Peluhmu Jadi Saksi di Akhirat Nanti

"Salah satu naskah Challenge ke-3 NarasiPost.Com dalam True Story yang mendapatkan nilai tertinggi"


Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Penulis dan owner @tilah Bakery)

NarasiPost.Com-Allah Swt. berfirman:

"Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).

Saya merintis usaha dengan suami di awal tahun 2018 dengan modal lima ratus ribu rupiah. Tak terasa, ini adalah tahun ketiga bagi kami merintis usaha yang dimulai dari nol.

Di awal-awal, suami hunting ke lapak-lapak dekat rumah, menawarkan untuk menitipkan dagangan. Produk pertama kali yang diproduksi ialah martabak mini. Harganya cukup terjangkau dengan target market anak Sekolah Dasar.

Setiap hari, suami bangun tengah malam untuk mixing bahan martabak. Karena harus didiamkan, ia bisa tidur kembali sambil menunggu. Tak semua orang bisa melakukan hal tersebut. Saat sedang  tidur  pulas, ia harus terbangun. Itu dilakukan setiap hari. Setelah mandi dan salat Subuh, suami mulai mengeksekusi bahan martabak.

Membuat martabak membutuhkan konsentrasi dan kesabaran agar hasilnya memuaskan. Kalau gagal atau bantat, maka tak layak dijual. Jumlah yang dibuat tak banyak karena suami cukup perhitungan. Ia tidak mau gambling.

Begitu selesai, tugas saya membuat toping sederhana dan packing. Suami yang memperhitungkan dan menyiapkan  semua, mulai dari membeli bahan yang harganya miring, membuat dengan formula modifikasi  dan menentukan harga.

Tugas saya,  foto, packing dan marketing. Saya akui, suami memiliki kelebihan tentang cara memproduksi sesuatu yang enak dengan harga terjangkau. Suami juga tahu di mana bahan yang harganya sangat terjangkau serta sering membuat formula modifikasi sendiri.

Di  pabriknya, suami cukup diandalkan oleh tim, terutama tentang cara membuat formula tepung dari gandum dengan harga terjangkau dan kualitas bersang. Selama ini, proyek yang ada selalu membuahkan hasil dan memuaskan. Bagi saya, ini adalah suatu anugerah.

Selesai packing, saatnya suami keliling, mengantar dan menitipkan produk di lapak-lapak kecil. Setelah itu, suami pergi ke pabrik untuk bekerja. Begitu rutinitas setiap hari selama setahun, dengan hasil tak banyak, tetapi kami berusaha mensyukuri.

Kira-kira pukul sepuluh, gantian saya yang keliling mengambil dagangan setiap hari. Sambil menggendong baby, anak kedua kami. Pulangnya, aku langsung menjemput anak sulung. Begitulah rutinitas yang dilakukan lulusan S2, padahal biasanya mengajar di kampus.

Produk ditambah pizza dan burger mini. Target market adalah anak sekolah. Untuk burger mini, sambutan pasar luar biasa. Saat itu, belum ada yang menjual kecuali kami. Ide suami tergolong mahal dan kreatif. Harga yang memikat membuat burger mini jadi rebutan. Hampir tiap hari habis, walau hanya menyimpan di beberapa lapak yang strategis.

Namun, Allah menguji kami. Saat libur sekolah, kami tak jualan dengan berbagai pertimbangan. Ada pelapak lain yang menjual burger mini dengan bentuk agak besar dan harga di atas kami. Pelapak tersebut menjual di lapak tempat kami biasa menyimpan. Mungkin, pelanggan kami pindah ke pelapak tersebut.

Liburan usai, kami coba menitip kembali dengan resiko ada dua jenis burger mini, yaitu milik kami dan pelapak lain. Ternyata, yang sering habis milik pelapak lain.

Tak mau ambil pusing, kami stop produk burger mini dan fokus ke produk lain. Kami percaya bahwa Allah sudah mengatur rezeki setiap hamba-Nya. Terpenting, kami tak usil dengan produk dan usaha orang lain, berusaha jujur dan amanah. Kami menghargai usaha orang lain, jika kita ingin dihargai oleh orang lain. Jika pun ada perlakuan orang lain yang tak baik, kami serahkan pada Allah.

Lelah? Ya, itu manusiawi. Akan tetapi, kami berusaha mensyukuri apa saja yang Allah beri. Tiap hari, saya tulis pemasukan dan pengeluaran, seperti tak ada kerjaan. Ini menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Rekap bulanan pun saya lakukan hingga sekarang agar omset dan laba bersih tiap bulan terlihat. Alhamdulillah, dari jualan martabak, terbeli beberapa peralatan untuk jualan.

Suami begitu disiplin dalam hal keuangan. Uang belanja atau kebutuhan sehari-hari harus dipisahkan dari uang usaha. Jangan berutang pada orang. Jka uang tak ada, tahan, jangan banyak keinginan. Semakin ke sini, semakin terjawab mengapa dia jodoh saya. Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dulu, yang saya inginkan adalah bjodoh seorang ustaz karena ingin mendirikan sebuah pesantren.

Di awal tahun 2019, suami ingin mengembangkan usaha. Lahirlah produk selanjutnya yaitu roti tawar. Ada sedikit uang, lalu suami membeli oven dan mixer yang memadai. Harga roti tawar buatan suami murah, tetapi tidak murahan. Kami hanya mengandalkan PO atau pesanan saja, sambil jualan martabak. Namun, karena saya melihat suami sepertinya kelelahan, akhirnya saya kasih pilihan, tetap mengandalkan pesanan yang sudah pasti atau yang gambling, tetapi menguras waktu dan tenaga dalam teknis.

Dengan terpaksa, usaha martabak off, mendahulukan yang pasti karena by order. Sempat terjadi perdebatan alot antara saya dan suami. Saat itu, respon pasar terhadap roti tawar alhamdulillah baik. Namun, usaha roti terhenti sejak pandemi karena anak sekolah daring dan sebagian mengalami krisis.

Mungkin, para orang tua lebih memilih membuat makanan sendiri di rumah daripada membeli, meski tak semua seperti ini. Selain roti tawar, suami membuat produk baru yaitu roti bantal, roti isi kecil, roti pizza, roti burger, dan hotdog. Di bulan Ramadhan, kami mulai memproduksi cookies monde dan double choco minimalis.

Semua produk suami yang buat, diantar ke pembeli tanpa ada ongkir. Lalu, membuat roti bakar dan sempat kerja sama dengan lapak roti bakar. Sayangnya, saat ini terhenti karena satu dan lain hal.

Di tahun 2020, suami berkreasi kembali seperti tak kehabisan ide. Mungkin salah satunya, ingin mengembangkan ilmu hasil training di luar negeri sebagai fasilitas dari pabrik tempat suami bekerja. Produk yang dihasilkan di antaranya garlic, bolen, bomboloni, donat, brownies panggang, proll tape, bakpia, bolu gulung dan  roti gulung abon.

Dari produk tersebut, nama dan bentuk bisa sama dengan yang lain. Akan tetapi, formula, rasa dan harga berbeda.  Kata orang, beda tangan beda rasa serta ciri khas.
Sempat banyak peminatnya di awal launching, bahkan ada yang berkali-kali repeat order. Sekali buat, bisa enam puluh pcs. Ini dikerjakan malam ketika suami pulang kerja. Namanya jualan ada kalanya sepi dan manusia ada kalanya bosan. Terkadang, putar otak bagaimana caranya tetap bisa closing walau hanya sekali dalam sepekan.

Nama usaha kami diambil dari anak sulung, Atilah. Suami yang ingin menggunakan nama tersebut. Jadilah namanya @tilah Bakery. Saya ikut saja gimana baiknya. Semoga usaha kami berkah.

Melihat kerja keras suami yang sering begadang saat ada pesanan, saya sering tertegun. Maasyaallah, luar biasa. Tak semua pria bisa melakukan itu, sementara besok pagi harus kerja dan terkadang mengantarkan pesanan terlebih dahulu sebelum ke tempat kerja.

Pernah ada pesanan Snack box dari tempat kerja adik. Di luar dugaan, pesanan ratusan box. Beberapa hari berturut-turut, suami kurang tidur. Kalau saya bisa istirahat karena tidak pergi ke mana-mana. Sementara suami, esok hari harus pergi kerja.

Saya terharu melihat perjuangan dan pengorbanannya yang begitu luar biasa. Suamiku, engaku adalah anugerah terindah yang Allah beri untukku yang seperti ini.

Saat pesanan sepi, saya meminta pada Allah semoga closing dan menyempurnakan ikhtiar. Iklan dan posting saja, masalah closing biar Allah yang menentukan. Beberapa kali alhamdulillah, Allah kabulkan closing walau hanya di akhir pekan. Kebetulan suami sedang banyak kerjaan, hingga saya berfikir "Owh, mungkin menurut Allah agar suami punya waktu untuk istirahat."

Kami yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, bahwa rezeki tak akan pernah tertukar. Rezeki akan datang pada pemiliknya masing-masing seperti yang Allah perintahkan pada rezeki. Kami pun memahami bahwa usaha itu ibarat ombak, ada pasang dan surut, jadi dinikmati dan disyukuri saja. Masih bertahan saat ini di tengah krisis, Alhamdulillah.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Setop Euforia, Gencatan Senjata Bukan Solusi Palestina
Next
Romansa “Paman Sam” dan “Bibi” Berujung Tumbal Baitul Maqdis
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram