Mengajarkan Anak Hanya Berharap kepada Allah

mengajarkan anak

"Begitu besar peran orang tua dalam berikhtiar mengantarkan anak-anak untuk taat dan tumbuh menjadi pribadi yang hanya berharap kepada Allah saja, bukan kepada manusia"


Oleh: Armina Ahza
(Penggerak Perubahan dan CEO Umma Institute)

NarasiPost.Com-Memiliki anak adalah kenikmatan yang patut disyukuri, sebab banyak pasangan yang masih menanti buah hati hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Seringkali, orang tua lupa untuk bersyukur atas karunia anak-anak yang Allah hadirkan di kehidupan mereka.

Hadirnya mereka bukan sekadar bertemunya insan. Namun, atas izin Allahlah anak-anak memberikan warna indah dalam sebuah keluarga.

Anak memang dambaan pasangan dalam ikatan pernikahan. Namun, kita sering lupa untuk menjaga, merawat dan mendidiknya dengan baik. Mendidik anak-anak memang tidak sebatas agar mereka bisa baca tulis dan bisa menjalani kehidupan saja. Orang tua harus berupaya menjadi tangga ketaatan. Melalui wasilah tangan orang tualah, anak mengenal siapa Tuhannya dan siapa diri anak tersebut, bahwa mereka adalah seorang hamba.

Mendidik anak untuk menjadi taat kepada Allah, salah satunya adalah dengan mengajarkan anak untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah, menggantungkan setiap harapan, keinginan dan cita-cita hanya kepada Allah.

Berharap anak-anak tumbuh besar, menjadi generasi saleh, taat, dan hanya mencukupkan dirinya terhadap Allah, membutuhkan peran oran tua dalam mendidiknya. Semua ini bisa diihktiarkan melalui orang tua dengan cara mengajarkan anak untuk berharap hanya kepada Allah.

Betapa banyak anak yang tumbuh dewasa, tetapi begitu jumawa. Mereka merasa bahwa setiap keberhasilan adalah semata karena usaha dan jerih payahnya saja, tanpa ada campur tangan Sang Pencipta. Anak-anak yang tidak dididik untuk berharap hanya kepada Allah, bisa  membuat mereka mudah merendahkan orang lain yang tidak memiliki kebaikan dan kesuksesan seperti dirinya. Selain itu juga bisa tumbuh menjadi pribadi angkuh, yang mudah meremehkan orang lain, sebab dirinya merasa lebih mulia.

Anak-anak yang tidak dididik untuk berharap hanya kepada Allah, tidak menyadari, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Allahlah yang mengabulkan segalanya. Maka ketika keinginan dan harapan belum teralisasi dan berada di genggamanya, belum mampu ia raih, maka ia akan mudah menjadi sosok yang rapuh dan lemah. Bahkan mereka bisa tumbuh menjadi sosok yang mudah stress dan menyalahakan diri sendiri ketika dewasa.

Tentu orang tua tidak mau mencetak generasa seperti itu, bukan? Setiap orang tua saleh berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi generasi tangguh tanpa angkuh.

Mengajarkan anak berharap hanya kepada Allah bisa dilakukan semenjak anak masih kecil dengan cara sebagai berikut:

Pertama, dengan menjelaskan bahwa Allahlah pemiliki segala sesuatu, seperti yang Allah jelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 284, artinya:

Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan ada di bumi.”

Kedua, menanamkan bahwa hanya Allah yang mampu mengabulkan doa, sebagaiaman yang Allah firmankan dalam Surah Ghafir ayat 60, yang artinya:

Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”

Ketiga, dengan mengajak anak untuk selalu memohon segala sesuatu hanya kepada Allah.

Misalnya anak minta kue, maka bukan dengan langsung dibelikan kue, tetapi diajak untuk berdoa terlebih dahulu kepada Allah.

“Ya, Allah, Maryam minta kue.”

Baru orang tua membelikan kue. Saat kue itu sudah dibelikan dan akan diberikan ke anak, maka orang tua menanamkan kembali bahwa adanya kue itu karena rezeki yang diberikan oleh Allah sehingga ayah bundanya bisa membeli kue itu atas izin Allah. 

“Ya, Allah, terima kasih, Maryam sudah diberi kue. Kuenya enak sekali.”

Banyak kondisi yang bisa terus kita latih dan tanamkan kepada anak untuk berharap hanya kepada Allah. Saat anak jatuh, maka kita ajari untuk meminta penjagaan kepada Allah. Saat anak sakit, maka anak-anak diajak untuk meminta kesembuhan hanya kepada Allah.

Begitu besar peran orang tua dalam berikhtiar mengantarkan anak-anak untuk taat dan tumbuh menjadi pribadi yang hanya berharap kepada Allah saja, bukan kepada manusia. (wallahu’alam)[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Kelana Dakwah
Next
Tantangan pada Penuduh Al-Qur'an
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram