Tuhan, Jangan Ambil Agamaku

Salah satu naskah challenge ke-3 NarasiPost.Com dalam rubrik True Story yang mendapatkan nilai cukup besar juga.


Oleh: Mak Ayu

NarasiPost.Com-Atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.

Sudah tiga puluh enam tahun, kalimat itu masih terekam dalam ingatan, sulit sekali menghapusnya. Bahkan, di awal-awal kelulusanku dari sebuah SMPK (Sekolah Menengah Pertama Katolik), kalimat itu kadang terucap sendiri, tanpa kusadari. Jelas saja itu membuatku terhenyak dan merasakan kesedihan mendalam. Memori yang ingin sekali kulupa, masih lekat dalam kepala.

Semua terjadi saat diriku yang memang tak pandai, tidak diterima di sekolah favorit yang ada di dekat rumah. Lahir di keluarga muslim abangan (tidak tersentuh Islam), membuat orang tua memutuskan untuk mendaftarkanku ke sekolah terdekat lainnya. Meski sekolah swasta, prestasi di sekolah ini tak kalah dibanding sekolah favorit. Jelas sekolah itu maju karena berada di bawah Yayasan Katolik dan tersuplai dana. Singkatnya, aku masuk SMPK.

Aku tak paham agama. Pahamnya hanya pada salat dan puasa. Aku menganggap ini tidak ada masalah. Belajar bisa di mana saja. Apalagi, sekolah di dekat rumah merupakan salah satu cara menghemat pula. Aku tidak perlu uang saku kecuali saat olah raga, juga tidak perlu ongkos lainnya untuk sampai ke sekolah. Jadi, kami merasa hal itu sangat lumrah.

Setelah memasuki sekolah, kegelisahan itu mulai ada. Awal masuk kelas diisi dengan doa, tetapi doa cara Katolik. Begitu pun saat pelajaran hendak selesai. Kami membaca doa Salam Maria. Semua siswa diberi Injil secara gratis untuk dipelajari isinya.

Intensitas harian itu jelas membuat doa-doa itu melekat hingga di luar kepala. Bahkan, seminggu sekali  di hari Jum’at,  seluruh murid digiring ke Gereja. Sakiiit sekali dada ini saat kaki memasuki Gereja, duduk manis mendengarkan Pastur memberi nasihat. Setiap bangku diisi buku panduan nyanyian pemujaan yang harus diikuti, juga diajarkan bagaimana meminta pengampunan dosa.

Meski aku diam tak mengikutinya, tetapi kusaksikan teman-teman ikut menyanyi riang dalam alunan musik. Kalau tidak takut akan teguran dan hukuman guru, tentu aku akan berlari meninggalkan altar.

Dalam hati kecil aku berucap, “Ya Allah, selamatkanlah aku.”

Itu doa yang kuulang-ulang selama prosesi ritual berlangsung, sembari sesekali mengusap air mata.

Akan tetapi, kebodohan ini membuatku tidak berani meminta keluar dari sekolah tersebut, terlebih kondisi ekonomi orang tua sangat pas-pasan. Allah memberi ujian sakit bergantian antara ayah dan kakak perempuan. Aku diam karena tidak ingin membebani orang tua dengan keluhan-keluhan. Beban mereka pastilah sudah sangat berat.

Jadilah aku bertahan pada kondisi tahap demi tahap dalam kelinglungan berfikir, meski akhirnya bisa terbiasa. Ada luka demi luka yang tak dapat kumaafkan begitu saja. Ada rekaman memilukan yang membuatku lebih membisu lagi. Satu-persatu teman berpindah agama. Beberapa yang kutanya menjawab dengan alasan nyaman dengan agama barunya.

Aku juga pernah ikut perkemahan selama tiga malam. Jika dalam Islam, acara itu disebut mabit (malam bina iman dan takwa). Rasanya menyenangkan, tetapi mengaduk-aduk rasa. Bedanya, rasa ini tentang akidah lain yang diaduk-adukkan dalam pikiran dan perasaan peserta. Hasilnya, beberapa teman dengan penuh kerelaan memasuki agama baru, murtad! Aku menangisi semua yang terjadi tanpa memiliki kekuatan untuk melawan maupun menghindari.

Sejak saat itu, aku berdoa agar Allah tidak mengambil agamaku. Meski bekal agama sangat tipis, tetapi aku mengerti bahwa tidak boleh murtad jika ingin mendapatkan surga. Ya, Allah, ampuni dosa-dosa hamba. Allah Swt sangat sayang padaku, hingga tidak kehilangan akidah.

Setelah kelulusan, ada rasa lega. Akhirnya aku bisa menghirup udara bebas. Akan tetapi, ternyata tidak semudah itu. Rekaman selama tiga tahun seakan menancap kuat. Kadang tanpa sadar, doa-doa selama di sekolah terucap sendiri, hingga tangan ini langsung menutup mulut agar berhenti.

Di sinilah pentingnya umat memiliki jadi diri  dan kepribadian Islam yang kuat. Bekal agama dari orang tua sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Mungkin orang tua sudah benar dengan memilihkan anak untuk beragama Islam yang di ridai Allah. Namun, dengan bekal  agama yang sedikit, hal itu justru bisa menjerumuskan anak ke jalan kesesatan tanpa disadari, juga tanpa merasa bersalah.

Allah Swt. berfirman dalam surat at-Tahrim ayat 6 yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,  penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Terlebih tawaran-tawaran untuk bergabung dalam jamaah Islam sahih sangatlah mudah ditemukan karena seorang muslim harus paham akan agamanya sendiri beserta  aturan-aturan yang ada di dalamnya.  Allah Swt. telah menurunkan Al-Quran untuk dipelajari sebagai petunjuk dalam menjalankan kehidupan agar bisa membedakan antara yang benar dan batil.

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 185 yang artinya:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) ….”

Wallahu ‘alam bishawab[]


photo : pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Bahagia Seutuhnya
Next
Aku Tahu, Aku Orang yang Kuat
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram