Boikot pada Anak, Efektifkah?

"Mendidik anak memang bukan perkara mudah. Namun, ini adalah amanah yang harus dijalankan oleh orang tua dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya untuk kebaikan anak itu sendiri, tetapi juga untuk orang tua karena akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt"


Oleh: Ida Royanti
(Tim Redaksi NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Tiap anak memiliki keunikan tersendiri. Jika Bunda cermat dan bersikap bijak, maka keunikan itu bisa menjadi potensi besar yang akan mengantarkan anak tersebut menjadi orang besar pula atas izin Allah. Itu sebabnya, kita harus mengarahkan dan mengoptimalkan potensi itu sebaik mungkin. Namun, terkadang kita menangkap keunikan itu sebagai kenakalan. Apalagi jika apa yang dilakukan itu melebihi batas kewajaran. Tak jarang, kita memberikan hukuman baik secara fisik atapun psikis.

Bunda, seorang anak bertingkah laku berdasarkan instingnya. Hal ini karena otaknya belum sempurna. Padahal, seperti yang kita ketahui, otak adalah salah satu komponen untuk berfikir. Jadi, seorang anak melakukan suatu kesalahan karena belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tugas kita sebagai orang tualah yang harus mengarahkan dan membimbingnya.

Lantas, bolehkah orang tua memberikan hukuman? Perlu Bunda ketahui, sebenarnya hukuman adalah sebuah pengondisian. Hukuman ini memang diberikan untuk memberikan konsekuensi tidak menyenangkan pada seseorang, termasuk anak-anak. Konsekuensi yang dirasakan itu diharapkan bisa mengurangi perilaku serupa karena ada efek jera. Kalau tindakan salah pada anak dibiarkan, maka bisa menjadi pembenaran yang akan dibawanya sampai ia dewasa. Bisa jadi, selamanya ia tidak akan pernah berubah. Ini sangat berbahaya.

Mengenai bahaya atau tidaknya hukuman pada tumbuh kembang anak, ini tergantung dari jenis hukuman itu sendiri. Bunda harus mempertimbangkan dampak dari hukuman fisik dan psikis tersebut pada anak. Itu sebabnya, saat akan menghukum anak, identifikasi dulu masalah yang dibuatnya, lalu jelaskan dampak dari perbuatan tersebut. Gambarkan hukuman yang diterima dan katakan jika Bunda mengharapkan perilaku yang lebih baik di waktu berikutnya.

Hukuman fisik, faktanya tidak pernah menyelesaikan masalah. Di samping bisa membuat anak terluka, hukuman secara fisik juga akan membuat anak bertambah marah, dendam, bahkan sampai menjaga jarak dengan oang tua. Bukannya jadi penurut, hukuman ini seringkali justru membuat anak menjadi lebih membangkang, bertindak agresif dan melawan karena tidak dapat menerima perlakuan orang tua.

Itu sebabnya, banyak orang tua lebih memilih untuk memberikan hukuman non-fisik. Mungkin karena cara ini dianggap lebih efektif dan tidak menyakiti. Salah satu cara yang dianggap aman adalah dengan melakukan boikot pada anak atau yang lebih sering disebut dengan istilah silent treatment.

Boikot pada anak adalah tindakan mendiamkan anak selama beberapa saat ketika anak melakukan suatu kesalahan. Tentu tindakan ini disesuaikan dengan tingkatan usia dan dilakukan setelah tidak berhasil menempuh beberapa cara yang lebih halus seperti menasihati, membimbing, dan mengarahkan. Benarkah cara ini benar-benar efektif?

Hasil penelitian dari University of New Orlean, AS menyatakan bahwa ada tiga hukuman untuk anak yang lebih efektif dibandingkan memukul. Salah satunya adalah mendiamkan atau memberikan mereka waktu sendiri untuk merenungi kesalahannya alias silent treatment. Setelah itu baru diajak ngobrol, menanyakan apa alasan anak berulah. Pada penelitian ini, Dr. Frik dan Tim peneliti mengamati dampak dari kekerasan fisik pada 98 anak. Dampaknya ternyata banyak negatifnya.

Kuncinya adalah memiliki beragam bentuk hukuman yang tergantung pada usia anak. Pada anak yang masih di bawah lima tahun, lebih baik diberi hukuman dengan mendiamkannya. Sedangkan bagi anak yang berusia di atas lima tahun, akan lebih baik jika diberi hukuman tambahan tugas rumah dan tidak dizinkan melakukan aktivitas favorit anak untuk sementara. Tiga cara ini cukup efektif tanpa menyakitinya,” ujar Frik, lewat hasil penelitian ini dimuat dalam journal of Applied Developmental Psychologi (www.parenting.co.id )

Memang ada yang berpendapat bahwa memboikot anak atau mendiamkan mereka sangat berbahaya karena dapat menyakiti perasaan anak, membuat anak terkatung-katung dan bertanya-tanya tentang sikap orang tua yang tiba-tiba berubah, bahkan bisa menjauhkan kedekatan anak dengan orang tua. Namun, semua itu bisa terjadi jika kita mendiamkan anak begitu saja dan tidak jelas sampai kapan mereka didiamkan. Kita juga tidak pernah memberikan penjelasan pada anak, kenapa ia menerima perlakukan seperti itu.

Bunda, yang namanya hukuman pastilah menimbulkan perasaan tidak nyaman. Justru perasaan tidak nyaman inilah yang membuat seseorang, termasuk anak kecil berpikir ulang ketika ingin melakukan perbuatan serupa. Perasaan ini merupakan konsekuensi dari kesalahan yang ia lakukan.

Itu sebabnya, Bunda perlu memberikan penjelasan pada anak, kenapa mereka dihukum sedemikian rupa. Tujuannya adalah membuat anak mengerti bahwa Bunda menginginkan dia menjadi pribagi yang lebih baik, bukan karena ingin menumpahkan amarah.

Apakah Rasulullah juga pernah melakukan boikot? Betul, Bunda. Rasulullah juga pernah melakukan boikot. Hanya saja, boikot ini dilakukan oleh Rasulullah pada orang dewasa, yaitu pada tiga orang sahabat yang lalai dalam perang Tabuk. Pemboikotan itu membuat diri dan bumi di sekeliling mereka terasa sempit. Tidak seorang pun yang mau berbicara, menggubris ataupun bergaul dengan mereka sampai Allah menurunkan wahyu dalam Al-Quran tentang penerimaan tobat mereka.

Lantas, bagaimana jika boikot itu dilakukan pada anak kecil? Dalam hal ini, Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id r.a. bahwa kerabat Ibnu Mughaffal yang belum baligh bermain lempar batu, kemudian ia melarangnya dan berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarang bermain lempar batu dan Beliau bersabda, ”Seungguhnya ia tidak dapat memburu buruan dan tidak pula melukai musuh. Tetapi ia bisa mencungkil mata dan mematahkan gigi.”
Kemudian anak itu kembali bermain. Maka ia berkta, “Aku telah memberitahukan kepadamu bahwa Rasulullah saw. telah melarangnya, tetapi engkau terus bermain lempar batu. Aku tidak akan mengajakmu berbicara selamanya!” Maksudnya, boikot itu dilakukan Abu Sa’id r.a. selama anak itu tetap melakukan permainan yang membahayakan diri dan temannya tersebut.

Dari sini jelas, Bunda, bahwasanya boikot atau mendiamkan anak selama beberapa waktu boleh dilakukan sebagai hukuman. Hanya saja, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, hendaknya kita selalu mengedepankan nasihat dan petunjuk yang baik dalam pendidikan anak. Jika terpaksa memberikan hukuman, ada beberapa cara yang cukup efektif untuk menghindari tindakan fisik, di antaranya:

Pertama, Bunda bisa mendiamkannya selama beberapa saat. Bagi anak yang sudah bisa berpikir, hukuman ini akan membuat anak merenungi kesalahannya. Sedangkan bagi anak yang masih balita, perasaan tidak nyaman yang ia terima akan membuatnya jera. Setelah itu, Bunda bisa mengajaknya bicara baik-baik, apa yang menjadi kesalahannya.

Kedua, Bunda bisa mengungkapkan ketidaksukaan Bunda secara langsung. Anak harus mengetahui secara jelas, betapa kecewanya kita atas tindakan yang ia lakukan. Namun, hal itu harus dilakukan dengan lemah lembut, tanpa amarah sehingga anak merasa tenang.

Ketiga, Bunda bisa memberikan hukuman berupa tambahan tugas rumah dan tidak mengizinkan melakukan aktivitas favorit anak untuk sementara. Hal ini dapat mengajari anak untuk belajar bertanggung jawab dan menerima konsekuensi atas perbuatannya

Keempat, anak dengan usia di bawah lima tahun biasanya agak sulit diajak berbicara. Saat mereka menangis, meronta-ronta, dan tidak mau diam, ada baiknya Bunda membiarkannya sebentar hingga ia tenang. Setelah itu, barulah Bunda memberi pengertian. Berikan pujian dan biarkan ia mendapatkan apa yang diinginkan.

Bunda, tentu cara ini tidak bisa diterapkan mentah-mentah untuk semua anak. Biasanya, beda anak berbeda pula cara menanganinya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh usia, kebiasaan, dan lingkungan tempat tinggal anak sehingga efektivitas dan dampaknya pun berbeda. Itu sebabnya, kita dituntut untuk lebih kreatif.

Mendidik anak memang bukan perkara mudah. Namun, ini adalah amanah yang harus dijalankan oleh orang tua dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya untuk kebaikan anak itu sendiri, tetapi juga untuk orang tua karena akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Tumpahan Rindu
Next
Membela Palestina Tak Cukup Dengan Retorika
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram