Sepuluh Tahun

"Salah satu naskah Challenge ke-3 NarasiPost.Com dalam True Story"


Oleh: Stefanie Meilana Tan

NarasiPost.Com-Awalnya semua baik-baik saja, kelahiranku, pernikahan orang tuaku, hingga usiaku menginjak tiga tahun. Namun, semua berubah 360 derajat setelah kedua orang tuaku bercerai. Mereka mulai berpisah dan tak peduli satu sama lain. Dalam pengadilan, ayahku adalah sosok yang selalu menang.

Setelah perceraian mereka, aku mulai hidup dengan ayah, menjalani semua berdua dengannya. Sedangkan kakak dan adikku hidup dengan nenek. Aku tak peduli pada apa yang akan terjadi ke depannya karena ada ayah di sampingku, yang selalu menggandeng tanganku.

Hingga akhirnya, setelah usiaku lima tahun, ayahku kembali mencari pendamping hidup. Aku pun tak masalah dengan hal itu. Asal ayah bahagia, aku akan melakukan apa pun untuknya karena aku sayang pada ayah.

Akhirnya, ayah menikah dengan sosok wanita yang bahkan tak kukenal. Pada saat pernikahan mereka, aku tak bisa menghadiri acaranya, hingga aku harus dirawat nenekku sementara waktu.

Suatu saat, ibu kandungku kembali datang ke sekolah dan mencariku. Aku sangat senang dan khawatir. Aku khawatir akan membuat kemarahan ayah menjadi meledak, karena ayah tak suka pada ibu kandungku. Hingga akhirnya, ayah tahu kalau ibu sering menemuiku di sekolah. Ayah yang tak tenang pun memutuskan untuk pindah ke Pulau Jawa, yang sama sekali tak kukenal, yaitu kampung ibu tiriku.

Misha, mulai hari ini, kamu harus panggil dia mama, jangan panggil dia tante. Oke?” ucap ayah dengan lembut.

Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Awalnya, setelah pindah ke Pulau Jawa, ibu tiriku sangat baik dan lembut. Aku tak pernah merasa diasingkan atau diperlakukan tak adil. Namun, seiring berjalannya waktu, ibu tiriku menampakkan sosok aslinya. Dia lebih mementingkan anak kandungnya sendiri dan tak pernah merasakan bagaimana rasanya jika menjadi diriku yang selalu dimarahi tanpa tau apa-apa.

Misha, hari ini Papa mau berangkat ke Bali karena dapat kupon berhadiah. Misha di rumah tante aja, ya?” ucap papa.

Iya Misha. Hari ini, Mama, Papa, sama Kila adik tirimu mau pergi Bali. Kamu di rumah tante aja, ya?” tambah ibu tiriku.

“Emangnya kenapa aku nggak diajak juga? Aku kan anak Papa juga?” tanyaku sedih.

“Bukannya gitu, tapi Papa belum ada uang buat biaya tiket pesawat empat orang. Nanti, kalau Papa pulang pasti bawa oleh-oleh, ya?” ucap ayah.

Aku pun mengalah dan mencoba untuk mengerti. Semua berawal dari sini. Ibu tiriku, dia mulai menjatah porsi makanku jauh lebih sedikit dari yang lainnya. Aku mulai tak boleh melakukan hal yang kusuka. Setelah sepuluh tahun, aku berusaha bertahan, mencari hal terbaik yang bisa kulakukan. Aku mulai sering berbohong demi kebaikanku. Karena jika ibu tiriku marah, maka aku pasti akan dipukul dan tak pernah diajak berbicara.

Hingga suatu hari, ibu tiriku mendorong kepalaku dengan telunjuknya dan memperlakukanku selayaknya orang bodoh di depan ayahku. Bahkan hanya karena anaknya yang berbohong padaku, aku yang disalahkan.

Aku tak tahan. Ayahku bahkan berubah. Dia tak membelaku lagi. Dia membiarkan ibu tiriku melakukan semua hal sesuka hatinya. Aku kecewa, sungguh kecewa. Akhirnya aku kembali memutuskan untuk menghubungi ibu kandungku melalui whatshapp .

Ma, aku udah nggak tahan lagi. Aku mau pulang ke sana lagi,” ucapku sedih.

Emang kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?” tanya ibu kandungku di telpon.

Aku mulai menceritakan tentang ayah yang mulai berubah, hingga perlakuan ibu tiriku yang tak layak padaku. Akhirnya aku memberanikan diri, menyatakan pada ayahku, bahwa aku akan kembali ke kampung lamaku lagi.

Jujur, berat bagiku meninggalkan ayah. Akan tetapi, menurutku inilah jalan terbaik yang harus kulakukan. Intinya, sekarang diriku tak kesepian lagi. Aku juga jauh lebih bahagia bersama ibu kandungku yang selama sepuluh tahun ini bersamaku. Hal paling kuingat adalah sampai kapan pun, sejahat apapun orang tuaku, sekejam apa pun mereka, aku tidak akan melupakan mereka dan aku nggak akan membenci mereka, sampai kapan pun.[]


photo : google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Pantaskah Kita Risau Akan Rezeki?
Next
Palestina Membara
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram