Hangout, Bukan Cermin Generasi Emas

Umat ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya pintar berceramah, tapi juga ahli di berbagai bidang. Umat juga butuh orang-orang yang profesional, namun tidak memisahkan antara kehidupan dunia ini dari agama


Oleh: Ida Royanti

NarasiPost.Com-Sobat muslim, libur sekolah masih tinggal beberapa hari lagi. Banyak siswa yang memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya sebelum berkutat kembali dengan pelajaran sekolah. Salah satunya adalah dengan cara nongkrong bareng teman-teman untuk mengisi waktu luang, atau lebih dikenal dengan sebutan hangout. 

Bahkan tak hanya para remaja, banyak kalangan menilai bahwa acara yang satu ini cukup efektif untuk membunuh rasa bosan dan lelah setelah bekerja atau kuliah. 

Sobat, budaya yang satu ini ternyata semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kalau pada zaman dahulu orang-orang hanya ngobrol di warung kopi atau  warteg di pinggir jalan, kini restaurant, mall, ataupun café menjadi pilihan favorit.

Tak heran, para pemodal menangkap kebiasaan yang semakin diminati ini sebagai peluang bisnis. Coba saja ‘klik’ istilah hangout ini di smartphone kamu, pasti yang keluar adalah berbagai sarana dan layanan yang memudahkan bagi seseorang untuk melakukan hangout. Sebut saja aneka cosmetic, baju trendy, aneka tas, sepatu, kuliner dan sebagainya. Bahkan ada restaurant atau café yang didesain khusus untuk acara ini berdasarkan karakter, profesi atau hobi tertentu. Tentu saja tidak sedikit kocek yang harus dikeluarkan untuk happy-happy ini.

Sobat, tak bisa dipungkiri, tekanan di dunia kerja baik yang dialami oleh laki-laki atau perempuan semakin hari semakin meningkat. Persaingan memang kerap kali menjadi momok tersendiri. Saling menjatuhkan sekadar untuk mempertahankan posisi sering sekali terjadi. Mereka dituntut bekerja keras, sementara gaji terkadang jauh dari memadai, ditambah dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat. Belum lagi tekanan dalam rumah tangga yang juga turut mewarnai. Semua ini cukup membuat stres dan lelah berkepanjangan. Karena itu, kumpul-kumpul bersama teman dinilai cukup efektif untuk membunuh rasa bosan.

Begitu juga dengan dunia remaja. Keinginan untuk diakui sering kali membuat para remaja rela melakukan apa saja, termasuk membiasakan diri untuk hangout bersama teman. Semua dilakukan agar tidak mendapat predikat kuno, tidak gaul, ketinggalan zaman dan berbagai sebutan lain. Bahkan, tak jarang mereka melanggar larangan orang tua.

Benarkah Hangout Merupakan Sebuah Solusi?

Sobat, memang tidak bisa dipungkiri, berkumpul dan sharing-sharing bareng teman bisa jadi membuat kejenuhan sedikit teralihkan. Stres dan kepenatan akibat rutinitas mungkin sedikit berkurang. Namun, hal itu tidak akan berlangsung lama. Ketika keesokan harinya kembali melakukan rutinitas seperti biasa, maka kejenuhan dan stres itu akan kembali datang. Karena secara fakta, berbagai beban hidup baik di sekolah atau pun di tempat kerja masih tetap ada. Segala keruwetan hidup masih tetap bercokol. 

Hal itu menunjukkan bahwa acara hangout sebenarnya tidak menyeleaikan masalah. Bisa jadi malah menimbulkan banyak masalah. Misalnya, pengeluaran semakin membengkak padahal kebutuhan hidup semakin meningkat. Meski terkadang orang yang memilih cara ini memiliki kelebihan harta, namun, seandainya harta itu digunakan untuk melakukan hal yang lebih positif, tentu itu akan lebih baik. 

Selain itu, jika tidak berhati-hati, hangout justru bisa menjerumuskan seseorang pada pergaulan yang tidak sehat, seperti saling membuka aib teman atau keluarga, terjadinya perselingkuhan, pelecehan seksual, bullying, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya. Mengerikan, bukan? Awalnya ingin senang-senang, malah berujung pada petaka panjang.

Bagaimana dengan kamu, Sobat?

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 110, yang artinya:

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
(QS.Ali Imran: 110)

Sebagaimana firman Allah tersebut, kamu adalah generasi terbaik, Sob. Kamu dilahirkan ke dunia ini sebagai agen perubahan yang akan mewujudkan dan menjaga peradaban Islam yang Agung. Di tanganmulah estafet perjuangan akan diteruskan hingga predikat sebagi khairu ummah (umat terbaik) ini layak kita sandang.

Jadi, banyak hal yang harus kamu lakukan, mulai dari belajar yang rajin agar menjadi pemuda-pemuda cerdas yang pandai menyelesaikan berbagai masalah. Bukan hanya pelajaran sekolah, namun,  juga ilmu-ilmu agama yang yang mengatur semu hal, mulai dari hubungan kita dengan Sang Pencipta, hubungan kita dengan diri sendiri atapun hubungan kita dengan sesama manusia.

Kajarlah cita-citamu setinggi langit, Sob! Umat ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya pintar berceramah, tapi juga ahli di berbagai bidang. Umat juga butuh orang-orang yang profesional, namun tidak memisahkan antara kehidupan dunia ini dari agama. Dan kamu pasti bisa!

Namun, generasi emas seperti ini tidak terlahir dari generasi yang suka hangout, Sob. Sejarah mencatat bahwa umat terbaik ini lahir dari pemuda-pemudi yang taat pada nilai-nilai Islam. Sebut saja Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, dan masih banyak yang lain. Andai mereka selalu melakukan hangout setiap kali ada masalah, tentu mereka tidak akan pernah menjadi ulama besar. 

Begitu juga dengan Sultan Muhammad al-Fatih, beliau tidak mendapatkan kemenangan saat menaklukkan Konstantinopel begitu saja. Sejak kecil, beliau menggembleng diri dengan ilmu agama dan berbagai kemahiran yang lain. Kedekatan dengan Allahlah yang menyebabkannya menjadi sang pemenang. Tentu saja masih banyak yang lain, yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Kamu juga bisa seperti itu, Sob. Kamu bisa mendapatkan predikat sebagai generasi emas, umat terbaik sepanjang zaman dengan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah. Jadilah agen perubahan yang akan mengeluarkan manusia dari kejahiliaan dengan melakukan amar makruf nahi munkar!

Bagaimana Kalau Lelah atau Jenuh? 

Sobat, yang menyebabkan stres dan rasa bosan berkepanjangan ini sebenarya adalah berbagai tekanan hidup yang datang secara bertubi-tubi di semua lini kehidupan. Hal ini terjadi karena saat ini sedang bercokol satu sistem buatan manusia yang sejatinya sangat lemah dan terbatas, yaitu demokrasi kapitalis.

Sistem yang perpedoman pada asas manfaat inilah yang menyebabkan banyak orang menghalalkan segala cara. Semua hal dilakukan asalkan bermanfaat bagi dirinya meskipun harus menabrak kemanfaatan orang lain. Dari sinilah individualisme sedikit-demi sedikit terpupuk dan semakin lama semakin subur. Karena itu, banyak orang rela makan teman sendiri tanpa beban atau merasa bersalah. Di sistem ini, yang kuat semakin kuat, yang lemah semakin lemah. 

Karena itu, tidak ada jalan lain, jika kamu ingin terbebas dari segala macam tekanan itu, maka kamu harus membebaskan seluruh umat ini dari sistem rusak yang sudah mengakar ke nadi ini. Caranya yaitu dengan melakukan transfer pemahaman kepada umat bahwa semua solusi dari berbagai keterpurukan ini adalah dengan mencampakkan sistem rusak ini dan kembali pada penerapan Islam secara totalitas.

Jadi, kebayang, kan, apa yang harus kamu lakukan? Semakin banyak orang yang paham terhadap ajaran agama, maka kehidupan akan semakin tenang. Seorang ibu akan memahami perannya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga. Ia akan menjalaninya berdasarkan ketakwaan kepada Allah semata. Begitu juga dengan seorang ayah. Ia akan menjalankan perannya secara penuh sebagai pemimpin dalam rumah tangga termasuk di dalamnya memberi nafkah untuk seluruh anggota keluarga. 

Dan kamu, dalam kondisi seperti itu akan mendapatkan ketenangan yang luar biasa sehingga bisa menjalankan peranmu sendiri sebagai anak dan juga sebagai bagian dari anggota masyarakat. 

Jika semua orang memahami peran masing-masing beserta hak dan kewajibannya, ditambah dengan penerapan syariat Islam secara totalitas oleh negara, maka bisa dipastikan, berbagai tekanan hidup yang saat ini melanda dunia akan segera sirna.  

Sobat, sekarang kamu sudah paham, kan, bahwa hangout bukan cermin dari generasi emas? Kamu tidak memerlukan hangout untuk menyelesaikan berbagai masalah. Ketika kesulitan datang menerpa, keluarga adalah orang yang paling tepat untuk dimintai pendapat dan pertolongan, bukan dengan cara hangout dengan teman-teman. 

Tidak ada orang tua yang tidak menginginkan kebaikan bagi anak-anaknya. Hanya saja, kadang kebaikan itu diukur dengan persepsi yang berbeda-beda. Karena itu, keluarga yang taat dan berpegang teguh pada agama bisa dipastikan memiliki persepsi yang sama karena mereka memiliki landasan halal haram yang sama. 

Maka, jika kamu mengalami masalah, kembalikan lagi pada Yang Mahakuasa, bahwa semua terjadi atas izin-Nya. Mintalah kekuatan dan pertolongan hanya kepada Allah Swt. Maka kehidupan akan kembali tenang dan damai karena pada dasarnya, setiap orang akan menemukan kebahagiaan hakiki ketika mendapat rida dari Allah Swt.

Jadi, mulailah dari dirimu! Yuk, jadikan dirimu sebagai khaira ummah, generasi emas seperti yang dijanjikan oleh Allah Swt, bukan generasi hangout yang tidak tahu di mana ujungnya. Bismillah, kamu pasti bisa![]


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Rabbi, Izinkan Kami Memiliki Buah Hati
Next
Bersama di Jalan Dakwah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram