Apakah Seorang Ibu Rumah Tangga Bisa Tetap Produktif?

Bagi seorang muslimah, penting untuk menjawab tiga pertanyaan mendasar terkait kehidupan (uqdatul qubra), yaitu “Dari mana kita berasal. untuk apa kita hidup, dan akan kemana kita setelah mati?”


Oleh: Annisa Fauziah, S.Si (Aktivis Muslimah)

NarasiPost.Com-Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh seorang ibu, khususnya ibu rumah tangga adalah terkait manajemen waktu. Banyak ibu yang mengeluh dalam menjalankan perannya. Baik karena merasa kelelahan dalam menjalankan berbagai tugas, atau karena melakukan rutinitas harian. Bahkan, tidak sedikit ibu rumah tangga yang merasa insecure karena tidak bisa menghasilkan karya. Benarkah demikian?

Label ibu rumah tangga yang masih sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat hari ini membuat para ibu menjalankan peran bukan karena kesadaran, tetapi karena sebuah tuntutan. Tanpa sadar, akhirnya banyak ibu rumah tangga yang menarik diri dari kehidupan sosial, termasuk membatasi perannya hanya pada urusan domestik saja. Tidak sedikit yang akhirnya meninggalkan kewajiban lainnya, termasuk dalam menjalankan aktivitas dakwah.

Benarkah peran sebagai ibu menjadi sebuah penghalang bagi kita untuk melaksanakan kewajiban lainnya?

Produktivitas bagi Seorang Muslimah

Berbicara tentang waktu, Islam telah memberikan perhatian penting terkait hal ini. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Asr ayat 1-3 yang artinya,

“Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Ayat ini menjadi pengingat, bahwasannya orang yang merugi itu bukanlah orang yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan materi dalam bentuk uang, jabatan, dan popularitas. Namun, kita akan merugi ketika meninggalkan aktivitas saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, yaitu meninggalkan aktivitas dakwah. Oleh karena itu, sudahkah kita mengoptimalkan waktu dengan menjalankan kewajiban dakwah atau justru kita berpaling karena alasan tidak ada waktu luang?

Dikutip dari buku Muslim Produktif, Ketika Keimanan Menyatu dengan Produktivitas, dijelaskan bahwasannya produktivitas adalah tentang membuat pilihan yang cerdas (secara terus menerus) dengan energi, fokus, dan waktu untuk memaksimalkan potensi serta meraih hasil yang bermanfaat.

Nah, kebermanfaatan bagi seorang muslim bukanlah sebanyak apa materi yang didapatkan, tetapi sejauh mana keberkahan yang kita peroleh dalam kehidupan.

Keberkahan tidak lain adalah ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Maka, saat hidup kita diberkahi, setiap detik waktu yang kita habiskan untuk melaksanakan setiap amalan akan menghantarkan pada satu pintu kebaikan ke pintu kebaikan lainnya. Bahkan, kebermanfaatan itu bukan berorientasi untuk memenuhi kepentingan pribadi, tetapi justru memperluas kebermanfaatan bagi sekitar. Mengemban dakwah menjadi mahkota kewajiban yang akan memberi peluang bagi kita untuk menebar kebaikan.

Mengatur Waktu bagi Ibu Rumah Tangga

Seorang ibu rumah tangga sejatinya adalah manusia yang peran utamanya sebagai hamba yang memiliki tugas untuk beribah kepada-Nya. Maka, perspektif yang harus dibangun adalah bahwasannya peran sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu bukanlah menjadi alasan yang membatasi kita untuk totalitas dalam melakukan ketaatan. Karena Allah Swt. memberikan kesempatan yang sama bagi kita untuk meraih pahala dari-Nya. Kini, kita patut bermuhasabah, sudahkah kita mempersembahkan amalan terbaik kepada-Nya?

Pemahaman terkait konsep ihsanul amal akan menghantarkan kita untuk senantiasa memiliki kesadaran dalam melakukan segala aktivitas. Niat yang lurus akan membuat kita mengazzamkan bahwasannya segala aktivitas yang kita lakukan semata untuk meraih rida-Nya saja.

Nah, berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengatur waktu agar tetap produktif:

Tentukan “Strong Why” dalam Beramal

Bagi seorang muslimah, penting untuk menjawab tiga pertanyaan mendasar terkait kehidupan (uqdatul qubra), yaitu “Dari mana kita berasal. untuk apa kita hidup, dan akan kemana kita setelah mati?”

Jawaban dari setiap pertanyaan tersebut akan menentukan orientasi hidup kita. Akhirnya, kita pun akan senantiasa mengarahkan setiap aktivitas untuk sejalan dengan tujuan hidup. Tentu makna hidup bagi setiap muslim sejatinya adalah untuk meraih rida-Nya saja.

Ketika seorang ibu rumah tangga merasa lelah dengan rutinitas, ia akan teringat dengan pengorbanan yang ia lakukan bukan untuk penghargaan dari manusia. Bukankah rida Allah saja yang kita cari? Maka, tak perlu lagi merasa insecure atas peran yang sedang kita jalani. Bukankah selayaknya kita bersyukur atas setiap kesempatan yang Allah Swt. beri?

Peluh yang menetes saat kita menjalankan aktivitas domestik, kantuk yang tak tertahan saat kita menyusui anak, hingga kesabaran yang senantiasa kita latih saat menemani ananda belajar. Bukankah semua itu adalah ladang pahala yang bisa kita dapatkan untuk meraih tiket surga-Nya kelak?

Memiliki Nilai (Value) Kehidupan

Prinsip kehidupan dan landasan hidup seorang muslimah akan menjadi panduan dalam melakukan setiap aktivitas. Semua itu tidak lain bergantung kepada kokohnya akidah Islam (keimanan) kita. Seorang muslimah tentu akan menyandarkan kebahagiaan hidup bukan kepada seberapa besar uang yang ia dapatkan, tetapi standar bahagia ialah ketika Allah Swt. rida kepadanya. Oleh karena itu, bukankah seharusnya kita bahagia saat melaksanakan ketaatan kepada-Nya?

Menetapkan Skala Prioritas (Aulawiyat)

Memahami skala prioritas akan menjadi kontrol bagi kita untuk melakukan setiap amalan. Bagi muslimah, skala prioritas itu disandarkan kepada hukum syara saja. Artinya, ia akan senantiasa mendahulukan yang wajib, memperbanyak yang sunnah dan meminimalisasi yang mubah. Adapun yang haram tentu akan bersegera kita tinggalkan.

Aulawiyat yang kita miliki akan mendorong kita untuk menjalani kaidah kausalita (ash-syababiyah), yakni sebab-sebab harus ditempuh yang akan menghantarkan kita pada tujuan dan target yang sudah ditetapkan.

Nah, pertanyaannya, sudahkah para ibu mengatur prioritas aktivitasnya, ataukah masih menjalani semua karena rutinitas semata?

Memetakan Setiap Peran

Pemetaan penting agar kita bisa melakukan setiap peran dengan optimal dan menuntaskan setiap amanah. Misalnya saja, ketika seorang ibu sering menjadikan aktivitas dakwah sebagai kambing hitam karena ia tidak mampu menuntaskan urusan rumah tangganya. Sejatinya hal ini bukan tentang peran mana yang harus dikorbankan, tetapi tentang manajemen yang harus kita perbaiki. Bukankah kewajiban itu bukan sesuatu yang harus dibentur-benturkan, tetapi untuk ditunaikan?

Kita pun sudah mengetahui bahwa menjalankan dakwah adalah kewajiban, begitu pun melayani suami, mengurusi anak dan segala kebutuhan di dalam rumah tangga. Posisi kita sebagai ibu rumah tangga juga bukan menjadi alasan yang membatasi kita untuk melaksanakan kewajiban untuk menuntut ilmu Islam. Bukankah semua itu adalah kewajiban yang harus ditunaikan sepanjang waktu kita?

Kenali Kebutuhan Diri dan Bangun Support Sistem

Salah satu alasan kenapa banyak ibu yang merasa tak bahagia dalam menjalani setiap peran adalah karena ia kurang memiliki “alarm” terhadap kebutuhan dirinya. Padahal, Allah Swt. sudah memberikan kta seperangkat potensi kehidupan berupa akal, naluri (gharizah) serta kebutuhan jasmani (hajatul udhowiyah) yang harus kita penuhi sesuai syariat-Nya.

Ibu yang senantiasa begadang kemudian mengabaikan hak tubuhnya untuk beristirahat ataupun makan, bukan berarti ia adalah “supermom”. Sejatinya, aturan Islam yang sudah Allah Swt. tetapkan akan membawa kemaslahatan kepada kehidupan manusia, bukan sebaliknya. Semua itu akan terwujud jika kita senantiasa mengikuti panduan hukum syara.

Tidaklah berdosa jika kita secara terbuka membicarakan segala kesulitan dengan orang terdekat, yaitu suami. Bukankah kehidupan suami istri dilandasi oleh motivasi untuk saling tolong-menolong (taawun) untuk berlomba-lomba dalam kebaikan? Tentu semua itu semata bukan untuk berkeluh kesah, tetapi untuk mencari jalan keluar yang mampu memberdayakan. Itulah support sistem yang bisa kita bangun dalam rumah tangga. Maka, tak perlu lagi ada hitung-hitungan amalan tentang siapa yang paling lelah karena sejatinya kita mempersembahkan setiap amalan hanya untuk Allah Swt. semata.

Oleh karena itu, agar kita senantiasa bahagia dalam menjalani setiap peran, maka yang harus ditanamkan dalam diri adalah niat yang lurus karena Allah semata, serta mensyukuri setiap proses kehidupan yang kita jalani. Bukankah memang manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan? Maka, kekurangan tersebut akan senantiasa mendorong kita untuk menggantungkan setiap urusan kepada-Nya saja. Sejatinya, bukan kita yang hebat dalam menjalankan setiap peran, tetapi kita memiliki Allah Yang Maha Kuat, yang menolong kita untuk menuntaskan setiap amanah dalam kehidupan.[]

Referensi:
Referensi: Faris, Mohammed. 2017. Muslim Produktif, Ketika Keimanan Menyatu dengan Produktivitas. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo


photo : Pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Data Pribadi Warga Menguap, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Next
Insan Berhati Emas Itu Bernama Orang Tua
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram