Di Jalan Ini Kita Berjumpa

"Salah satu naskah Challenge ke-3 NarasiPost.Com dalam rubrik True Story yang mendapatkan nilai cukup tinggi."


Oleh: Hazimah Wangi

NarasiPost.Com-Dik Salma sudah ada calon?” tanya Ustaz Ahmad tanpa basa basi.

Senyum lebarnya membuatku tersipu. Kualihkan pandangan kepada Ustazah Kamila, istri beliau yang duduk di sampingnya. Ustazah pun hanya tersenyum simpul kepadaku.

“Belum, Ustazah,” jawabku pelan, tertunduk. Semburat merah dan sensasi hangat muncul dari kedua pipiku, malu.

Wah, kebetulan sekali!” seru ustadz Ahmad girang mengagetkanku. Aku terperangah, tak memahami maksud di balik ucapannya.

Sebentar, ya.” Ustadz Ahmad berkata seraya bangkit ke luar ruangan.

Musim dingin bulan Juli tahun ini terasa begitu menusuk. Ditambah beberapa hari belakangan, hujan tumpah tiada henti. Berbeda dengan Brisbane, kota yang lebih hangat di mana aku menimba ilmu,  meneruskan master degree dengan bekal beasiswa. Angin winter Sydney membuatku membeku.  Kurapatkan tubuh ke mesin pemanas yang ada di sudut ruangan.

“Minum hot chocolate dulu, Salma.”  Ustazah Kamila mendekatiku sambil menyodorkan secangkir minuman hangat kesukaanku. 

Sudah dua hari aku menginap di rumah pasangan ustaz dan ustazah yang baik hati dan terkenal sangat peduli kepada siapa saja, termasuk pendatang baru atau para student. Kedatanganku ke kota metropolitan ini dalam rangka ingin berjumpa dengan saudara-saudara seiman, sekaligus mengisi liburan semester. 

Bukannya tidak ada muslim di Brisbane, tetapi aku ingin melihat bagaimana suasana kehidupan di kota dengan jumlah muslim terbanyak di benua Kangguru ini.

Tiba-tiba Ustaz Ahmad masuk kembali.  Seorang pemuda berkulit terang terlihat mengikuti dari belakang. Sesaat kemudian, keduanya sudah duduk di hadapanku dan Ustazah Kamila. Aku merasa agak gugup. Serta merta kuperbaiki posisi duduk.

“Kenalkan Dik Salma, ini Akhi Henry.” Ustadz Ahmad membuka perbincangan dengan senyum khasnya.

Assalamualaikum,” sapa akhi Henry ramah.

“Waalaikumussalam warahmatullaahi wa barakatuh,” balasku datar. Aku tertunduk, menghindari sorot mata yang agak sipit itu.


Tak berkedip, kubaca berulang-ulang file attachment yang baru saja dikirimkannya ke emailku. Biodatanya OK. Ia baru menyelesaikan program registered nurse beberapa bulan lalu dan sudah bekerja sebagai karyawan casual di sebuah rumah sakit. Dan yang paling menarik, ia sudah mulai aktif ngaji. Ini poin terpentingku.

Kutatap untaian kalimat indah di halaman berikutnya. Cita-cita,‘Ingin berjuang di jalan Allah dan memperoleh syahid di dalamnya‘. Kriteria istri,’Wanita yang bisa menguatkan perjuangan dan bisa mengajak ke surga, mendidik anak-anak yang  saleh dan salehah’. Aku tersenyum bahagia di dalam hati. Apakah dia jodohku?

Kubuka laman word baru. Jari-jemariku mulai aktif di atas keyboard laptop merangkai kata-kata biodataku.

Cita-cita,‘Hidup mulia atau mati syahid‘. Kriteria suami,‘Lelaki yang istikamah di jalan Allah, yang bisa menggandeng tanganku dan anak-anakku menuju jannah-Nya’. Dengan hati berdebar kubalas emailnya dengan attachment biodataku.

Ya Allah, jika dia memang jodohku, mudahkanlah. Jika dia bukan yang terbaik untukku, sabarkan hatiku dan berikanlah pengganti yang lebih baik, doaku mengiringi setiap istikharahku.


Alhamdulillah, proses khitbah berjalan cukup lancar. Kedua orang tuaku merestui. Begitupun ibunya. Meskipun sempat hinggap  keraguan di hatiku untuk menerimanya, tetapi dia berhasil meyakinkanku bahwa dia adalah yang terbaik untukku.

Akhi, sepertinya kita tidak berjodoh. Banyak hal di antara kita yang sulit untuk dipertemukan. Suku Minangku sepertinya membuat ibumu ragu. Sementara darah Palembangmu mengkhawatirkan bagi ibuku. Ibumu takut, gadis Minang akan menguasaimu, sementara ibuku membayangkan lelaki Palembang akan bersikap keras dan kasar kepadaku,“ ungkapku waktu itu melalui pesan singkat telepon genggam.

Akhi, sulit sepertinya bagi kita untuk meneruskan. Beasiswaku mengharuskanku untuk kembali ke Indonesia minimal dua tahun. Apakah kita akan berpisah setelah menikah?” keluhku di saat yang lain.

Akhi, silakan engkau cari Salma yang lain, yang lebih baik dan tepat untukmu. Mungkin aku bukan yang terbaik untukmu,” ucapku kala itu, setelah beberapa bulan istikharahku.

Namun, dia terus berusaha meyakinkan dan menyemangatiku. Semua halangan tersebut akan bisa diatasi. Hanya butuh menjelaskan dengan penuh kesabaran kepada orang tua. Toh bukan masalah  prinsip yang menjadi penghambat. Begitu gigih ia menguatkanku, hingga akhirnya kami pun sama-sama berhasil melalui itu semua.

Tanggal pernikahan pun telah disepakati. Liburan summer awal tahun depan, kami akan berjumpa di Padang, kota asalku, beberapa hari sebelum akad nikah. Cukup mendebarkan, karena aku dan keluargaku belum pernah berjumpa dengan keluarganya. Begitu juga sebaliknya. Hari itu akan menjadi penentu akhir nasib rencana pernikahan kami.

Aku terus berdoa dalam salat-salat istikharahku. Jika ia jodohku, mudahkanlah, ya, Allah. Jika bukan dia, sabarkanlah dan berikanlah ganti yang lebih baik untukku. Karena bagiku, sebelum terjadi akad nikah, tidak ada jaminan bahwa kami benar-benar berjodoh. Allah-lah yang Maha membolak-balikkan hati. Dan aku sangat yakin bahwa Dia telah menetapkan pasangan bagi setiap hamba-Nya.


Sudah tiga belas tahun aku menyandang gelar bidadari dunianya. Setidaknya, itulah yang sering ia ucapkan pada setiap tanggal kelahiranku. Selama sepuluh tahun hidup bersama, setelah tiga tahun sebelumnya kami harus menjalani long distance relationship, banyak hal suka dan duka yang telah kami lalui. Semua itu menjadi penguat dan pengokoh ikatan suci yang ingin kami bawa hingga kehidupan kedua.

Teringat bagaimana dulu Allah lancarkan dan mudahkan acara pertemuan dua keluarga yang sama-sama asing. Pertama kali berjumpa, mereka seperti sudah menjadi satu keluarga, seolah-olah hati-hati mereka terpaut, begitu indah.

Dan ketika akad nikah terucap dari bibir ayahku dan dirinya, saat itulah aku baru  betul-betul  yakin dia adalah jodoh yang Allah pilihkan untukku. Dia adalah yang terbaik buatku karena Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Namun, setelah akad itu usai, aku dan dia harus sama-sama menyiapkan diri untuk kuat menahan perpisahan sementara. Karena setelai selesai studi, aku harus kembali dan melanjutkan pengabdianku di kampus tempatku mengajar. Masih terbayang kesedihan yang kurasakan saat itu ketika harus meninggalkan dia berjuang sendiri di kota penuh ujian ini. Akan tetapi, ini adalah konsekuensi yang sudah kami sepakati di awal pernikahan dulu.

Selama kesendirianku, terus terngiang apa yang tertulis di biodatanya dan biodataku pada awal masa khitbah dulu. Sampai kapan aku dan dia akan berpisah? Apakah harus menunggu sampai aku pensiun dari pekerjaanku? Kalau demikian, lantas apa makna pernikahan yang kami jalani ini? Tidak ada saling menjaga, saling menguatkan dalam perjuangan, saling menasihati dan mengingatkan serta saling memenuhi hak dan kewajiban.

Aku merasa berdosa, tidak menepati azzam yang telah kupatri di dalam hati sejak pertama kali mengkaji fikih munakahad sebelum pernikahanku.

Mohon ridanya, Ayah. Aku ingin mengundurkan diri dari kampus demi memenuhi kewajibanku terhadap suami dan putraku,” ucapku waktu itu kepada ayah di saat usia sulungku masih satu setengah tahun.

Sudah kupikirkan dan pertimbangkan dengan matang bahwa aku harus fokus dan total kepada prioritas yang utama, yaitu suami dan anak-anakku kelak. Jika tidak segera kuputuskan sejak awal, hatiku akan terus terbagi antara pekerjaan, anak, suami dan aktivitas perjuangan bersama teman-teman.

Tak satu pun dari hal-hal tersebut yang bisa kucurahkan sepenuh hati karena separuh napasku terbang ke seberang benua. Jiwaku senantiasa gelisah.

Kini setelah hidup bersama, perasaanku menjadi tenang. Hatiku semakin yakin.  Suamiku, di jalan ini kita berjumpa dan semoga di jalan ini pula kita akan berpisah untuk kembali bersatu di istana keridaan-Nya. Aamiin.[]


photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Al-Qur'an, 'Beyond Inspiration' bagi Literasi Peradaban Sepanjang Zaman
Next
Titik Nadir
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram