Doamu Menundukkan Kejahilanku

"Salah satu naskah Challenge ke-3 NarasiPost.Com dalam rubrik True Story"


Oleh : L. Nur Salamah, S.Pd

NarasiPost.Com-"Kamu ngajinya sama siapa, Nis?" tanya Ustaz Mulyadi, suaminya Mbak Anis.

"Sama Mbak Nur, Yah," jawab Mbak Anis.

"Mbak Nur? Mbak Nur Salamah? Apa istrinya Ustaz Ahmad Riyanto itu?"

Demikianlah percakapan singkat Mbak Anis dengan suaminya setelah beberapa kali ikut kajian umum yang aku isi.


Sabtu, pukul 11.30, aku menjalani rutinits baru. Selain menjadi staf pengajar di sebuah yayasan pendidikan berbasis pesantren, aku juga mengisi kajian umum yang dihadiri beberapa orang dari berbagai perumahan.

Mbak Anis adalah salah satu peserta yang bisa dibilang absensi kehadirannya 99 persen.

Terik matahari mulai terasa menyengat, menembus celah-celah ranting pohon yang berada tepat di depan rumah. Aku sedang sibuk menyiapkan berkas panduan untuk menyampaikan materi kajian.
Sosok wanita dengan postur tinggi dan hitam manis yang sedari tadi ada di depanku itu mencoba mencairkan suasana.

"Mbak Nur itu nama lengkapnya siapa?" Kudengar suara lembut khas orang Jawa, dihiasi senyum tipis di bibirnya, Mbak Anis membuka pembicaraan dengan melayangkan pertanyaan.

"Nur Salamah, Mbak."

Jawaban singkat kuberikan, dengan ribuan rasa penasaran tersimpan dalam angan. Sesaat, kulihat Mbak Anis menganggukkan kepala, pertanda ada sesuatu yang dibenarkan.

"Kenapa Mbak?" Aku mencoba melanjutkan obrolan yang tadi sempat terjeda.

Sambil tersipu malu, Mbak Anis menceritakan apa yang didengar dari suaminya tentang aku. Sambil terus bercerita, sesekali aku pandangi wajah manis itu. Guratan di wajahnya mengisyaratkan bahwa ada perasaan tidak percaya menyelimuti hatinya.

Wajar saja, yang dia ceritakan dan yang dia saksikan saat ini sangatlah bertolak belakang, serasa mustahil terjadi. Namun, begitulah ketika Allah Swt. menghendaki segala sesuatu terjadi, maka terjadilah.

Mas Ahmad Riyanto adalah pria yang lembut dan penyayang, sosok yang dikenal paling saleh di antara semua saudaranya. Ia anak pertama dari dua belas bersaudara. Beberapa kitab ke-NU-an telah dilahapnya karena memang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang dekat dengan pondok pesantren.

Ketika melanjutkan kuliah di Surabaya, beliau juga termasuk aktif di gerakan dakwah, menjabat sebagai ketua BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus) tingkat Surabaya.

Sedangkan diriku, yang dipilih untuh melabuhkan hatinya, adalah orang awam, yang sangat jauh dari nilai-nilai keislaman. Islam hanyalah sekadar identitas di KTP.

7 Januari 2007 adalah tanggal dan tahun yang sakral, sebuah momen dimana beliau menghalalkan hubungannya denganku. Sebenarnya aku belum siap dan masih enggan untuk menikah dengannya karena hatiku tidak untuknya, begitu juga sebaliknya.

Aku bukanlah wanita yang diidamkannya karena dari berbagai sisi tidak ada yang bisa diharapkan. Baik paras maupun kesalehan, jauh api dari panggang. Akan tetapi, takdir berbicara lain.

Kami pun mengarungi bahtera rumah tangga dengan diselimuti prahara. Perselisihan setiap hari tak bisa dielakkan. Perbedaan pemahaman membuat setiap aktivitas kami hampir tidak pernah sejalan.

Pada tahun 2010, kami baru dikaruniai satu anak. Aku yang masih dalam suasana kejahilan, selalu saja tidak sependapat dengan aktivitas pengajian yang dilakoni suami. Hingga pada suatu malam, keributan terjadi di antara kami.

Saat itu, ada agenda mabit (malam bina iman dan takwa) yang mengharuskan suamiku melangkahkan kakinya menuju Masjid Baitul Iman. Rasa kesal membuncah dalam hati ini karena suami tidak menghiraukanku. Ia tetap pergi dengan sikapnya yang tampak datar-datar saja.

Diriku yang berselimut dosa dan berbalut nista merasa alergi mendengar kata kajian dan dakwah, serta istilah-istilah Islam yang lain. Akhirnya, tengah malam aku tinggalkan anakku. Dengan berjalan kaki, aku menuju tempat di mana suamiku mabit dengan kelompok pengajiannya.

Aku sengaja membawa kunci duplikat motor. Dengan masih diliputi amarah, kubawa pulang motor itu tanpa sepengetahuannya.

Keesokan harinya, seluruh peserta mabit heboh, Ustaz Ahmad Riyanto kehilangan motornya, bahkan sampai lapor ke Polsek Batu Aji. Namun, begitu pandainya suamiku menyembunyikan perasaan atas setiap kejadian itu. Hingga tiba di rumah keesokan paginya, ia mendapati motor sudah di rumah, tetapi tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa.

Aku tifak pernah mengetahui semua kejadian yang heboh itu kalau bukan karena Mbak Anis menceritakan apa yang didengar dari suaminya, yaitu Ustaz Mulyadi.

Masih banyak lagi hal konyol yang kulakukan saat jahiliah. Hingga suatu ketika, aku merasa gelisah tak menentu, bosan dan bingung. Sejak saat itulah, aku mulai berfikir dan merenung. Apa sebenarnya yang kucari dan inginkan?

Dalam kegelisahan, aku terus berupaya mencari apa yang bisa membuatku bahagia. Hingga pada suatu ketika, aku dipertemukan dengan seseorang yang awalnya aku sama sekali tidak tertarik padanya. Bahkan, pernah karena emosi begitu menyelimuti diri yang lemah ini, aku bertindak di luar batas kesopanan. Ditambah lagi, materi kajian yang bisa kubilang aneh. Tentu hal ini menjadi alasanku untuk mencela dan nyinyir.

Meskipun demikian, aku tetap saja pergi mengaji dengan beberapa orang yang tidak aku kenal. Ada sesuatu yang membuatku kagum terhadap guru ngajinya. Menurutku, ia luar biasa.

Bagaimana tidak? Ia  hanya lulusan SMA, tetapi wawasannya di atas kemampuanku. Sedangkan aku yang S1 saja tidak sehebat dia. Kondisi itulah yang akhirnya membuatku selalu ingin bertemu dan terus belajar denganya sampai detik ini.

Alhamdulillah … saat ini aku masih tetap mengkaji Islam dan bersama suami meniti jalan dakwah. Kini, hari-hari kami serasa penuh makna, dihiasi canda dan tawa. Hingga pada suatu ketika, aku bertanya pada suami, amalan apa yang dia lakukan hingga mampu membalikkan hatiku.

Beliau mengatakan bahwa, tidak ada amalan khusus selain kesabarannya dan doa tulus yang terus dipanjatkan kepada Allah Swt. supaya aku menjadi istri yang menyenangkan jika dipandang. Alhamdulillah, kini rumah tangga kami tentram dan nyaman, diwarnai dengan keimanan. Semoga kita selalu berada dalam ketaatan hingga ruh terlepas dari raga ini. Aamiin..[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Saat Pasangan Menjadi Penghalang Ketaatan
Next
PPN Naik, Rakyat Kembali Menjadi Korban
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram