Titik Nadir

Salah satu naskah Challenge ke-3 NarasiPost.Com dalam rubrik Trye Story


Oleh: Lussy Deshanti Wulandari

NarasiPost.Com-Sepinya malam begitu terasa. Anak-anak sudah tidur pulas. Akhirnya, aku bisa istirahat, setelah menemani anak ke duaku muroja'ah hafalannya untuk tasmi besok.

"Laahaula walaa quwwata illaa billaah, mudahkan tasmi Kakak besok, ya, Allah!" pintaku.

Meski begitu, di hati emak ini juga ada rasa khawatir anaknya kecewa kalau tidak lulus, karena ada beberapa surat yang belum hapal benar.

Tiba-tiba, rasa sakit menjalar ke perut. Kontraksi lahiran mulai kurasakan.

"Ya, Allah, masa iya aku akan melahirkan sekarang? Kan HPL pekan depannya lagi?" lirihku.

Gelombang kontraksi kurasakan teratur. Namun, masih jauh jedanya. Kucoba tidur sambil menahan sakit, sampai akhirnya tertidur juga.

Keesokan pagi, kontraksi masih terasa dengan jeda dua puluh lima menitan. Rencana menemani anak tasmi pun akhirnya kuurungkan. Anak lanangku yang masih kelas dua akhirnya berangkat sendiri ke sekolahnya. Ia harus setoran tasmi mandiri tanpa pendamping.

Sedangkan aku mulai bersiap periksa ke dokter kandungan, diantar ibu mertua karena suami sedang kerja jauh di wilayah timur sana.

Setibanya di rumah sakit, qadarullah, dokter kandungannya tidak datang karena mendadak menangani operasi di RS lain. Akhirnya kudaftarkan untuk keesokan harinya dan aku pun kembali ke rumah mertua, supaya kalau ada apa-apa, ada yang mengantarku ke sana.

Ternyata anakku yang tasmi sudah pulang terlebih dulu diantar jemputan ke rumah mertua. Dengan girang, dia menyambut dan menyerahkan sebuah kartu. Dia pun bersorak.

"Bunda, Kakak lulus tasmi! Ini kartu lulusnya."

Sambil menahan bulir air mata karena haru, aku berseru, "Alhamdulillah, ya, Allah! Kakak hebat. Udah mandiri, lulus tasminya. Bunda bangga!"

Kakek neneknya pun giliran memujinya. Dia pun tersipu.
Sore harinya aku diantar ke rumah sakit lagi untuk mengikuti senam hamil. Dokter kandungan merekomendasikan karena ini kehamilan ke tiga dan jeda agak jauh dari yang ke dua. Meski masih ada mules, tetapi kupaksakan.

Setelah senam hamil, bidan pembimbing senam menghampiriku. Ia menyuruhku untuk periksa intensitas kontraksi dan pembukaan. Ternyata sudah pembukaan satu dan kontraksi berjalan dua puluh lima menitan. Karena dianggap masih lama, aku disuruh pulang dan cek jeda kontraksi di rumah saja.

Hingga malam, kontraksi masih berjeda sama. Aku menelepon suami dan ibu bapakku di kampung untuk mengabarkan kondisiku saat ini. Dasar naluri ibu, anaknya mules ternyata ibu juga merasakan hal yang sama sejak tadi pagi. Jadilah keesokan paginya, ibu dan bapak berangkat dari kampung ke Kota Hujan tempatku berada.

Siang harinya, aku memeriksakan diri ke dokter kandungan, diantar ibu mertua dan anak-anak. Suster memeriksa tekanan darah. Dia pun berbisik ke dokter, "Tinggi, Dok! 170/110 mmHg."

Dokter lalu berkata, "Kita USG ya, Bu!" Aku pun mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dokter menjelaskan hasil pemeriksaan.

"Kondisi bayi baik, sekitar  tiga kg. Air ketuban cukup. Posisi kepala di bawah. Cuma tensi ibu tinggi. Apakah ibu tegang karena mau lahiran?" tanya dokter.

Saya pun menjawab, "Ah, nggak, Dok, biasa saja. Dulu pas mau lahiran anak ke dua juga begini. Tensi tinggi menjelang kelahiran."

Dokter melihat catatan medisku. Dia pun tampak berpikir dan akhirnya memutuskan agar aku dirawat saat itu juga.

Aku ditempatkan di ruang IGD karena ruang bersalin ada di depannya. Lalu berdatangan suster menggantikan bajuku dengan baju pasien. Jarum infus ditusukkan ke tangan, kemudian dilakukan serangkaian pemeriksaan.

Suster memberitahukan bahwa aku akan diinduksi agar segera lahiran dan diberi obat penurun tensi. Tak selang lama, ibu dan bapakku dari kampung datang. Jadilah mereka yang menungguiku selama di RS, sedang ibu mertua dan anak-anak pulang ke rumah.

Intensitas kontraksi lebih cepat. Induksi mulai bereaksi, tetapi berdampak pada tingginya tensi. Pembukaan baru dua. Akhirnya, induksi dihentikan. Kontraksi masih terasa.

Malam itu, aku menginap di IGD, sedang ibu dan bapakku kuminta tidur di kamar RS yang sudah dipesankan untuk ruang rawatku.

"Kasihan, mereka kecapean, baru datang dari kampung," pikirku.

Sementara aku, tetap di IGD sambil berzikir dan mendengarkan lantunan murrotal dari speaker yang kubawa.
Pagi hari, tensiku mulai turun. Suster menginduksi dengan dosis lebih tinggi dari sebelumnya. Kontraksi bertambah cepat, jedanya sepuluh menitan kira-kira. Tensi naik lagi. Aku pun diminta berbaring saja.

Siangnya, suster mengecek kondisi. Pembukaan masih sama. Tensi menurun, suster menginduksi lagi. Kontraksi kurasakan lebih dahsyat sekitar lima menitan. Aku hanya bisa menahan sakit di tempat tidur sambil berzikir.

Hingga sore pun, kondisiku masih tetap sama. Pembukaan masih dua. Tensi fluktuatif, tetapi belum normal. Keluarga tak henti-hentinya menanyakan kondisiku. Aku hanya minta agar mereka mendoakan. Aku pasrah. Apa pun yang terbaik, lahiran normal atau SC, akan kujalani.

Sampai tiba pukul 16.00 WIB, kondisiku tetap sama. Dokter kandungan menyarankan untuk lakukan SC karena tiga kali induksi, ternyata tak berhasil menambah pembukaan, malah membuat tensiku bertambah tinggi. Padahal, bayi harus segera dikeluarkan.

Suami menelepon ibu, menanyakan kondisi terkiniku. Dari percakapan itu, akhirnya suami memasrahkan untuk melakukan apa pun tindakan terbaik. Soal biaya itu urusan nanti.

Akhirnya, persiapan untuk SC dilakukan. Waktu itu sudah pukul 17.00 WIB. Tiba-tiba, kontraksi lebih hebat kurasakan. Jeda tiga menitan dan terus intens menjadi dua menitan. Untuk memastikan, suster mengecek kondisi pembukaan. Dari raut mukanya terlihat kaget karena pembukaan sudah enam.

Bergegas suster itu melaporkan perihal kondisiku ke dokter. Dan akhirnya, rencana SC dibatalkan. Aku pun dibantu bangun dan melakukan trik senam hamil yang diajarkan untuk merangsang pembukaan agar lebih cepat. Dan saat itu, air ketuban pecah, saking semangatnya. Tensiku juga naik. Pembukaan sudah delapan. Sampai akhirnya, aku diminta tiduran dan tidak melakukan rangsangan lagi.
Aku dibawa ke ruang bersalin ditemani ibu. Kontraksi semakin hebat. Aku mengerang kesakitan.

Pembukaan terus bertambah. Ingin rasanya aku mengejan. Akan tetapi dilarang oleh suster dan diminta untuk mengambil napas dalam-dalam. Hingga lengkap pembukaan, dokter pun tiba. Ia segera membantu kelahiran dan memintaku untuk mengejan.

Pukul 17.55 WIB, akhirnya bayi keluar dengan kondisi sehat dan lengkap. Pecah tangisku, begitu juga ibu. Tak henti-hentinya rasa syukur kuucapkan kepada Allah yang telah memudahkan persalinan ini.

Dari pengalaman kelahiran ini, aku semakin meyakini bahwa kekuasaan dan pertolongan Allah itu ada dan akan datang ketika kita berada di titik nadir, titik terpasrah, saat kita menjadikan Allah muara tempat kita bergantung, tak ada yang lain. Manusia hanya berencana, tetapi ternyata Allah punya rencana lain yang terbaik.

Selain itu, perkiraan manusia terbatas dan bisa salah. Menurut manusia, kehamilan dengan preekslampsia dianggap berbahaya dan mengancam nyawa. Namun, bagi Allah, sama sekali tiada yang sulit. Ketika Allah berkehendak untuk memudahkan, mudahlah segalanya. Masyaallah.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Di Jalan Ini Kita Berjumpa
Next
Al-Aqsa Butuh Khilafah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram