kita hidup? dan akan kemana setelah kehidupan?

Jika kita memahami bahwa kita berasal dari Allah maka tolak ukur dalam hidup adalah Allah Swt, bukan materi. Jadi jika suatu perbuatan tujuannya hanya karena Allah Swt maka kegagalan bukan menjadi sesuatu yang menakutkan.

Ketika kita memahami bahwa hidup hanya untuk beribadah kepada Allah Swt maka segala sesuatu yang dicari di dunia semata-mata hanya karena Allah. Bukan karena mengejar popularitas dan eksistensi.

Dan jika kita memahami bahwa setelah kehidupan akan ada kematian. Maka kematian bukanlah sesuatu hal yang menakutkan, karena sudah siap dengan bekal selama mengarungi kehidupan

Selain itu harus dipahami juga bahwa setiap apa yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Maha Pencipta maka akan selalu mengaitkan setiap perbuatan dengan hukum Allah Swt. Dan menjadikan kita lebih hati-hati ketika melakukan suatu perbuatan.

Jadi, rasa takut yang tumbuh pada diri manusia adalah sunatullah dan rasa takut itu tidak bisa dihilangkan. Namun, rasa takut bisa dikendalikan dengan meluruskan pemahaman tentang tujuan hidup kita.
Wallahu a'lam Bishowab

Picture Source by Google

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Yulia Putbuha Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Butuh Edukasi Tepat Terkait Vaksin
Next
Motivasi Nafsiyah Pengokoh Jiwa Nan Gundah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram