Jangan Hanya Tentang “AKU”

"Siapa saja yang bangun di pagi hari dan dia hanya memperhatikan urusan dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia tidak termasuk golongan mereka (yaitu kaum Muslim).” (Hadis Riwayat Thabrani)

Oleh: Atika Rahmah

NarasiPost.com - “Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti”, begitu slogan yang cukup familiar di telinga kita. Sebuah slogan yang kembali mengingatkan pada kita, hanya ada satu kali kesempatan hidup di dunia, tak akan ada yang kedua atau ketiga.

Setelah kehidupan dunia usai bukan berarti masalah selesai. Kita dihadapkan pada hari penentuan kehidupan hakiki, surga ataukah neraka. Maka hiduplah yang berarti, maksimalkan amal agar pahala terjaring. Karena sesal di sana tak lagi berguna.

Menentukan target-target dalam kehidupan bisa membantu menjalani hidup yang berarti. Agar terhindar dari hidup yang apa adanya dan biasa saja. Kita tak sedang mengejar surga yang biasa saja, tapi surga yang luar biasa. Maka tentu butuh hidup yang luar biasa juga untuk mencapainya.

Diri inipun telah menentukan target-target yang hendak dicapai. Target harian, bulanan, tahunan, atau bahkan beberapa tahun ke depan. Dengan mantap serasa telah menentukan target terbaik dan luar biasa. Sampai pada suatu Ketika, diri ini terpukau sekaligus tertampar dengan target seseorang saat sedang berselancar di dunia lain (baca: dunia maya).

Targetnya menjadi seorang mujtahid mutlak. Seorang Muslimah menjadi mujtahid mutlak? Tak pernah sekalipun terbesit dalam benak. Buat diri yang tak pernah menjadi santri ataupun menempuh pendidikan dengan basic agama tentu saja merasa terheran-heran. Tersadar, selama ini mainnya kurang jauh, circle -nya kurang luas. Hanya mencukupkan diri di situ-situ saja.

Seketika kembali membuka target-target yang telah dituliskan, satu kata yang terucap “receh”. Allah seolah sedang menegur. Di luar sana banyak orang yang menentukan target setinggi mungkin, agar upaya yang dikeluarkan bisa maksimal. Jika target yang ditentukan cetek, tentu saja upayanya juga cetek, sekadarnya saja. Berusaha jujur pada diri sendiri, nampaknya terlalu lama terjebak dalam kotak kaca. Tak berani menargetkan yang tinggi karena tak ingin bersusah payah mencapainya.

Tentu tak lantas diri ini bertarget jadi mujtahid, terlalu amat sangat jauh untuk memenuhi kriterianya. Bukannya tak ingin bertarget maksimal tapi ini soal realita. Biarlah target tersebut akan diwariskan kepada anak cucu kelak.

Yang menjadi evaluasi soal kebermanfaat bagi umat. Target menjadi mujtahid mutlak tentu akan memberikan manfaat yang besar bagi umat. Lalu mengarahkan telunjuk pada hidup sendiri, lalu apa yang bisa kuberikan pada umat? Dari belasan target yang tertulis semuanya hanya soal “AKU”.

Teringat sabda Rasulullah Saw,

"Siapa saja yang bangun di pagi hari dan dia hanya memperhatikan urusan dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia tidak termasuk golongan mereka (yaitu kaum Muslim).” (Hadis Riwayat Thabrani)

Berdakwah adalah kemanfaatan lain untuk umat yang bisa siapapun lakukan. Tak perlu menunggu menjadi mujtahid, apalagi jika tak mampu. Dakwah bisa dilakukan oleh semua kalangan, karena menyampaikan 1 ayat Allah adalah bagian dari Dakwah.

Mari Bersama memberikan kemanfaatan bagi umat sesuai kapasitas kita masing-masing. Jangan hanya sibuk memperbaiki diri sendiri dan abai mengubah kemaksiatan yang ada di depan mata. Tak cukup takwa individu saja, tapi butuh ketakwaan kolektif. Saat masyarakat menjadi kontrol atas ketakwaan kita dan negara berperan untuk menjaga ketakwaan tersebut.

Berperan untuk mewujudkan ketakwaan kolektif harus masuk dalam target kita. Karena surga terlalu luas untuk ditempati sendiri. Wallahua'lam

Picture Source by Google

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Atika Rahmah Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Islam Menjaga Keragaman Tanpa Menyamaratakan
Next
Keluarga Muslim Berkah dengan Islam Kaffah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram