Tips Meminimalisir Efek Buruk Gadget pada Anak

Kemajuan tehnologi tidak bisa terbendung lagi. Selalu ada dua sisi yang bertolak belakang bagi sipenggunanya.
Gadget salah satu yang bisa menghantarkan sisi negatif kepada anak.


Oleh : Eno Wasiat

NarasiPost.Com-Tidak dimungkiri, gadget sudah menjadi kebutuhan masyarakat.
Hampir semua profesi membutuhkan benda ini. Bahkan anak usia balita dan prasekolah pun tidak asing lagi.

Sebelum wabah korona melanda, guru dan orang tua berusaha agar anak-anak, terutama pelajar TK dan SD membatasi penggunaannya. Berbagai seminar parenting menggembor-nggemborkan bahaya gadget bagi anak.
Pengaruh negatif lebih mendominasi dari pada efek positifnya. Belum lagi efek dari radiasi yang timbul dari gelombang elektronik, kecanduan games, pergaulan bebas melalui medsos, dan ancaman dari predator anak.

Namun, pada bulan Maret 2021, kondisi ini justru berbanding terbalik. Situasi pandemi memaksa semua orang untuk menjaga jarak dengan orang lain. Masalah inilah yang akhirnya membuat alat komunikasi telepon seluler atau gadget menjadi solusi dalam berinteraksi satu sama lain.

Jarak bukan halangan lagi. Semua info bisa dicari. Anak-anak belajar di rumah dengan sistem daring. Penjelasan guru dan materi-materi disampaikan melalui benda smart ini. Bahkan, berbagai hiburan dan mainan bisa diakses dengan mudah.
Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain games dan melihat konten-konten video daripada belajar. Kemudahan- kemudahan dari benda cangggih ini semakin membuat mereka malas belajar, apalagi membaca.

Banyak orang tua mengeluhkan anak sering lupa waktu, temperamen, dan mager (malas gerak).
Bahkan, ada pula yang sudah kecanduan berat dengan games yang tidak hanya dimainkan sendiri, tetapi bisa dimainkan bersama teman-teman tanpa harus bertemu langsung. Games yang memberikan banyak bonus/penghargaan tentu saja semakin membuat anak-anak tidak bisa lepas dari benda ini. Apalagi keuntungan-keuntungan materi yang menjanjikan dari games membuat mereka semakin hanyut di dunia maya.

Bulan Maret yang lalu, ada beberapa sekolah yang memutuskan untuk tatap muka di sekolah dengan cara bergilir. Namun, sepertinya tidak membuat anak-anak terlepas dari ketergantungan gadget.

Mereka merasa bahagia karena bisa bertemu dengan teman-temannya. Mereka lupa menjaga jarak karena keseruan membicarakan games dan saling bertukar alamat di dunia maya. Selanjutnya sudah pasti, pertemuan di sekolah yang hanya sebentar itu berlanjut lagi di dunia maya. Bahasa mereka adalah mabar (main bareng).

Lebih memprihatinkan lagi ketika mereka saling bully tentang kecanggihan hp mereka. Tidak semua orang tua mampu membelikan hp ke anak-anak meraka. Terlebih jika memiliki banyak anak.

Alhasil, tidak semua anak memiliki hp sendiri dan terpaksa meminjam orang tuanya yang sudah jadul. Beberapa anak yang tidak bermental baja pasti malu dan berfikir untuk meminta hp baru. Ini tentu menimbulkan masalah tersendiri.

Momen lebaran biasanya anak-anak akan mendapatkan uang tambahan, sebagai bonus telah berpuasa penuh atau karena orang tua mereka mendapatkan THR.
Sebagai orang tua, tentu kita harus berfikir lebih bijak saat mengikuti kebutuhan, tuntutan, atau keinginan anak-anak.

Ada baiknya sebelum memberikan gadget, orang tua membuat kesepakatan dan aturan-aturan kepada anak. Misalnya tentang waktu penggunaan, konten yang boleh dan tidak boleh diakses, games yang boleh dan tidak boleh dimainkan. Pahamkan bahwa hp mereka bukan milik pribadi sehingga orang tua juga boleh membuka dan menggunakannya.

Lebih baik hp disetting untuk memblokir konten porno di youtube, yaitu dengan cara:

  1. Buka youtube
  2. Pilih tiga titik di pojok kanan atas
  3. Pilih setting/stelan, lalu pilih umum/ general
  4. Pilih restricted mode / mode terbatas.

Bisa juga dilakukan filter untuk play store android dengan cara :

  1. Cari menu setting di play store
  2. Pilih parental controls
  3. Geser tombol on ke posisi kanan
  4. Set content restrictions for this device pilih umur yang diinginkan.

Dan satu lagi tips agar terhindar dari predator anak. Buatlah status atau pemberitahuan di gadget yang digunakan anak kita bahwa hp tersebut dalam kontrol orang tua. Jika hal ini benar-benar bisa disepakati dan ditaati antara orang tua dan anak, Insyaallah akan meminimalisir efek buruk gadget buat anak. Ini membutuhkan ketegasan dan keteladanan dari orang tua.[]


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Jangan Berpaling Dariku
Next
Hukum Masuk Gereja, antara Fiqih dan Framing Liberal
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram