Yang Bocah, yang Kena Prank

Islam memandang bahwa anak adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan dididik dengan sebaik-baik pengasuhan.


Oleh : Zahida Arrosyida ( Praktisi Pendidikan)

NarasiPost.com - Bagi seorang anak, orangtua adalah dahan tempat berpijak. Di sisi orangtua, anak menemukan rasa aman dan nyaman saat berinteraksi. Orangtualah yang mampu memberikan kehangatan dan perlindungan dalam situasi apapun. Orangtua juga menjadi sosok yang paling dipercayai anak untuk mengungkapkan apa yang dirasa.

Namun, bagaimana jika orangtua justru gemar menjahili saat bercanda dengan anak? Bahkan sampai membohongi anaknya sendiri? Meskipun sebenarnya tujuannya hanya untuk lucu-lucuan. Seperti yang dilakukan oleh seorang artis terkaya di Indonesia, kepada anaknya di kanal Youtube miliknya. Ia sengaja melakukan prank (gurauan) dengan membohongi sang buah hati.

Melalui channel YouTube milik Baim Wong yang tayang pada Mei 2020 lalu, si pengasuh anak artis tersebut yakni Lala, membeberkan curhatan anak semata wayang keluarga artis ini.

"Berapa malam yang lalu, Lala lagi nyiapin gosok gigi buat dia. Tiba-tiba dia memelas, kayak kasihan banget. "Mbak Lala kenapa sih Aa tuh suka di prank? Padahal kan Aa gak suka ngeprank", "Maksudnya?"
"Aa tuh gak pernah ngeprank-ngeprankin. Sebenernya Aa tuh mau diajak syuting tapi kalau diprank-in Aa gak suka, Aa kesel. Makanya Aa suka marah-marah, Aa sebenernya gak mau marah-marah Mba Lala" cerita Lala.

Dalam video tersebut, jelas sekali terlihat betapa sedihnya sang anak menerima kebohongan orangtuanya. Ketika orangtua berbohong (meski bergurau), bagi orang dewasa lucu namun tetap saja menyakiti perasaan anak dalam beberapa waktu.

Prank atau beberapa istilah lain menyebutnya dengan practical joke merupakan salah satu bentuk hiburan dengan melakukan tindakan lucu-lucuan. Prank dilakukan dengan maksud membuat korban atau target prank merasa malu, kaget, dan tak menyangka mendapatkan kejutan seperti itu. Ciri khas lain dari prank ini adalah adanya kamera tersembunyi yang merekam segala tingkah laku dan ekspresi korban selama prank berjalan.

Prank identik dengan kebohongan, dusta, dan berpura-pura atau aksi rekayasa meski korbannya adalah manusia yang merupakan fakta real.

Manusia memang punya suka penasaran dengan reaksi spontan orang yang kaget, takut, panik, malu dan ragam emosi lainnya yang bikin video prank selalu mendapat tempat di hati netizen. Terlepas videonya bermanfaat atau justru unfaedah. Yang pasti kian hari video prank amatiran hingga penuh perencanaan makin merajalela dan viewernya bejibun.

Di alam kapitalisme yang menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan, menjadi viral adalah incaran. Pencapaian yang dianggap keren di media sosial, seperti banyaknya viewer, subscriber atau likes dan kemudian jadi viral menjadi target hidup. Demi hal-hal yang mereka anggap penting inilah, sebagaian orang menggunakan cara nge-prank orang lain, termasuk anak sendiri.

Jika kita orangtua yang berpikir jernih, seyogianya tidak menjadikan anak sebagai investasi jangka pendek, demi popularitas dan uang.

Karena uang dan popularitas yang diraih orangtua, tidak sebanding dengan akibat yang dirasakan anak.

Menurut seorang Psikolog anak dan remaja dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI, saat anak kena prank, anak akan meragukan dirinya sendiri. Maka jangan heran, jika setelah orangtua melakukan kejahilan yang cukup berbahaya, seperti berbohong, sang anak akan membenci orangtuanya. Bahkan, Si kecil tidak akan lagi mempercayai orangtuanya sebagai panutan.

Padahal sejatinya, anak menjadikan orangtua sebagai panutan, terutama ketika membedakan mana yang baik dan tidak baik. Dengan kata lain, anak mempercayai orangtuanya sebagai sumber informasi yang akurat dan dapat diandalkan. Namun, ketika anak diberitahu bahwa kebenarannya adalah sebuah kebohongan, ia akan ragu dan mengalami krisis kepercayaan terhadap dunia di luar rumahnya.

Selain itu, setelah sang anak mengetahui bahwa orangtuanya menjahilinya dengan cara berbohong, anak akan menganggap apa yang dilakukan orangtuanya itu boleh dilakukan, padahal tidak. Sebagai dampaknya, di kemudian hari ia pun akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Bisa jadi mereka mengeksplornya menjadi lebih “hebat”.

Akibatnya, kelak sang anak memiliki perilaku buruk. Perilaku buruk pada anak memang disebabkan oleh banyak hal. Bisa jadi ada hal yang tidak dapat anak ungkapkan, sehingga membuat ia cenderung melampiaskannya dengan cara yang negatif atau tidak tepat. Untuk itu, semestinyalah orangtua memberikan cara bergurau yang memang menyenangkan hati anak dan membuatnya bahagia. Bukan sebaliknya, yaitu membuat hatinya sedih dan menangis.

Sesungguhnya mengajarkan empati kepada anak adalah paling penting. Mengajarkan empati bukan semata-mata mengajak anak untuk berbagi atau memahami apa yang dirasakan orang lain. Menanamkan empati dimulai dari diri orang tua sendiri. Caranya bisa dengan memperlakukan anak dengan empati; antara lain memahami apa yang dirasakan anak, mendengarkan apa yang ia ingin sampaikan, serta menghargai pendapatnya.

Lebih dari itu dalam pandangan Islam, kita tidak boleh berbohong meski kepada anak kecil. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺼَﺒِﻲٍّ ﺗَﻌَﺎﻝَ ﻫَﺎﻙَ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻄِﻪِ ﻓَﻬِﻲَ ﻛَﺬْﺑَﺔٌ

“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻠَّﺬِﻱ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻟِﻴُﻀْﺤِﻚَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ , ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ

“Kecelakaan bagi orang yang telah bercerita dengan suatu omongan untuk membuat suatu kaum jadi tertawa, lalu ia dusta. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya”. (HR. Tirmidzi)

Aksi prank tidak bisa dipisahkan dari rasa jengkel, keki, marah, bete, takut atau bentuk perasaan lain yang sejenis. Pranker sepertinya tidak peduli gimana perasaan korbannya. Yang mereka pikirkan cuma aksinya menghibur, viral, dan mengundang banyak jempol. Padahal Rasulullah telah melarang menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia.

"Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil barang temannya. Apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya maka ia harus mengembalikan kepadanya."
(HR Ahmad dan Abu Daud).

Aksi prank yang mengandung unsur menakut-nakuti, hingga korban ketakutan, menangis, panik, dan syok juga merupakan hal yang dilarang oleh Islam. Rasulullah bersabda: "Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain." (HR. Abu Daud).

Dalam kehidupan sekuler kapitalis, anak-anak hanya dianggap robot polos nan lucu yang belum punya pemikiran apapun, sehingga akan menjadi sasaran empuk prankster. Anak-anak lucu dapat diviralkan untuk bisa meraup pundi-pundi uang.

Tentu ini sangat berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang bahwa anak adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan dididik dengan sebaik-baik pengasuhan.

Anak juga aset peradaban dan pemimpin masa depan serta investasi akhirat yang kelak akan menjadi tabungan pahala bagi orangtua. Sehingga negara akan sangat serius mengedukasi para orangtua untuk memberikan pola asuh yang sesuai hakekat penciptaan dan fitrahnya. Negara juga akan merancang sistem pendidikan dan sistem kehidupan yang sehat bagi pembentukan fisik, pola pikir dan pola sikap anak.

Negara akan memberikan perlindungan total kepada seorang anak, tidak akan membiarkan keluarga dan masyarakat menciderai fitrah anak dan mengorbankan masa depan anak hanya demi mendapatkan hiburan lucu sesaat.

Wallahu a'lam.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Polemik RUU Minol
Next
Keadilan dalam Khilafah bagi Perempuan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram