Rumah, Surga Untuk Mutiara Umat

"Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah Ta'aala dengan rumah yang di dalamnya tidak pernah disebut nama Allah adalah sebagaimana orang hidup dan orang mati." (HR. Muslim)



Oleh: Sifa Isnaeni

NarasiPost.com - Islam memandang anak laksana mutiara umat. Mempesona dan berharga. Selayaknya dijaga dan dilindungi. Aset mahal bagi keluarga, masyarakat dan peradaban dunia.

Memahami keberadaan dan eksistensi anak menjadi keniscayaan yang harus dihadirkan. Butuh suasana yang menyenangkan. Tempat yang nyaman untuk berkembang. Suasana dan tempat itu adalah rumah.

Persoalannya, ketika rumah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk anak. Gambaran Rasulullah "Rumahku, surgaku" ternyata tidak mudah diwujudkan.

Seiring kehidupan yang semakin permisif dan materialis. Rumah yang sejatinya menjadi eksistensi sebuah keluarga. Menjadi gambaran surga dunia, tak lagi nampak.

Rumah hanya sebatas tempat tidur. Untuk esoknya kembali lagi mengumpulkan pundi-pundi materi. Atau rumah tidak lebih sebagai aset untuk diwariskan. Nyata, ketika ada sebagian orang memiliki banyak rumah. Di sisi lain banyak orang tinggal di rumah kardus, atau tinggal di kolong jembatan.

Rumah Dalam Pandangan Hukum Syara'

Persoalan rumah ternyata bukan sesuatu yang sepele di mata Syara'. Rumah adalah amanat Allah Swt adalah perkara yang diatur dalam hukum Syara'. Allah Swt berfirman:

"Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumah sebagai tempat tinggalmu." (QS. An-Nahl: 80).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya Allah Swt. menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang serba lengkap kepada hamba-hamba-Nya, yaitu Dia menjadikan bagi mereka rumah-rumah tempat mereka menetap dan menutupi dirinya, serta mereka meng­gunakannya untuk berbagai manfaat dan kegunaan lainnya. Dia menjadikan bagi mereka kulit binatang ternak yang dapat digunakan sebagai kemah-kemah yang mereka merasa ringan membawanya dalam perjalanan, lalu mereka memasangnya bila hendak bermukim. Kemah-kemah itu dapat mereka gunakan sebagai tempat tinggal mereka, baik dalam perjalanan maupun di tempat tinggal mereka.

Demikianlah, Allah memberikan kaidah yang jelas terkait rumah. Rumah menjadi tempat tinggal yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan manusia. Tempat mendulang pahala. Selayaknya, seorang Muslim berusaha menciptakan rumah menjadi tempat paling nyaman untuk beribadah.

Kenyamanan rumah bukan didapat dari fasilitas yang mewah. Seperti pandangan kebanyakan orang yang materialis. Tapi, rumah nyaman karena suasana di dalamnya yang hangat dan tentram.

Suasana yang itulah yang menyebabkan anak betah tinggal di rumah. Anak merasa aman. Memiliki semua yang dibutuhkan. Seperti di surga. Kasih sayang yang tulus. Komunikasi lancar. Tentu sangat bagus untuk tumbuh kembang anak.

Mewujudkan Rumah Sebagai Surga Terindah Untuk Anak

Citra diri keluarga Muslim tercermin dari rumahnya. Beberapa tips menjadikan rumah sebagai surga bagi anak di antaranya:

  1. Menghidupkan suasana keimanan di dalam rumah.

Rumah yang dihidupkan dengan suasana keimanan meniscayakan hati anggota keluarganya dengan Allah. Hanya tergantung kepada Allah. Memudahkan untuk taat terhadap syariat-Nya. Orang tua memberi t,eladan kepada anak-anaknya. .

Suasana tersebut dapat terbentuk dari suasana rumah yang terbiasa melafazkan dzikrullah, membaca Alquran, dan melaksanakan ibadah wajib maupun sunah bersama. Rasulullah memberikan panduan dalam Hadis diriwayatkan oleh Muslim:

"Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah Ta'aala dengan rumah yang di dalamnya tidak pernah disebut nama Allah adalah sebagaimana orang hidup dan orang mati." (HR. Muslim)

Dihadits lain disebutkan "Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah." (HR. Muslim)

  1. Membangun Komunikasi Efektif

Terbangunnya komunikasi yang baik antara ibu dengan ayah atau orangtua dengan anak-anak menjadi faktor pendukung terbangunnya suasana harmonis di dalam rumah. Saling memahami hak dan kewajiban. Berkomunikasi penuh kasih sayang.

Anak dididik dengan dengan adab yang sesuai dengan Islam. Orangtua memberi nasihat dengan cara hikmah. Anak-anak taat terhadap nasihat orang tuanya.

Apabila ada permasalahan dalam keluarga, musyarawah selalu diutamakan. Orang tua boleh meminta pendapat anak dan mendiskusikannya secara terbuka suatu permasalahan. Hindari mengambil keputusan sendiri apalagi jika menyangkut tentang anak.

Jadikan dia seorang yang merasa diperlukan dan dihargai pendapatnya agar ia juga bisa mengahargai orang . Sebagaimana Ibrahim bermusyawarah mengenai arti mimpinya pada Ismail.

“Maka ketika anak itu sampai (umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “ Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Isma‘il) menjawab, “ Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS: As Shafaat: 102)

  1. Membangun Suasana Tarbiyah

Tarbiyah adalah pendidikan. Sedangkan semua pendidikan bermula dari rumah.

Rasulullah menggambarkan pentingnya tarbiyah dalam keluarga dalam sebuah hadis:

"Hormatilah anak-anakmu dan perhatikanlah pendidikan mereka karena anak-anakmu sekalian adalah karunia Allah kepadamu." (HR. Ibnu Majah).

Target tarbiyah keluarga yaitu keluarga terbiasa bersikap sesuai dengan syakhsiyah Islam. Menjadikan Alquran dan Sunah sebagai standar hidupnya. Halal dan haram menjadi panduan dalam beramal.

Mengajak anak dalam aktivitas kebaikan, diajak melakukan aktivitas menuntut ilmu, menjenguk kerabat yang sakit atau membiasakan bersedekah. Dari aktivitas ini, akan menjadi pembelajaran yang membekas dan berkesan. Sehingga, di masa depan mereka akan berbuat kebaikan yang sama. Dan buahnya berupa pahala bagi orangtuanya.

  1. Menjaga Pergaulan Anak

Sebagai orang tua, kita harus terus memperhatikan dan menjaga pergaulan anak. Perhatikan dengan siapa saja anak kita bergaul karena teman adalah pengaruh yang besar dalam pengembangan sifat anak.

Rasulullah Saw memberi panduan dalam berteman dalam hadisnya:

“ Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka hendaknya ia melihat dengan siapa dia berteman.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4833), at-Tirmidzi (no. 2378), Ahmad (II/303, 334) dan al-Hakim (IV/171), dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu).

Orang tua boleh memilihkan teman untuk anaknya. Agar anak-anak terhindar dari pergaulan yang buruk. Namun tetap menjaga komunikasi yang baik dengan anak. Sehingga paham cara memilih teman. Karena sejatinya teman di dunia kelak menentukan teman di surga atau neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai." (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640).

  1. Menjaga Kebersihan Rumah

Kebersihan rumah mampu mencerminkan penghuninya. Orang tua memberi pengajaran agar menjaga kebersihan diri, rumah dan lingkungan.
"Dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

"Sesungguhnya Allah Swt itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu." (HR. Tirmizi).

Rumah sederhana namun bersih mampu menimbulkan suasana tentram dan betah bagi penghuninya. Kebahagiaan akan datang dengan sendirinya penuh rasa syukur.

Khatimah

Semoga Allah memudahkan keluarga Muslim untuk mewujudkan surga terindah bagi anak-anaknya. Surga bagi mutiara umat. Menjaga fitrah penciptaan anak sampai kelak mereka siap menorehkan prestasi bagi peradaban Islam yang mulia.

Wallahua'lam Bi Shawab

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Less is More
Next
Pembuktian Cinta
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram