Mengenalkan Buku Sejak Bayi

Buku adalah jendela ilmu pengetahuan maka sudah sewajarnya kita selaku orang tua mengenalkan buku pada anak sejak dini apalagi anak kecil adalah masa-masa "golden brain"

Oleh : Armina Ahza
(Penggerak Perubahan dan CEO Umma Institute)

NarasiPost.Com-Mungkin ada orang tua yang bertanya, sebaiknya sejak kapan anak dikenalkan pada buku?

Selain mengharapkan anak-anak kita menjadi anak yang saleh, tentu orang tua juga tidak lupa untuk mencetak mereka menjadi generasi cinta ilmu. Salah satunya dengan mencintai buku karena buku adalah menjadi gudangnya ilmu.

Wajar jika banyak sekali para ulama salaf lebih mencintai buku daripada emas, dan sangat gemar membelanjakan hartanya untuk membeli buku.

Sebagaiamana yang diceritakan oleh  Ali bin Muhammad Al-‘Imran dalam bukunya yang bejudul 'Gila Baca ala Ulama', bahwa Ibnul Jauzi menyebutkan biografi Thahir bin Abish Shaqr dalam bukunya, Al-Muntazham,

Dia adalah orang yang senang mengembara ke segenap penjuru tempat dan banyak berguru kepada para ulama dari berbagai negeri. Dia pernah mengatakan,

"Buku-buku ini lebih aku cintai dari sebongkah emas.

Apa lagi Allah Swt. telah menjadikan surah Al-'Alaq ayat 1-5 sebagai misi pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (TQS: Al-‘Alaq ayat 1-5)

Dari ayat di atas, kita menjadi tahu, bahwasannya manusia perlu membaca dan menulis.

Agar anak tumbuh menjadi generasi saleh, maka ia harus gemar menuntut ilmu, dekat dengan buku. Dengan begitu, anak mengetahui perkara yang dihalalkan oleh Allah dan yang diharamkan-Nya. Maka mengenalkan buku kepada anak harus menjadi bagian pendidikan yang dilakuakan oleh orang tua.

Mengenalkan anak pada buku bisa dimulai sejak ia masih bayi. Walau ia belum bisa membaca, setidaknya dengan panca indranya dia akan mulai mengenali buku.

Biasanya anak usia enam bulan sudah bisa mengenali mana orang tuanya, karena sudah enam bulan ia memandangi wajah kedua orang tuanya. Sama dengan buku, kita bisa memunculkan rasa senang dengan buku terhadap anak dengan mengenalkannya sejak bayi.

Caranya bisa dengan mulai memperlihatkan buku kepadanya, bisa buku orang tuanya atau buku anak itu sendiri. Apalagi sekarang sudah ada buku bantal, yang tidak mudah rusak atau robek oleh si kecil sebab gerkan motoriknya yang belum terkontrol.

Maka orang tua bisa membelikan buku bantal untuk bayi tersebut. Berikan buku itu, biarkan anak bereksplorasi dengannya. Walau sepenuhnya tidak seperti buku, tetapi bisa untuk awalan sang bayi mengenali bentuk buku.

Jika Ayah Bunda merasa belum mampu membelikan buku, maka buku yang ada pun bisa di gunakan, walau rentan sobek, tetapi setidaknya anak-anak bisa  melihat dan menyentuhnya terlebih dahulu. Selain itu, orang tua juga bisa menceritakan isi bukunya, dengan berkomunikasi aktif bersama sang bayi.

Nak, Umma bacakan buku, ya. Alahamdulllah Fatimah dibelikan buku sama Baba, buku tentang buah-buahan. Umma bacakan dan ceritakan, ya.

Setidaknya, anak mendengar bahwa orang tuanya akan membacakan buku. Selain bentuk fisiknya, orang tua bisa mengenalkan buku kepada anak melalui kata-kata “buku” yang sering ia dengar setiap hari. Dengan begitu, akan terekam di dalam otaknya kata “buku”.

Yang tidak kalah penting dalam mengenalkan buku pada anak yaitu dengan memperlihatkan kepada mereka bahwa ayah bundanya sedang membaca buku atau akan membaca buku. Bagaiamanapun, orang tua adalah teladan terbaik bagi anak-anaknya, termasuk dalam mencintai buku.
(wallahu’alam)[]


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Gencatan Senjata, Menarik Simpati Namun Bukanlah Solusi
Next
Gitaris Jadi Komisaris, Kompetensi atau Balas Budi?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
R. Bilhaq
R. Bilhaq
1 year ago

Subhanallah.. lucunya hal hal yang terkait dengan si mungil..

bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram