Ibu Tangguh Mempunyai Visi Islam, Bukan Kapitalisme

Seorang ibu harus memahami konsep pendidikan Islam. Kurikulum berbasis akidah Islam tentu akan mampu menjawab tantangan zaman. Bahwa peradaban gemilang terbentuk dari pendidikan dan kurikulum terbaik. Bahwa generasi tangguh tidak akan lahir dari peradaban yang rusak. Untuk itu, perlu mendidik anak dengan pendidikan terbaik agar terbentuk generasi tangguh, utamanya di era digital.


Oleh: Eka Dwi

NarasiPost.com - "Dialah sosok wanita memberi kasih tak mengharap kembali. Dialah sosok wanita rela berpeluh-peluh demi sang buah hati. Dialah ibu, seorang malaikat tak bersayap. Dialah ibu, yang darinya lahir generasi pejuang nan tangguh." --EDN

Siapa yang tidak menginginkan seorang anak cerdas, tangguh dan menjadi panutan bagi kawan-kawannya? Siapa yang tidak bahagia melihat anak-anak punya bakat unik, multitalenta, dan selalu menjadi juara kelas? Rasanya tidak ada yang tidak bahagia melihatnya, apalagi bagi seorang ibu.

Tentu anak dengan sejuta prestasi tak lahir begitu saja. Anak cerdas tidak tiba-tiba muncul. Ia perlu dimunculkan dan dibina hingga menjadi cerdas. Namun, apakah cukup dengan mencetak anak berprestasi dan juara kelas menjadikan ia tangguh?

Lihatlah wahai para ibu dan calon ibu. Kita tidak sedang berada di zona aman. Di tengah lajunya perkembangan teknologi dan arus digital yang hampir menggilas anak bahkan para calon ibu. Mungkin bisa saja para ibu berdalih asalkan berprestasi tidak masalah anak "nakal". Asalkan anak menjadi juara kelas, tidak apa ia "bandel". Asalkan nilai raport anak tinggi, menjadi pembiaran malas-malasan di rumah. Apakah anak seperti ini yang kita harapkan?

Tak dipungkiri, era digital semakin menggerus perilaku sang anak. Semua aplikasi unfaedah disusuri sang anak, Tiktok menjadi aplikasi andalan pelarian sang anak jika jenuh. Belum lagi dengan game online yang menjadi bulan-bulanan anak di kala senggang hingga membunuh waktu.

Arus media yang semakin masif, menjadikan ibu dan anak sulit bisa memilah baik buruknya. Berjoget di tengah umum pun dianggap prestasi. Bahkan baru-baru ini viral video seorang anak berjoget ala Tiktok saat sedang tertidur. Orang tua yang merekam pun senang melihatnya (kompas.com, 19/3). Inikah prestasi yang patut dibanggakan?

Hidup di masa kini, di tengah sistem kapitalisme dengan asas sekularisme, meniadakan pencipta dari kehidupan, mengganggap Allah hanya ada di tempat ibadah. Akibatnya, tidak ada lagi rasa takut untuk berbuat, buram akan standar pahala atau dosa. Seorang ibu abai dengan perilaku anaknya, juga seorang anak berbuat lepas tanpa kendali. Alih-alih sang ibu merasa terbantukan, menjadikan media digital sebagai pengganti pengasuhan, faktanya anak malah kecanduan dan tidak bisa lepas dari media digital.

Hidup "bergantung" dengan media digital, dengan arus informasi tanpa filter, sedikit banyaknya memengaruhi ibu dan anak. Menghadapi anak yang lahir di zaman digital saat ini tentu berbeda dengan anak-anak di zaman dulu. Olehnya itu perlu visi yang tegas untuk menentukan arah perjuangan, apalagi di era digital yang bukan tanpa tantangan, justru semakin kompleks.

Bagi seorang muslim, mendidik dan membina anak menjadi generasi tangguh bukan perkara mudah. Saya teringat pesan Ustadzah Yanti Tanjung dalam Bincang Mesra via virtual yang diadakan oleh Narasipost.com, ahad malam (21/3) bahwa perlu strategi untuk menghadapi tantangan era digital. Seorang ibu harus memahami konsep pendidikan Islam. Kurikulum berbasis akidah Islam tentu akan mampu menjawab tantangan zaman. Bahwa peradaban gemilang terbentuk dari pendidikan dan kurikulum terbaik. Bahwa generasi tangguh tidak akan lahir dari peradaban yang rusak. Untuk itu, perlu mendidik anak dengan pendidikan terbaik agar terbentuk generasi tangguh, utamanya di era digital.

Ada sebuah pesan dari Ali bin Abi Thalib, "Didiklah anak-anakmu, sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu." Ini artinya seorang ibu dan calon ibu perlu menyiapkan anak menghadapi zamannya.

Kenapa hanya itu para ibu dan calon ibu? Karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebagaimana penyair Arab katakan "Al-Ummu madrasatul ula". Mempersiapkan diri menjadi ibu artinya terus belajar tanpa henti, melayakkan diri sebagai sekolah bagi anak.

Islam hadir sebagai solusi menghadapi tantangan zaman. Generasi anak tangguh bisa diraih dengan visi Islam, sebab Islam tidak hanya agama namun juga ideologi yang mampu mengatur dan menjadi solusi seluruh problematika kehidupan. Insan yang bertakwa kepada Allah hanya akan merasa takut kepada-Nya (QS. An-Nisa'[4]:9). Seorang ibu yang bertakwa tidak akan lemah dalam kondisi apapun, takutnya hanya diperuntukan di hadapan Allah. Ia pun akan mendidik anaknya demikian. Seorang ibu juga harus berjiwa pemimpin (QS. Al-Furqan[25]:74), dalam artian mampu mengambil sikap. Tidak lupa, seorang ibu harus mampu beramar makruf nahi munkar (QS. Ali 'Imran[3]:110), agar mampu mendidik anaknya bukan sekadar menjadi anak rumahan yang gemar rebahan. Namun, bukan pula keluar rumah sebagai hamba kapitalisme dengan mental buruh. Akan tetapi demi tegaknya dien Allah, Islam yang paripurna. Jika telah terinstall Islam dalam diri sang anak, maka sikapnya tidak akan jauh dari Islam.

Dengan demikian, para ibu dan calon ibu siap menghadapi tantangan zaman bersama anak-anaknya yang tangguh. Ibu tak perlu cemas lagi dengan arus digital. Tanpa ragu, ibu dan anak telah bersinergi agar mencapai visi Islam.

Jalinan anak dan ibu terus terikat, bahkan tidak hanya di dunia, namun penuh harap hingga ke surga. Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya : "(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu." (QS. Ar-Ra'd[13]:23-24).

Wallahu a'lam bishshowab.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Bincang Mesra Bersama Ustazah Yanti Tanjung: Menyiapkan Generasi Tangguh di Era Digital
Next
Makanan dan Perilaku Anak
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram